Korganisasian

Student Convention Center KM UII

Sudah hampir 4 tahun (11 Juli 2007) dari peletakan batu pertama gedung Student Convention Center (SCC) oleh Mentri Pemuda dan Olah Raga waktu itu (Dr. Adhyaksa Dault). Tentu saat ini SCC sudah mengalami banyak perubahan dari mulai bentuk, isi dan fungsinya. memang dalam perjalanannya SCC mengalami banyak kendala terutama terkait masalah pengisian interior sehingga SCC sempat terbengkalai hampir 2 tahun lamanya. Alhamdulillah pada periode kepengurusan DPM UII periode 2011-2012 mendapat bantuan dari Badan Wakaf dan Rektorat untuk pengisian Interior dan selesai membuat regulasi pemakaian, sehingga SCC dapat beroperasi sebagaimana mestinya.

Sesuai dengan namanya gedung ini direncanakan  sebagai pusat kegiatan bagi pelajar khususnya Mahasiswa. Walaupun dalam prakteknya civitas akademika UII dan masyarakat umum masih bisa menggunakan SCC untuk melaksanakan kegiatan, hal ini bukan semata-mata untuk tujuan pencarian keuntungan tapi untuk menutupi biaya operasional SCC. Kita bisa melihat adanya subsidi silang antara Lembaga-lembaga dilingkungan Keluarga Mahasiswa UII dengan pengguna umum, karena lembaga di lingkungan KM UII mendapatkan harga yang relatif lebih murah.

Namun SCC masih tidak lepas dari permasalahan, pengisian interior yang masih kurang dari 60% perlu sekiranya dilengkapi, serta masih perlu adanya perubahan pada regulasi pemakaian menyesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan saat ini, satu lagi yang perlu diingat sekiranya SCC ini perlu dikelola oleh tenaga profesional sehingga memiliki kualitas layanan yang baik. Hal ini menjadi tanggung jawab KM UII khususnya kepengurusan DPM UII periode berikutnya sebagai Lembaga tertinggi di linkungan KM UII dan yang secara langsung turun untuk mengurusi aset yang dimiliki oleh KM UII.

 Penamanaan Student Convention Center

Sebuah gedung tidak hanya difungsikan sebagai sebuah fasilitas saja tapi perlu adanya sebuah nilai yang dibawa, nilai-nilai yang dibawa tentu harus bersifat positif untuk kebaikan kita, di antaranya adalah nilai historis. Biasanya  nilai hitoris ini diwakili oleh sebuah nama dari gedung tersebut, sebuah gedung yang dibangun diberi nama seseorang atau suatu persitiwa sebagai sarana pengingat. Tentu kita faham tentang fungsi sejarah untuk kehidupan kita, diataranya adalah sebagai sarana edukatif, inspiratif, rekreatif dan instruktif.

Jika kita mengacu pada nama Student Convention Center disini mengandung penjelas tentang fungsi dari gedung tersebut, kita perlu menambahkan  suatu nilai historis pada gedung ini seperti saya jelaskan diatas. Terkait masalah nama pada dasarnya sudah banyak bermunculan wacana dari beberapa kalangan mahasiswa maupun alumni UII, diataranya adalah Nama Prof. Lafran Pane karena beliau adalah orang pertama yang mengurusi bidang kemahasiswaan KM UII, dan beliau sempat menjadi pengajar di kampus UII, dikancah nasioanal beliau juga cukup dikenal sebagai pemrakarsa organisasi mahasiswa yang sudah cukup tua yaitu Himpunan Mahasiswa Islam yang berdiri di STI (sekrang UII) pada 5 Feruari 1947.

Namun demikian terkait masalah nama, hal ini belum mencapai kesepakatan bersama, masih perlu adanya diskusi bersama anggota KM UII untuk merumuskan nama yang tepat untuk gedung SCC.

