Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Perjalanan ini akan aku kenang selalu (Editan)

**05/01/2012**
Aku bangun tidur lebih pagi, semalam baru saja tiba di sebuah rumah kontrakan milik kawanku di daerah Depok, Jawa Barat. Aku langsung bersiap untuk segera berangkat menuju LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara) di Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Tujuanku adalah menyerahkan proposal permohonan Kerja Praktek atau dikenal juga dengan istilah magang. Kerja Praktek adalah salah satu tugas yang diberikan oleh fakultas sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana.
Sebelum berangkat, aku sempatkan sarapan agar mendapatkan energi selama perjalanan. Setelah itu aku masuk ke sebuah Warnet terdekat  untuk mendapatkan alamat LAPAN dan mengecek rekening dengan harapan Dani kawan satu kontrakan di Yogyakarta telah transfer uang. Sialnya Dani belum melunasi hutangnya, sementara uang di dompet tersisa Rp.26.000,-  Dalam perjalanan uang menjadi sangat penting.
Aku mencoba menghubungi Dani dan kawan satu kontrakan lainnya melalui Facebook dan Yahoo Messengger dengan maksud meminta nomer handphone Dani. Handphone yang biasa aku gunakan rusak, phonebook handphone baru terisi sedikit. Lama menunggu tidak ada balasan. Wajar saja, karena ketika itu masih pagi, mungkin kawan-kawanku masih tidur atau sudah melakukan aktivitas lainnya. Tak lama berselang, aku ingat, seluruh kontak di handphone lamaku tersimpan di dalam akun Gmail, karena handphone rusaku bersistem operasi Android dan secara otomatis dapat menyimpan kontak pada server Google. Aku dapatkan Kontak Dani namun tak bisa dihubungi. Kemudian aku hubungi Ari kawan sekontrakan lainnya dan langsung menyampikan maksudku.
Setelah aku cari, LAPAN berlokasi di Bogor, maka aku berkesimpulan untuk berangkat ke Bogor. Karena di sana cukup dekat dengan stasiun KRL, aku putuskan untuk menggunakan sarana transportasi tersebut.
Sekitar pukul 9.00 tiba di stasiun KRL UI, kemudian membeli tiket jurusan Bogor. Penjaga tiket menyodorkan tiket kereta ekonomi seharga Rp.2.000,- Aku merasa malas jika berdesakan di dalam kereta kelas ekonomi. Pikirku ini adalah waktu dimana orang-orang berangkat menuju kantor, biasanya KRL ekonomi padat sampai atap. Aku tukarkan dengan tiket kereta Commuter Line seharga Rp.6.000,-. Tidak lebih dari 3 menit, kereta ekonomi jurusan Bogor tiba dengan muatan kosong, tebakan meleset!
Setelah menunggu sekitar 15 menit KRL Commuter Line tiba. Selama perjalanan ke Bogor, aku sempatkan membaca buku biografi singkat Mohammad Hatta karangan Salman Alfarizi, mencoba mengisi waktu luang di dalam kereta sepi yang cukup nyaman itu.
Setibanya di stasiun Bogor, aku mencari tempat membeli minum karena merasa kehausan sekaligus mau bertanya tentang alamat yang akan dituju. Mampir di warung penjual mie rebus, lalu pesan es-teh dan bertanya tentang alamat pada orang-orang di sana. Orang pertama yang kutanya tidak bisa menjawab, tukang parkir yang juga sedang duduk di sana tak bisa menjawab juga. Barulah kemudian dari penjaga warung aku dapatkan keterangan bahwa tempat yang akan aku tuju sangatlah jauh.
