Uncategorized

….

Aku pernah mendengar, salah jika kita tancapkan bendera di atas gunung, siapa yang akan lihat. Tancapkanlah bendera di tepi pantai, biarkan para pelaut hebat tahu bahwa ini daerah di bawah kuasa kita. Aku sendiri beberapa kali mendaki sebuah gunung, ada kebanggaan tersendiri jika sampai di atas puncak dan kembali dengan selamat, namun rasanya itu tidak ada bandingannya dengan pelaut yang berani mengarungi samudera. Gunung bagaimanapun adalah tanah, tempat kita dapat hidup, makan, dan kembali. Samudera sejauh mata memandang adalah air, dengan gelombang yang tinggi, kadang badai menerjang, dan hanya dek kapal yang dapat dipijak.

Tantangan itu mungkin cerita lama, saat ini kapal sudah semakin besar, dengan lapisan baja siap menerjang gelombang bagaimanapun besarnya. Tapi tetap prinsip bahwa bangsa yang menguasai lautan adalah bangsa yang menguasai seluruh dunia masih berlaku.

Ingatanku kembali pada masa kejayaan maritim nusantara, andaikan ketika itu kekuasaan bangsa Nusantara sampai di daratan eropa, akan berbeda sejarah umat manusia. Sayang ketika itu bangsa eropa yang terlebih dahulu menerjang samudera dan memiliki senjata hebat yang kita sebut ‘meriam’ diambil dari kata ‘maryam’ ibunda Nabi Isa. Munculah imperialisme di tanah Nusantara, suatu yang menghisap banyak kekayaan bangsa. Mungkin suatu saat kejayaan nusantara bisa bangkit, dengan persenjataan perang yang kuat bukan untuk menawarkan perang tapi menawarkan perdamaian.

Maka beruntunglah kau yang hidup dengan deburan ombak, yang kuat menyelami dalamnya laut. Mari berjuang mengembalikan kejayaan Nusantara tempo dulu.

Iklan
Standar
Uncategorized

Sekali Lagi, Kedaulatan Pangan!! (Jarak antara produksi dan dagang)

Akibat ketertarikan saya pada dunia ekonomi, maka secara sengaja saya membeli buku karangan Ahmad Erani Yustika, Ph.D berjudul ‘Ekonomi Politik, Kajian Teoretis dan Analisis Empiris’. Meski belum habis baca buku ini, bolehkan saya berbagi bagian yang membuat saya tertarik, mungkin karena minat saya pada dunia tersebut.

Pada bab IV yang berjudul Ekonomi Politik Globalisasi, beliau menuliskan tentang perbedaan pendapat para ekonom tentang globalisasi, dari definisi hingga pengaruhnya terhadap negara-negara yang terlibat. Walau penulis sebenarnya hanya memaparkan pendapat dari para ekonom, namun tetap saja saya sampai pada kesimpulan bahwa negara ini dan negara-negara berkembang lainnya memang mendapatkan banyak kerugian dari globalisasi. Selalu yang diuntungkan atau lebih diuntungkan adalah negara-negara maju. Memang konsep akan globalisasi berasal dari mereka, yang sebenarnya konsep ini di gembor-gemborkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan di setiap negara baik maju, berkembang atau terbelakang. Saya tahu itu kesimpulan seorang awam, toh saya juga bukan ekonom.

Sampailah saya pada tabel berisi 10 perusahaan multinational corporations (MNCs) yang menguasai sektor pangan global dari hulu hingga hilir. Ada beberapa kesimpulan pribadi yang saya tarik dari data tersebut. Berikut data tersebut yang dikutip dari Kompas, 1 September 2008.

 – Industri Input Pertanian: 10 perusahaan menguasai penjualan senilai US$ 40 miliar. Lima besar perusahaan tersebut: Syngenta, Monsanto, Bayer Corp, BASF AG, Dow Agro.

– Pengolah Pangan dan Pedagang: 10 perusahaan menguasai penjualan senilai US$ 490 miliar. Lima besar perusahaan tersebut: Nestle, Cargill, ADM, Unileber, dan Kraft Foods.