 Masa Depan Student Convention Center

SCC bisa dikatan sebagai aset termahal yang dimiliki oleh KM UII saat ini dengan pembangunan menelan biaya 3,6M atas patungan antara KM UII, Rektorat dan Badan Wakaf. Dalam hal ini KM UII ditunjuk sebagai pengelola gedung tersebut karena dalam sejarahnya SCC dibangun atas prakarsa mahasiswa.

Sudah sepantasnya KM UII memegang dengan serius tanggung jawab ini dengan cara merawat aset ini dengan baik sehingga SCC bisa digunakan untuk kepentingan mahasiswa semaksimal mungkin, bisa sangat jadi dari gedung tersebut akan terlaksana kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bermutu semacam diskusi, seminar hingga rapat. Dari tempat ini mahasiswa akan banyak belajar berorganisasi, membina ilmu dan bersosialisasi. Dari tempat ini seluruh lembaga di lingkungan KM UII akan mendapatkan fasilitas yang baik untuk menjalankan roda organisasi.

Apabila KM UII tidak becus dalam mengelola SCC bisa jadi pengelolaan aset ini akan diambil alih oleh Rektorat atau Badan Wakaf sebagai badan yang ikut menyumbang atas pembangunan SCC.

 

Iklan
Standar
Korganisasian

Catatan menjelang akhir periodesasi DPM UII 2011-2012/Kritik untuk DPM UII Periode 2011-2012:

Sudah sekitar 9 bulan saya melewati masa kepengurusan DPM UII masa bakti 2011-2012 artinya saat ini sudah hampir sampai pada akhir periodesasi, berbagai macam perdebatan, diskusi, kegiatan, masalah, tragedi sudah di rasakan bersama. Tentu semua kepengurusan pasti meninggalkan bekas baik kepengurusan itu berjalan baik, buruk atau bahkan Stagnan tetap akan mempunyai dampak. Maka perlu sekiranya saya mencatat dari sudut pandang saya pribadi tentang apa yang saya rasakan, biarpun ini bisa dikatakan merupakan penilaian seorang yang terlibat langsung sehingga sangat mungkin bersifat Subjektif tapi tetap maksud dari semuanya adalah pembelajaran kita bersama. Dan perlu diingat segala kritik yang saya buat juga berlaku untuk diri saya sendiri sebagai penulis, karena tidak bisa saya memposisikan diri orang  “luar” padahal diri saya juga menjabat dalam kepengurusan. Saya akan membaginya kedalam beberapa bagian:

Lemahnya kita dalam Berwacana

Bisa dikatakan secara garis besar bahwa “PR” yang paling utama DPM UII dan saya rasa hampir menyentuh semua lembaga di tingkatan KM UII adalah kelemahan dalam Berwacana secara luas. Hal ini bukan berarti lembaga ini berjalan tanpa wacana sama sekali, tentu ada tapi yang disayangkan kebanyakan wacana bersifat sempit atau hanya mencakup sektor-sektor tertentu (Sektoral) misalkan wacana-wacana Internal itupun saya rasa yang paling banyak dipermasalahkan adalah masalah keuangan. hampir tidak ada wacana yang menyentuh konteks kebangsaan.

Hal ini bagi saya merupakan dekadensi bagi KM UII, tentu hal ini sangat erat kaitannya dengan tingkat Intelektualitas mahasiswa. Karena tingkat kritis seorang bisa dilihat dari cakrawala pengetahuan yang dia miliki, ketika kita hanya dapat melihat masalah-masalah di sekitar kita  (Internal) bisa berarti pengetahuan kita hanya sebatas pada lingkungan kita berorganisasi (KM UII). Jika seperti ini  maka hilanglah sudah peranan mahasiswa dalam konteks kebangsaan. Karena senjata utama kita sebagai mahasiswa yang dikatakan kaum intelektual adalah wacana, ide atau gagasan untuk kemajuan bangsa. Maka sudah patut sekiranya kita mempertanyakan kembali  gelar-gelar yang disanding mahasiswa yang diantaranya “agent of knowladge“, “agent of change”,” Iron Stock”. Kita pertanyakan gelar tersebut apakah masih pantas sekiranya gelar itu disandang oleh mahasiswa?

