Cerpen, Pemikiran

Tahu saja tidak cukup (Mengambil pelajaran dari dongeng Clever Hans karya Brothers Grimm)

Untuk beberapa kepentingan, saya mendengar dongen-dongen bahasa Inggris (fairy tales), tidak sering, kadang-kadang saja kalo sedang mod atau sedang tidak bisa tidur. Biasanya, setelah fokus memperhatikan kata-kata demi kata yang tertutur dari narator, kantuk tiba-tiba datang tanpa di undang. Karena mendengar, dan sedikit banyak dapat  memahami maksud dari si pendongeng, beberapa dongen  meninggalkan kesan bagi saya.

Satu diantaranya dongeng yang berjudul “Clever Hans” karya Brothers Grimm (Wilhelm Grimm & Jacob Grimm). Dongeng sederhana tersebut menceritakan seorang laki-laki bernama Hans yang mengunjungi tunangannya bernama Gretel setiap hari. Setiap dia mengunjungi Gretel, Hans tidak membawa apapun, sebaliknya Gretel memberikan sesuatu padanya untuk dibawa pulang. Dibawah ceritanya, disarikan dari tulisan aslinya.

**

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah jarum pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans memasukan jarum kedalam gerobak berisi jerami dan membawanya ke rumah. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah jarum.”, “Dimana jarum tersebut Hans?”, “Di gerobak jerami.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menyelipkan jarum di lengan bajumu hans.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah pisau pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans menyelipkan pisau di lengan bajunya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah pisau.”, “Dimana pisau tersebut Hans?”, “Di lengan bajuku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menyimpan pisau di sakumu.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan se-ekor  kambing pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans meletakan kambing tersebut di kantongnya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah pisau.”, “Dimana pisau tersebut Hans?”, “Di kantongku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya membawa se-ekor kambing dengan tali yang terikat di lehernya.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sepotong daging pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans mengikat sepotong daging tersebut dengan tali dan menyeretnya, sehingga segerombol anjing datang dan memakannya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku sepotong daging.”, “Dimana sepotong daging tersebut Hans?”, “Aku ikat dengan tali, dan segerombol anjing memakannya.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya memanggul sepotong daging diatas kepalamu.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah se-ekor anak sapi pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans memanggul anak sapi tersebut di kepalanya, sehingga kaki anak sapi itu menendang-nendang kepalanya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku se-ekor anak sapi.”, “Dimana anak sapi tersebut Hans?”, “Aku panggul diatas kepalaku dan kakinya menendang-nendang kepalaku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menggiring anak sapi itu sampai kedalam kandang.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel menjawab: “Bawa aku bersamamu Hans.”

Hans membawa Gretel, mengalungkan tali ke lehernya, menggiringnya sampai kandang, dan mengikatnya dengan cepat, dan pergi menemui ibunya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia tak memberikan apapun, dia datang bersamaku.”, “Dimana kamu tinggalkan Gretel?”, “Aku mengalungkan tali ke lehernya, menggirinya sampai kandang, mengikatnya disana, dan memberinya seikat rumput.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya bersahabat dengannya.”, “Aku akan lebih baik.”

Hans pergi ke kandang, memenggal sapinya, mencongkel mata kambingnya, dan melemparkan semuanya pada Gretel. Gretel jadi marah, melepas ikatannya sendiri dan berlari untuk melarikan diri.

Begitulah Hans kehilangan tunangannya.

***

Begitulah ironi Hans yang pintar, meletakan jarum di tumpukan jerami, meletakan pisau di lengan baju, meletakan kambing di saku, mengikat daging dengan tali, memanggul anak sapi di kepala, dan membawa Gretel sebagaimana dia membawa barang sebelum-sebelumnya.

Hans yang pintar serta merta menuruti nasihat ibunya, tanpa menggunakan kebijaksanaannya sediri untuk melihat lebih dalam suatu masalah.

Bagi saya cerita itu adalah permisalan bagi seorang yang pintar tapi tidak cerdas. Menghafal segalanya, namun tidak menggunakan akalnya untuk melakukan tindakan kreatif yang lebih tepat dalam menghadapi masalah.

Hans adalah permisalan orang yang unggul dalam otak kiri, lemah di otak kanan. Hanya pintar mengingat namun tidak dapat berpikir abstrak.

Setidaknya cerita itu mengajarkan pada saya bahwa sesungguhnya ‘tahu’ saja tidak cukup. Mungkin perlu di tambah ‘tempe’. hehe

Iklan
Standar