– Pengecer Pangan: 10 perusahaan menguasai penjualan eceran senilai US$ 1.091 miliar. Lima besar perusahaan tersebut Wal-Mart, Carrefour, Metro Group, Tesco, dan Seven & I.

Coba perhatikan perbandingan porsi penjualan antara 3 kategori perusahaan diatas. Paling bawah adalah perusahaan murni dagang menguasai US$ 1.091 miliar. Diatasnya perusahaan pengolahan hasil pangan dan dagang  menguasai US$ 490 miliar. Teratas adalah perusahaan input industri pangan global mulai dari penyediaan bibit, pupuk sampai dengan produksi alat-alat pertanian hanya menguasai US$ 40 miliar. Bisa disimpulkan, berdagang memang jalan cepat untuk kaya. walau jangan dilupakan bagian produksi punya kuasa lebih besar daripada pedagang. Saya punya buku terpisah yang banyak mengulas tentang Monsanto, bagaimana perusahaan itu begitu kuasa atas petani karena kepemilikannya akan hak paten teknologi/bibit pertanian.

Perlu dicermati, daftar perusahaan di atas mayoritas berasal dari negara maju. Saya ingin mengutip tulisan dari buku itu yang mengatakan:

Bahkan penguasaan sektor ekonomi tertentu, seperti sektor pangan sangat berperan dalam memicu terjadinya potensi instabilitas (pangan) global saat ini.

 Bayangkan saja, ketika misalkan suatu negara benar-benar tergantung pada pasokan bibit pertanian dari Monsanto, lantas dengan sepihak Monsanto memberhentikan pasokannnya, maka terjadilah kelaparan di negara tersebut.

Bagi saya ancaman kedaulatan pangan ini sama menakutkannya seperti ancaman serangan invasi militer dari negara lain, invansi militer mungkin menyebabkan kematian secara cepat, ancaman kelaparan menyebabkan kematian secara perlahan. Belum lagi kita bicara tentang ‘Hiden Hunger‘, istilah lapar yang tidak sama dengan istilah lapar akibat kekurangan makanan, istilah yang mengacu pada  kekurangan vitamin dan mineral secara kronis. Sebuah istilah yang menyebabkan kerusakan mental, rendahnya tingkat kesehatan dan produktivitashingga dapat menyebabkan kematian.

Memang sudah jelas bahwa kita butuh tuhan!

Standar
Uncategorized

Catatan Kongres HMI XXIX di Bogor

Logo KongresBaru saja selesai forum tertinggi di HMI yaitu Kongres. Forum yang menjadi tempat memutuskan banyak perkara keorganisasian, diputuskan didalamnya yaitu Konstitusi yang berisi AD, ART, Khitah Perjuangan, dan Pedoman-pedoman operasional lainnya. Selain itu diputuskan pula pimpinan tertinggi HMI yang pada kongrer ke-29 kali ini terpilih saudara Puji Hartoyo yang pernah menjabat sebagai ketua umum HMI Cabang Yogyakarta Periode 2008-2009. Baik buruknya dalam kongres kali ini, tetap saja memberikan pelajaran sedikit banyaknya. Oleh karena itu catatan ini perlu dibuat, baik untuk diri saya pribadi maupun pembaca yang memiliki kepedulian tentang genarasi muda dan pergerakan.