“Masih satu kabupaten ini!” benakku. Anehnya seluruh orang yang aku tanya tidak mengerti persis letak LAPAN. Mereka hanya tahu  Rumpin, sebuah kecamatan di Bogor tempat LAPAN berada. Si penjaga warung itu menjelaskan tentang angkot-angkot yang harus aku naiki. Kira-kira begini: aku berjalan sampai di depan sebuah department store, lalu naik angkot dan turun di terminal Laladon, kemudian naik lagi angkot  jurusan Leuwih Liang, dari sana naik lagi angkot jurusan Rumpin. Aku bayar es-teh seharga Rp.2.500,- harga yang cukup mahal dibandingkan harga es-teh di Jogja dengan kisaran Rp.1.500,-
Perjalanan ke Laladon tidak terlalu lama, kemudian dari Laladon menuju Leuwih Liang menyita waktu lebih dari 1 jam dengan jalan macet dan penumpang yang saling berhimpitan, suasana menjadi panas. Aku  mulai bosan dengan perjalanan ini. Sesampainya di Leuwih Liang aku sempatkan ke masjid terdekat untuk sejenak istirahat dan berjamaah shalat dzuhur sekalian shalat jamak ashar. Ketika adzan berkumandang, kota Bogor di guyur hujan, tanpa sadar sepatuku basah terkena genangan air walau sudah aku pindahkan ketempat yang beratap.
Selesai shalat, hujan masih mengguyur dengan deras, setelah bosan menunggu hingga pukul 13.00, aku nekat lanjutkan perjalanan. Hujan tidak terlalu deras hanya kondisi jalan menjadi sangat becek. Sepatu hingga kaos kaki yang aku pakai dalam kondisi basah, sangat tidak nyaman.  Apa boleh buat, Perjuangan tetap harus dilanjutkan!
Berjalan tidak terlalu jauh untuk dapati angkot jurusan Rumpin. Angkot masih menunggu penumpang lainnya, setelah terisi setengah, angkot berangkat. Kondisi Bogor kembali diguyur hujan deras. Angkot berjalan menyusuri jalan kecil, menanjak dan menurun. Di sekitar sana aku melihat pemandangan pegunungan yang sangat indah, keindahannya bertambah karena suasana hujan.
 “kiri bang!” serorang Ibu ingin turun dari angkot, namun karena kondisi angkot menanjak, sang Sopir tidak menghentikan angkot karena ada resiko angkot mundur dan tergelincir.
“Sebentar bu lagi nanjak.” Sang sopir menangguhkan permintaan ibu tersebut.
“Ah inimah sama aja naik angkot dengan jalan kaki. Sama-sama kehujanan! kalau begini bayar 2 ribu aja lah!” Si ibu protes karena angkot mungkin terlalu jauh dari tempat seharusnya dia turun. Si-Ibu benar-benar hanya membayar Rp.2.000,- padahal dia beserta seorang anak perempuan yang sudah dewasa dan seorang anak perempuan yang masih kecil.
“Astagfirullah Hal Adzim, ketemu yah saya sama orang kayak gitu!” Seorang Ibu-ibu yang lebih muda berkomentar setalah Ibu yang tadi turun.
“Gak tau agama.” Cetus sang Sopir.
“Dia gak tahu kalau sopirnya Kiai.” Ibu yang duduk di depan juga ikut berkomentar, sang Sopir hanya tersenyum. Aku hanya terdiam tidak ikut komentar.
Penumpang satu persatu turun, ketika ibu yang duduk di kursi depan turun, aku diminta oleh sang Sopir pindah kedepan.
“Sini dek di depan!” Pintanya dengan ramah.
Aku berpindah kedepan, tak lama berselang di tengah gerungan suara angkot, seorang ibu  di belakang meminta nasihat pada sang Sopir.
“Ini mas saya sedang punya masalah, suami saya jarang pulang, apa kira-kira doa yang bisa saya baca mas.”
“Ehmm… baca saja Asmaul Husna” Sang Sopir menjawab.
“Yang mana mas?”
“… Ini aja, baca ya Razzaq sebanyak 121 kali setelah shalat setiap hari, Insya Allah nanti rezekinya lancer.” Sang sopir mengucapkan kata ‘lancar’ dengan ‘lancer’.
“Sayamah tidak ada masalah dengan rezeki, hidup saya sudah cukup.”
“Kan rezeki itu bukan hanya uang, tapi kekeluargaan, kesehatan, kedamaian itu juga merupakan rezeki.” sang Sopir buat penjelasan yang masuk akal.
“Oh iyah yah mas.”
Sang Sopir menambahkan doa pembuka (muqadimah) dalam bahasa arab sebelum amalan itu dikerjakan, aku dengar dengan seksama tanpa mampu menghafalnya. Aku mendengar sanjungan kepada Nabi Muhamad SAW pada muqadimah tersebut, lalu mendegar sanjungan pada Syakh Abdul Qadir Jaelani. Setelah ibu itu turun,  aku tanyakan pada sang Sopir mengapa kita perlu memuji Syakh Abdul Qadir Jaelani.
