Just Write, Pemikiran

Cara Baru Belajar Bahasa Asing

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, bahasa asing telah menjadi salah satu mata pelajaran. khususnya bahasa Inggris, bahasa yang dijadikan alat komunikasi antar bangsa di seluruh dunia. Pelajaran itu tetap ada di bangku sekolah menengah hingga bangku kuliah. Lamanya waktu yang telah dilewati seorang dalam mempelajari bahasa asing harusnya memberikan hasil yang baik ditandai dengan cakapnya seorang dalam memahami dan menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Kenyataannya tidak demikian, terbukti dengan banyaknya lembaga kursus bahasa asing, seolah-olah menyatakan bahwa pelajaran bahasa asing di sekolah umum telah gagal atau paling tidak belum mencukupi.

Baik sekolah dasar atau lembaga kursus bahasa asing sering kali hanya menyiapkan para murid untuk lulus dalam berbagai macam ujian. Kenyataannya, nilai yang bagus tidak menjamin kemampuan komunikasi yang baik. Mereka menggunakan pendekatan gramatika, padahal komunikasi sehari-hari terutama komunikasi lisan, tidak memberikan banyak waktu untuk memikirkan kaidah tata bahasa atau kosa kata yang tepat ketika berbicara. Semua keluar begitu saja melalu proses kreatif dan seketika (refleks). Beberapa penelitan terkait proses belajar bahasa asing melalui pendekatan gramatika menyatakan bahwa metode ini mendekati angka 95% telah gagal meningkatkan kemampuan berbahasa asing seorang.

Pada tahun 1997 pertama kali terbit buku tulisan Dr. James Asher berjudul Learning Another Language through Actions. Dr. James Asher membuat program pelatihan bahasa TPR (Total Physical Response). Program tersebut lahir dari hipotesa yang menyatakan bahwa otak dan sistem saraf manusia secara biologis diprogram untuk merespon bahasa, keduanya bekerja untuk menyinkronkan bahasa dengan tubuh manusia dalam urutan mendengar lalu berbicara.

Teknik yang digunakan dalam TPR menyerupai teknik belajar bahasa asli kita. Terdapat beberapa urutan dalam proses belajar bahasa, pertama mendengar lalu bicara, setelah keduanya dikuasai dilanjutkan dengan membaca dan menulis. Sebagai contoh seorang balita, sebelum dapat berbicara dia sudah dapat merespon perintah melalui ucapan. Ketika dikatakan “Ayo tepuk tangan!”, seorang balita meresponnya dengan menepukan kedua tangannya. Setelah berjalan sekian lama sekitar 12 sampai 18 bulan, tanpa diajari bagaimana menyusun kata sesuai kaidah, pembicaraan anak kecil sudah dapat difahami. Jika diasah terus menerus kemampuan membaca dan menulisnya akan berkembang secara alamiah. Fakta ini menjadi dasar cara baru dalam mempelajari bahasa asing, mendengar adalah fokus utama dan pertama.

Di pasaran, beberapa program belajar bahasa seperti TPRS, Focal Skills, ALG, The Natural Approach, dan The Effortless English pada intinya menggunakan dasar yang sama dan menghindari cara-cara lama yang sering kali membuat stres para murid. Cara ini seperti membalikan proses cara tradisional dalam mempelajari bahasa, yang biasanya dimulai dari mempelajari tata bahasa. Ilmu tata bahasa tidak terlalu dibutuhkan sampai seorang memang hidup untuk meneliti itu. Seiring berjalannya waktu, seorang pendengar yang baik akan mampu berbicara dengan baik, seorang pembaca yang baik juga akan melahirkan tulisan yang baik. Tanpa harus repot belajar dan mengerjakan soal ujian bahasa, kemampuan berbahasa akan datang secara alamiah.

Standar