Kongres HMI ke-29 diadakan di Bogor, dibuka di Gd.Bale Binarum oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Sidang Kongres sendiri dilaksananakan di daerah puncak tepatnya di Wisma Bumi Cisarua. Daerah yang cukup dingin, bahkan mampu mendinginkan perdebatan diskursus. Yah setidaknya itu yang memang saya rasakan. Nyaris tidak ada perubahan berarti pada konstitusi yang bagi saya sudah mulai usang. Konstitusi HMI selama 4 tahun ini masih menggunakan konstitusi hasil ketetapan Kongres ke-27 di Yogyakarta. Pada saat kongres ke-28 di Pekan Baru tidak ada perubahan dan kembali menggunakan konstitusi hasil kongres ke-27. Begitupun di Kongres ke-29 tidak ada perubahan berarti kecuali satu hal dalam ART yaitu tentang GBHK dan GBPK dan beberapa hal perubahan dalam PKN (Pedoman Kerja Nasional).
Lantas ada pandangan bahwa kongres kali ini sangat bersifat politis, karena hampir semua orang berfokus pada pemilihan ketua baru. Bagi saya ini adalah perkaran yang tidak bisa dihindarkan. Keputusan paling mudah yang dapat diambil dalam kongres adalah pemilihan ketua umum, karena dilakukan dengan cara voting. Semua orang harus sepakat ketika hasil voting dibacakan. Meskipun diawal ada diskusi mengenai figur pimpinan, namun biasanya pendirian setiap orang tidak sampai pada mufakat. Berbicara persoalan figur pimpinan berbicara banyak sekali variabel penilaian, namun keterbatasan informasi dan pengetahuan membatasi kemampuan kita menilai banyaknya variabel tersebut. karena itu, keputusan paling mudah adalah dengan cara voting, luar biasa jika diputuskan dengan cara musyawarah. Dan ini adalah keputusan paling mudah diambil, tinggal setiap orang memilih dan jadilah keputusan tentang siapa yang menjadi Pemimpin kita dimasa yang akan datang.
Berbeda dengan keputusan lainnya, konstitusi misalkan. Jelas pembahasaan konstitusi lebih bersifat musyawarah, diisi oleh perdebatan dari orang-orang yang mana yang paling logis lah yang menang. Disini dilangsungkan pertarungan ide-ide, wacana-wacana, dan pandangan-pandangan tentang cara mensiasati kondisi masa yang akan datang. Dilakukan juga penyesuaian-penyusuaian tentang aturan-aturan yang sudah tidak relevan lagi dimasa kini. Diusulkan tentang wacana-wacana yang harus dibawa untuk HMI masa depan. Namun apa daya, dengan kemampuan kader yang tebatas dan keterbatasan waktu yang tersedia dan ketidak tersediaan bahan untuk dibaca mendinginkan diskursus tentang ini. Saya pribadipun tidak sanggup. Ini mungkin evaluasi paling besar yang bisa kita lakukan, beberapa kondisi mempengaruhi hal ini, ketentuan yang dikeluarkan PB melalui Jutlak yang mensyaratkan peserta kongres minimal lulus LK II tidak diindahkan, tidak juga dilakukan pengecekan baik oleh panitia SC, OC maupun MPK. Praktis forum diisi oleh peserta yang kurang berpengalaman. Forum kongres tidak telalu berbeda dengan RAK dalam salah satu komentar peserta kongres yang saya dengar. Ada yang berbeda bagi saya, di RAK mungkin kebanyakan peserta masih sedikit malu-malu untuk berbicara di forum, disini hampir semua orang ingin bicara, urusan salah-benar, baik-buruk, berguna atau tidak yang dibicarakan itu urusan belakang. Selain alasan diatas, MPK juga tidak menerbitkan draft pembahasan sebelum kongres, sehingga tidak ada bahan diskusian bagi cabang-cabang se Indonesia. Memang tidak mudah membuat MPK yang berkualitas, dengan anggota MPK yang tersebar diseluruh Indonesia tentu menjadi perkara sulit untuk mengumpulkan mereka, masalah paling awal tentu masalah ongkos.
Tentu perubahan aturan pada organisasi yang sudah mapan tidak begitu diperlukan. Mengingat HMI yang sudah berumur 66 tahun, telah banyak perubahan pada aturan yang telah disesuaikan dengan zamannya. Satu sisi Khitah Perjuangan HMI masih cukup relevan diterapkan, meskipun ada beberapa kesalahan teknis penulisan yang perlu diperbaiki. Namun untuk pedoman Perkaderan mungkin perlu dibaca ulang dan disesuaikan. Begitupun PKN (Pedoman Kerja Nasional) yang memang seharusnya selalu disesuaikan dengan kondisi saat ini dan masa yang akan datang. Namun rupanya permasalahan justru bukan pada perubahan, tapi kemauan seluruh kader HMI untuk membaca dan memahami segala yang tertuang di konstitusi, Lantas bagaimana mau mengkritisi.
Hal ini menggambarkan bagaimana komitmen epistemologis di HMI sudah mulai redup. Saya sepenuhnya sadar mengenai kelemahan dalam hal ini. Saat ini saya merasa menjadi generasi yang jauh dari buku. Kita kekurangan sosok idealis yang mampu berfikir secara filosofis. Meskipun kita belum mengarah pada menciptakan kader yang berorietnasi politik praktis, tapi kelemahanan dalam satu komitment ini memungkinkan hal itu. Tanpa sebuah wacanana besar, kita habis dalam masalah sepele. Energi hanya terpakai untuk mempertahankan eksitensi, seperti perebutan kursi kepemimpinan.
Betapa kita butuh seorang Idiolog besar untuk bangsa ini, bagaimanapun Soekarno, Hatta dan Tan Malaka adalah orang-orang yang punya konsepsi besar untuk bangsa. Soekarno dengan Marhaenisme, Hatta dengan Koperasi, Tan Malaka dengan Madilog (mungkin..). Dan ketiganya pernah mengkonsep tentang Indonesia sebagai negara. Sosok seperti mereka itu lebih kita butuhkan untuk kondisi saat ini,
Bagaimanapun caranya, kita perlu mengapresiasi setiap orang yang fokus pada kegiatan berfikir. Karena saat ini kaum cendikia/intelektual tidak mendapatkan ruang yang baik untuk aktualisasi dirinya. Ruang Objektifikasi diri seorang Intelektual tidak begitu mendapatkan perhatian yang baik. Saat ini para Teknokrat, Bankir, Pengusaha bahkan hingga karyawan dengan gaji besar lebih mendapatkan penghargaan ditengah masyarakat dari pada para Intelektual yang menuliskan buku setebal 1000 halaman. Maka jangan kita heran jika tontonan tentang politik praktis, perebutan kekuasaan dan perdebatan sepele menjadi hal lumrah. Karena yang bisa begitu itu merasa diri paling hebat didunia.
Menjadi tugas setiap kader HMI yang memiliki inisiatif dan kreatifitas untuk menyelesaikan problematika komitmen Epistimologis. Kita perlu ambil peranan sebagai guru sekaligus murid, mengajar sekaligus belajar, menulis sekaligus membaca, memimpin sekaligus dipimpin. HMI bisa ambil peranan Negara untuk mencerdaskan masyarakat. Itupun merupakan perlawanan, perlawanan Struktural! Tidak perlu kita menunggu menjadi Menteri Pendidikan, sekarangpun bisa kita lakukan. Bahwa kita bertugas untuk menjadi cerdas dan mencerdaskan. Kucinya: Bacalah!
Standar
Uncategorized