“Beliau itu orang suci dan alim, kita menjadikan dia sebagai perantara doa kita kepada Gusti Allah.” begitu kira-kira sang sopir menjelaskannya. Meskipun penjelasan itu masih mengganjal di benak, pertanyaan tidak aku lanjutkan demi menghindari perdebatan.
Perjalanan berlangsung sekitar 1 jam lebih, jalanan banyak berlubang tertutup genangan air. Sesekali angkot bergoyang karena sang Sopir dengan percaya diri melindas lubang-lubang itu. Sempat aku lihat hutan karet yang tertata dengan rapi menghadirkan pemandangan simetris. Dari kejauhan terlihat bukit-bukit berwarna kebiruan dengan awan mendung kehitaman di atasnya. Kabut tipis menyelimuti sebagian pemandangan yang aku saksikan. Aku menikmati perjalanan itu meski kondisi yang dingin dan sepatu basah yang tidak nyaman.
Sampai di Rumpin aku kembali dalam kebingungan, beberapa ojek menawari aku tapi aku tolak. Kemudian aku bertanya pada penjaga sebuah toko pulsa, dia tidak tahu menahu. Aku tanyakan pada seorang pemuda, juga tidak tahu tentang dimana LAPAN berada. Sempat terbesit dalam benaku bahwa aku tersesat!
Setelah aku tanyakan pada seorang Ibu penjaga toko kelontong, beliau menjelaskan bahwa tidak ada kendaraan dari sini selain ojek yang bisa sampai di LAPAN. Sang Ibu jelaskan bahwa perjalanan masih jauh, dengan jalanan terjal dan buruk. Mampus! Dalam benaku. Ongkos ojek akan sangat mahal pastinya, sedangkan uang di dalam dompet tersisa Rp.9.000,- karena belum sempat mengambil uang di ATM meski temanku telah kabari bahwa uang sudah terkirim. Aku lihat sekitar, disana tidak ada ATM. Tempat itu hanya sebuah desa dengan terminal angkot yang  kecil, sekitar setengah lapangan bola. Kemudian ibu itu beri saran agar aku menuju Parung dengan angkot. Aku tanyakan apakah ada ATM disana, ibu itu menjawabnya dengan ada. Syukurlah, dalam benaku. Aku sudah berada di kecamatan yang dituju, dan ketika itu juga mendapatkan saran untuk kembali memutar, untuk sampai ditempat yang sebenarnya dituju.
Supir Angkot dalam perjalanaku ke Parung berbedan dengan Sang Sopir dari Leuwing Liang menuju Rumpin yang terkesan Religius. Dia lebih terkesan jenaka dan lucu beberapa kali aku tertawa karena candaannya, sempat juga si Sopir ikut berjudi togel dengan temannya.
“pasang 5 rebu aja yah! Serebu-serebu tuh, jadinya 5 gua pasang!” Si sopir turut dalam judi kelas kampung yang murni bertumpu pada keberuntungan.
Parung ternyata daerah persinggahan yang cukup besar, maksudnya bukan luasnya yang besar, tapi banyak gedung besar jika dibandingkan dengan Rumpin. Aku sempatkan mengambil uang untuk mencukupi ongkos perjalananku, sempat aku tanyakan pada seorang polisi di dekat sebuah ATM. Dia jelaskan tentang kendaraan-kendaraan yang harus aku naiki. Aku nilai dari penjelasannya, bahwa perjalananku masihlah panjang! Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 mungkin orang-orang di  LAPAN sudah bersiap untuk pulang!
Dari parung aku menaiki bis kecil sebesar Kopaja Jakarta ke arah Serpong. Di dalam bis aku duduk paling belakang, pojok paling kiri persis disamping pintu bis yang terbuka. Andai bis ini bertabrakan atau tergelincir, aku pikir mudah bagiku untuk mati. Di tengah hidup yang sulit ini, mengingat mati cukup menenangkan.
Aku sedang dalam kondisi sulit, andaikan ketika itu kematian terjadi, maka kesulitan hilang begitu saja. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara aku mati. Ketika itu aku sedang dalam perjalanan yang  bersangkutan dengan urusan menimba ilmu. Aku pikir itu adalah salah satu pengabdianku atas perintah Allah SWT. Maka ada kesempatan besar untuk mendapatkan tempat yang baik disisinya kelak di akhirat.
Mengingat kematian adalah cara untuk menenangkan diri sendiri disaat tertimpa masalah. Aku merasa kasihan pada orang yang tertimpa masalah besar, dan akan merasa lebih kasihan lagi ketika dia jatuh pada perkara yang lebih merugikan misalnya jatuh pada ke-musryikan. Apakah dia tidak mengetahui, bahwa ada tempat yang baik di akhirat bagi orang-orang sabar. Dan hanya tersisa neraka bagi dia yang menyekutukan Allah SWT. Kesadaran itu akan memberikan kita kekuatan untuk berbuat yang terbaik disaat kondisi tersulit dalam hidup. Meskipun begitu, aku tidak merasa bahwa kisah ini adalah kondisi tersulit yang pernah aku lewati.
Sesampainya di Serpong aku turun dari bis yang sebenarnya berakhir di Tanggerang, kemudian naik angkot ke arah Cikokol. Benar saja angkot melewati Jl.Lapan. LAPAN berada di Jl.Lapan no.2, Rumpin.
Perjalanan cukup lama menguras kesabaran. Sesampainya di gerbang LAPAN, aku masih harus berjalan sekitar 400m menuju kantor LAPAN. Ketika itu hujan rintik-rintik masih turun mungkin terjadi hampir diseluruh Bogor. Sepatu dan kaos kaki sudah basah sejak tadi, baju yang aku kenakan sedikit demi sedikit menjadi kuyup.
Aku sampai tepat di depan Pos Satpam LAPAN. Kemudian aku jelaskan maksud kedatanganku. Satpam jelaskan bahwa kantor sudah tidak ada orang sebagaimana dugaanku. Ketika itu waktu menujukan pukul 17.00 wajar saja!
Kebingungan kembali datang! Proposal itu ditujukan kepada bagian Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) LAPAN. Mana aku tahu kalau ternyata bagian itu masih sekitar 5km dari LAPAN yang aku datangi ketika itu. Keterangan aku dapatkan dari Satpam tersebut.
Aku bersikeras untuk titipkan saja proposal kepada satpam tersebut, dan meminta agar dia menyampaikannya besok. Dia bingung, karena sejak tadi aku menahan buang air kecil, aku potong perdebatan kami. Aku meminta izin untuk menumpang kamar kecil di pos satpam tersebut. Sekembalinya dari kamar kecil, aku lihat ada komandan satpam datang.
“Mending kamu langsung ke LAPAN di sana saja, kalau dititipkan disini, nanti bingung. Takutnya malah gak ada hasil, barang kali di sana masih ada orang, biasanya ada yang kerja sampai malam.” Komandan satpam berikan saran padaku.
Sudahlah, tanpa berfikir panjang aku turuti saja sarannya. Aku tanyakan tentang bagaimana aku sampai kesana. Dia berikan saran agar aku mencari ojek di jalan besar sebelum aku masuk gerbang LAPAN. Ujungnya aku tetap naik ojek! Meskipun sekarang tidak masalah, karena dompet sudah cukup terisi uang.
Sampai di jalan besar, tidak terlihat satupun ojek mangkal, hanya ada hamparan tanah luas yang rata, mungkin akan dibangun suatu bangunan di atasnya. Aku bertanya pada seorang, dia katakan agar aku naik angkot jika mau ke pangkalan ojek. Terpaksa aku naik angkot yang berlawanan arah dengan sebelumnya. Naik angkot untuk naik ojek, terdengar sedikit aneh.
Sesampainya di pangkalan ojek, tawar menawar tejadi:
“Lapan berapa bang?” Aku bertanya.
“20 rebu deh.”
“ kalo 15 rebu saya naik deh.” Dengan nada menawar.
“20 rebu ajalah.”
“Ok tapi bolak balik sampai sini lagi yah bang”
“Lama gak disana?”
“Egak, cuma kasih proposal doang, paling ke Satpam disana.”