Akhirnya Ubi

Sarapan sudah menjadi kebiasaan buat saya, ada beberapa alasan mengapa saya membiasakan diri untuk sarapan; pertama adalah untuk memenuhi nutrisi harian karena pagi hari adalah awal aktifitas sehingga otak dan seluruh organ butuh asupan untuk dapat bekerja dengan baik. kedua sarapan membuat kopi saya lebih nikmat, meminum kopi dalam keadaan perut kosong akan membuat perut mual dan keroncongan karena kopi meningkatkan asam lambung. Aktifitas pagi seperti ini adalah waktu yang paling saya senangi, segelas kopi membuat pagi terasa sangat indah. Akan sangat mengecewakan ketika aktivitas pagi hari ini terlewati akibat aktivitas lainnya.

Kebiasaan ini akhirnya menjadi kebutuhan, karena faktor biaya saya harus cermat memikirkan pengeluaran untuk sarapan. Bagaimana caranya perut terisi sehingga kopi terasa nikmat, Maka pilihannya saya membeli roti tawar, selai, sereal atau oatmeal. Makanan tersebut terkesan mewah dan sok eropa, namun setelah saya hitung dari pada saya makan diwarung setidaknya membutuhkan biaya tidak kurang dari Rp.5.000,- dengan sarapan diatas biaya yang dikeluarkan tidak lebih dari Rp.3.000,- hitung saja! lebih dari 3 tahun saya selalu sarapan dengan salah satu menu diatas.