 “Ayo deh!”
Setelah naik, aku baru ingat kalimat diatas masih rancu.
“Bang, bukan LAPAN sana loh bang, tapi LAPAN Pustekroket yang sananya lagi!” Aku mencoba menjelaskan.
“Wah kalau itu 20 rebu sekali jalan.”
“Ah elah beda 4-5km doang juga bang.” aku mencoba menawar kembali meski si Abang sudah tancap gas.
“25 rebu, ini lagi hujan.”
“Yah sama saya juga kehujanan bang!” Agak meninggi nada suara saya.
Sejenak kami terdiam.
“Ya udah deh bang 25 rebu bolak-balik” aku mencoba berbaik hati.
“Ayo deh” Si abang menjawab tanda sepakat.
Jika aku ingat-ingat, rasanya aku berhutang budi pada bapak itu. Dengan medan perjalanan yang cukup sulit ongkos Rp.25.000,- terlalu murah. Tawar menawar itu terjadi karena selain disebabkan si Abang itu butuh uang, aku butuh hemat, juga karena ada gengsi untuk memenangkan negosiasi.
Perjalanan memang cukup panjang, bukan karena jauhnya tapi kondisi jalan yang banyak rusak, ditambah si-Abang ambil jalan pintas yang belum ter-aspal. Beberapa kali kami tergelincir meski tidak sampai jatuh. Hujan rintik-tintik masih menemaniku, tak banyak percakapan yang terjadi dalam perjalanan menuju LAPAN Pustekroket.
Sesampainya di sana, aku berjalan tegap menuju pos satpam. Aku berjalan  bak jenderal bintang 5 yang baru saja pulang dari medan perang dalam kondisi menang.
“Selamat sore pak!” Satpam menyapaku, sekali ini aku disapa dengan sapaan untuk orang yang sudah tua. Aku langsung sampaikan maksud kedatanganku. Satpam jelaskan baru saja tadi beberapa pegawai pulang dari kantor. Waktu saat itu sudah menunjukan pukul 18.00. Jadi, total 9 jam aku habiskan untuk sampai ke LAPAN, sama  dengan perjalanan dari stasiun  pasar Senen ke Yogyakarta menggunakan kereta kelas Bisnis!
Aku titipkan saja proposal itu ke Satpam. seakan tak mau rugi dengan kesulitan yang sudah aku lewati, aku meminta tanda terima. Tapi satpam katakan tidak ada. Kemudian aku meminta kontak bagian Tata Usaha (TU) LAPAN untuk menanyakan proposal saya keesokannya apakah sudah diterima atau belum. Sayang satpam tersebut tak memilikinya. Salah seorang kawannya katakan bahwa dia memilikinya. Tapi HP miliknya tertinggal di rumah. Aku minta saja nomer HP-nya, agar besok bisa aku mintai nomor bagian TU LAPAN. Benar saja, esoknya dia berikan aku kontak bagian TU LAPAN dan dia juga sampaikan bahwa proposalku sudah masuk di bagian TU.
Jadi begitu saja hasil dari perjalananku, bertemu satpam kemudian titipkan proposalku, lalu melakukan cross check apakah proposal sudah masuk ataukah belum. Setelah itu tinggal menunggu jawaban apakah aku diterima atau tidak untuk Kerja Praktek di lembaga milik negara tersebut. Aku berharap untuk diterima, akan pecuma perjuanganku sejauh ini jika ditolak.
Dalam perjalanan pulang menuju pangkalan ojek, aku cukup banyak berbincang dengan tukang ojek tersebut.
“Mau Kerja Praktek saya disini bang, jauh juga saya jalan hari ini, dari stasiun Bogor sampai sini, berangkat jam 9 sampai jam 6 sore, gila!” Aku menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya oleh bapak itu.
“wah jauh banget dari Bogor!”
“Ternyata LAPAN di pedalaman yah bang.”
“Haha,, iyah.”
“Dataran tinggi disini yah bang?” aku bertanya.
“Iyah dataran tinggi.”
“Wah biar deket ke satelit kali yah, kan LAPAN kerjanya ngendaliin satelit tuh dari Bumi.”
“Haha,, iyah kali yah.”