Tahun 2013 saya pindah rumah ke daerah Karangkajen, tidak jauh dari rumah ada Pasar Telo (pasar singkong) disitu dijual banyak singkong dan ubi. Suatu ketika saya tanyakan pada kawan harga Ubi per kilo, ternyata harga per kilo Rp.2.000,- saya mulai terpikir untuk mengganti sarapan saya dengan ubi. Begini pikiran saya: dengan satu kilo ubi saya bisa turut mengeyangkan kawan saya yang lainnya tanpa mempengaruhi sirkulasi uang saya. Ubi adalah makanan yang mudah kita tanam di Negeri ini. Ubi mesti dari petani kita, belum pernah saya baca berita bahwa Indonesia impor Ubi. Ubi adalah makanan alternatif selain nasi, masyarakat bangsa ini begitu ketergantungan dengan beras, sehinnga pihak asing melirik potensi pasar ini, pemerintah yang kita sama tahu mudah disogok dan sering berlaku korup mudah saja meng-impor beras luar negeri yang harganya dibawah beras hasil petani kita sendiri, alih-alih mengembangkan pertanian dalam negeri agar petani kita mampu memenuhi kebutuhan beras seluruh Indonesia, Impor beras menjadi pilihan menguntungkan untuk kantong pemerintah. Dengan Ubi saya tidak lagi mengandalkan gandum yang jarang petani kita menanamnya, karena Roti, Oatmeal hingga sereal biasanya terbuat dari gandum. Andai saja rakyat Indonesia melirik kebutuhan utama pangannya selain beras, besar kemungkinan ketahanan pangan bangsa ini meningkat.

Saya ingat betul ketika pendakian Gn. Rinjani dengan kawan saya Rahmat, ketika itu logistik menipis, kawan saya dimataram membekali 2 biji ubi yang sebenarnya untuk umpan ikan saat memancing di danau Segara Anak. Celaka, karena kail yang kita bawa terlalu besar untuk ukran ikan di danau. Hasilnya tak satupun ikan kami dapatkan, akhirnya Ubi menjadi santap malam kami. 2 biji ubi mampu mengenyangkan malam kami di atas dataran tinggi. Dari sana ada semacam kedekatan emosi antara saya dengan Ubi (halah).

Karena saya cukup perhitungan dengan nutrisi suatu makanan, saya mencoba mencari referensi di Internet tentang kandungan gizi dari Ubi, ternyata faktanya mengagumkan. Ubi Jalar dinobatkan sebagai “juara satu” untuk kekayaan nutrisi kelompok sayur-sayuran oleh asosiasi nutrisionis Amerika Serikat. Buat anda yang mengatakan Ubi adalah makanan kampung, tolong dipikirkan ulang, jangan-jangan anda yang kampungan. Ubi mengandung karbohidrat kompleks, korbohidrat (gula) semakin kompleks maka tubuh akan semakin lama mengurai untuk menjadi energi, sehingga pelepasan energi dari ubi dilakukan secara berkala, mungkin itu mengapa ketika memakan Ubi perut lebih tahan lapar. Selain itu untuk ukuran sedang sebuah ubi jalar memenuhi kebutuhan vitamin A 2x lipat dari kebutuhan tubuh kita perhari. Untuk ubi yang berwarna ungu, mengandung antioksidan penangkal radikan bebas. Kandungan vitamin C Ubi 42% memenuhi kebutuhan harian kita. Dengan mamakan ubi dengan kulitnya kandungan serat dalam Ubi lebih banyak dari pada Oatmeal. kandungan kalori adalah 130-140 akan menjaga anda dari tragedi perut buncit dan kegemukan. Kandungan dan manfaat selain itu silahkan cari sendiri.

Tips dari saya, rebus ubi 5 buah dipagi hari, tawarkan jika ada kawan kelaparan, konsumsi ketika perut anda lapar alih-alih ngemil gorengan yang tinggi kolestrol atau makanan-makanan ringan instan penuh dengan zat pengawet dan penyedap rasa. Ubi adalah solusi untuk kesehatan dan masa depan kesejahteraan rakyat Indonesia. 🙂

Standar