“Saya sudah terlajur susah sampai kesini, kalau pepatah teman saya, kalau sudah kehujanan mandi sekalian, udah jauh perjalanan saya, mau gak mau deh saya lanjutkan.”
“haha,, iyalah.” Si abang tertawa dan setuju.
Selama perjalanan itu saya mencoba mencari informasi bagaimana sebenarnya rute yang harus saya tempuh dari Depok sampai LAPAN.  Juga saya tanyakan pada tukang ojek itu. Sesuai dugaan saya sejak dari perjalanan Leuwih Liang-Rumpin, jalan pulang dari LAPAN ke Depok tidak sejauh ketika berangkat. Penjelasan cukup jelas saya dapatkan dari supir angkot Rumpin-Parung. Seharusnya dari Depok saya naik angkot nomor 03 langsung menuju Parung! Dari Parung langsung menuju Serpong, terakhir naik angkot ke arah Cikokol. Sial memang!
Perjalanan pulang tidak selama berangkat, aku sampai Depok kurang dari 2 jam!
***06/01/2012****
Kulihat burung gereja terbang kemudian hinggap di atas genteng stasiun kereta api pasar Senen. Hari belumlah siang masih menunjukan pukul 8.00 pagi. Kurang dari 15 menit lagi kereta Saung Galih yang aku naiki akan memulai perjalanan. Aku merasakan sejuknya angin yang menerpa wajahku. Matahari belum terlalu panas membakar kulit, udara masih terasa segar. Inilah salah satu sudut kota Jakarta, kota seribu umat yang berjuang berebut nafas kehidupan.
Aku resapi nikmat tuhan tiada tara pagi itu. Aku tidak dapat menyangkal kasih sayang tuhan yang memberikan aku kehidupan dan memberikan panca indera sehingga dapat merasakan pagi yang begitu tentram menenangkan jiwa. Sejenak segala cobaan yang aku terima terlupakan begitu saja, hatiku menjadi tenang ketika bersyukur.
Meskipun masalah kembali menimpaku pagi itu. Aku terlambat datang ke stasiun karena kebodohanku menaiki KRL dari stasiun UI langsung menuju stasiun Pasar Senen. Rupanya rute kereta itu memutar melewati stasiun Tanah Abang. Pada akhirnya kereta itu lebih lambat dari rute yang biasanya aku lalui. Biasanya aku menaiki KRL dari depok jurusan kota, turun di stasiun Gambir, lanjut naik Mikrolet hingga sampai di pasar Senen, biasanya aku tiba kurang dari satu jam. pagi itu aku membutuhkan waktu untuk sampai Stasiun Senin sekitar 1,5 Jam membuat tiket kereta yang sudah aku beli seminggu sebelumnya hangus tak terpakai. Kerugian secara materi menimpaku lagi. Terpaksa aku membeli kerta Saung Galih jurusan Kutuarjo. Kereta Saung Galih adalah kereta kelas Bisnis karena tiket kereta kelas Ekonomi sudah habis terjual.
Baiklah tuhan, aku mengerti sekarang! Kau ajarkan aku berhitung dengan cobaan yang kau berikan. Kau paksa aku agar aku berpengetahuan. Sungguh jika aku tahu tentang semuanya tak akan sampai aku sesulit ini. untunglah kesulitan ini aku bawa sendiri, tanpa kawan, kekasih, keluarga, atau bahkan anak-anaku kelak. Tak ada siapapun yang aku sulitkan karena kebodohanku, hanya aku sendiri! Terimakasih tuhan kau berikan cobaan demi cobaan saat aku semuda ini. Aku bersyukur padamu tuhan.
Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun, dihadapanku duduk seorang bapak paruh baya. Aku buka perbincangan dengan menayakan hendak kemana tempat yang bapak itu tuju.
“Pulang kampung pak ke Purwokerto?” aku bertanya kembali setelah tahu dia hendak ke Purwokerto.
“Egak, ini anter kakak berobat. Dia sakit maag akut, Alhamdulillah sekarang sudah baikan setelah di terapi herbal oleh Dr.M.”
“Ohh.. Alhamdulillah yah pak.”
“Kamu mau kemana?”
“Saya ke Jogja pak, ini turun di Kutuarjo nanti lanjut pake kereta Pramex jurusan Jogja atau Solo. Itu dokter apa memangnya pak?”
“Dia sebenarnya ahli saraf, selain belajar di dunia akademis dia juga belajar pengobatan tradisional dari Cina. Sudah keliling dunia untuk belajar, sekarang juga keliling dunia untuk mengobati. Sekarang praktek di Purwokerto, dulu kakak saya gak bisa ngapa-ngapain, kerjanya hanya tidur! tapi sekarang sedikit-sedikit sudah bisa masak dan melakukan pekerjaan sehari-hari.”
“Berapa habis biaya untuk pengobatannya pak?”
“Wah sudah habis puluhan juta! Dulu pernah dirawat di rumah sakit, pernah juga dioperasi, tapi hasilnya kurang memuaskan. Alhamdulillah setelah di terapi sama Dr.M membaik.”
“Sehat memang mahal yah pak.”
“Wah iyah!”
Aku tertegun, sepertinya tuhan hadirkan pembicaraan ini agar aku bisa tabah pada cobaan yang tidak seberapa dibanding dengan cobaan orang lain yang lebih berat.
Bapak itu bercerita dengan semangat, suaranya keras-kerasan dengan bisingnya suara kereta ekonomi. Aku tertarik pada pembicaraannya, dengan gaya khas Jakarta dia bercerita sana-sini dari mulai dokter itu hingga hal ikhwal pengalaman kerjanya dan pengalaman ketika dia duduk di bangku kuliah.
Selang agak lama, aku pindah tempat duduk mencari tempat yang kosong untuk aku membaca dengan tenang. Aku harus selesaikan buku biografi singkat Mohamad Hatta 1902-1980. Besok aku akan menjadi moderator  bedah buku yang sedang aku baca.
Setelah selesai membaca buku yang menurutku cukup menarik, perjalanan menjadi sangat membosankan. Gelisah datang dari perut karena lapar, wadah itu belum terisi makanan dari pagi. Uang tersisa Rp.13.000,- hanya cukup untuk membeli tiket kereta Pramex nanti. Kemudian aku bingung dengan apa aku membayar jasa penitipan motor di stasiun Lempuyangan-Yogyakarta. Aku meminta bantuan pada seorang kawanku yang dulu selama lebih dari setahun kami saling cinta (you know I mean). Aku meminjam uang padanya, untunglah dia mengiyahkan. Dia gadis cantik yang masih aku cintai hingga kini dengan cara berbeda tentunya.
Sesampainya di Kutuarjo untunglah aku menemukan Mesin ATM di dekat Stasiun. Kalau tahu begini dari tadi aku gunakan sisa uang itu untuk makan! segera aku ambil uang itu, kemudian aku bayar tuntas jeritan perut kosong selama perjalanan.
Sesampainya di Lempuyangan aku ambil motorku yang sudah 6 hari aku titipkan disebuah penitipan Motor dekat stasiun, ketika keluar kurasa ban kempes. Aku mencari tukang Pompa.
“Bocor mas?”
“Egak pak, mungkin kempes aja.”
“Bisa di pompa pak?”
“Iyah coba aja.”
Ternyata di pompa tak berhasil, artinya ban motor itu bocor. Ah, aku sudah selelah ini masih saja ada masalah datang.
Ban di tambal, aku menunggu dengan sabar. Setelah selesai kembali muncul masalah.
“Wah ini bocornya banyak mas, ada 3, ganti aja pake ban dalam bekas, cuma nambah 5 ribu, dari pada mas-nya tambal semua, habis 15 ribu kan?”
“Ya sudah ganti saja pak, gak ada yang baru sekalian pak?” Aku tak mau ambil sulit lagi.
“Gak ada di sini, yang penting mas-nya sampai rumah dulu, nanti setelah itu mau di ganti yang baru gak apa-apa.”
“Iyah-iyah pak.”
Aku sampai rumah kontrakan dan langsung terkapar. Tidurku malam itu NYEYAK sekali, mungkin karena lelah.
-Ada pelajaran dalam setiap perjalanan-
*Beberapa tokoh dalam cerita itu bukan nama sebenarnya. ‘Aku’ dalam cerita itu juga tidak sebenar-benarnya menggambarkan tentang sosok penulis.
Iklan
Standar