Tanpa adanya wacana yang kuat dan mengikat semua lembaga kita akan mudah sekali terpecah belah oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, dan sudah pasti kita tidak memiliki arah tujuan yang jelas dalam organisasi.

Mungkin hal ini disebabkan oleh semakin pragmatisnya mahasiswa saat ini yang disebkan oleh sistem pendidikan yang seolah-olah memaksa mahasiswa untuk terus menerus mengejar nilai baik dalam Ujian (UTS dan UAS) sehingga dapat secepatnya menyelesaikan SKS kemudian lulus dengan nilai memuaskan, harapannya bisa secepatnya dapat pekerjaan dan hidup sejahtera, mati masuk surga, tanpa ada sejarah yang ditinggalkan. Sehingga kita tidak lagi dibentuk menjadi seorang yang berpengetahuan, tapi seorang yang ahli dalam ujian.

 Prematurnya pengkaderan Organisatoris

Saat ini tidak mudah memang menemukan seorang yang benar-benar siap secara kemampuan, mental, intelektual, dan pengalaman yang mau terjun langsung ke dalam organisasi demi cita-cita yang mulia. Jangankan mencari siapa yang pantas, yang MAU saja sudah sulit? Sudah banyak yang memiliki anggapan bahwa terlibat dalam Organisasi adalah kegiatan yang membuang waktu.

Minimnya antusiasme mahasiswa menyebabkan Organisatoris yang menjabatpun bersifat apa adanya, bukan memang telah menyiapkan dirinya untuk menjabat dalam jabatan dan mengeban tugas organisasi dengan penuh kesadaran dan perhitungan.

Hal ini tentu menjadi masalah ketika berada dalam cakupan Lembaga Tertinggi. Yang sifatnya bukan lagi wadah untuk sekedar menampung mahasiswa yang ingin merasakan berorganisasi, tapi sudah menjadi lembaga yang membutuhkan organisatoris  yang sudah memiliki modal minimal pengalaman dan dedikasi.

Bagi saya kita memerlukan orang-orang yang benar-benar faham caranya berorganisasi yang biasanya hanya didapat dari orang-orang yang sudah lama berkecimpung dalam organisasi sehingga baik kemampuan dan pengalamannya sudah terasah seperti kemampuan memimpin, berkomunikasi, public speaking, dan kemampuan Berwacana. Dan juga tidak bisa di lupakan disamping pengalaman dan kemampuan yang sudah terasa akan percuma rasanya ketika seorang tidak memeliki dedikasi atau kemauan untuk bekerja dalam organisasi.

Munkin ini terlihat sangat Idealis dan Muluk dan jauh dari kondisi realita yang kita hadapi, tapi sekiranya perlu kita mengetahui hal yang sifatnya ideal untuk alat ukur atas dirikita sendiri atau bisa juga kita gunakan untuk evaluasi bersama mencari solusi tepat untuk permasalahan ini.

Kita ketahui sendiri saat ini hal yang tidak wajar mahasiswa lulus lebih dari 4 tahun, sehingga sangat memungkinkan sekali mahasiswa yang duduk di DPM UII belumlah cukup memiliki pengalaman dalam berorganisasi. Ini yang saya maksudkan kita membutuhkan ukuran Ideal dari sesuatu untuk melakukan evaluasi atas suatu hal. Kita bisa melakukan evaluasi tentang periodesasi kepengurusan, atau suatu proses tertentu yang harus dilalui sebelum bisa duduk di lembaga tertinggi KM UII, demi tercapainya kualitas Organisatoris yang baik.

Rencana hanyalah Rencana

Bahkan sebenarnya ketika kitapun mampu membuat suatu Wacana besar tentang kebangsaan, hal ini akan terlihat sangat-sangat muluk sekali untuk direalisasikan atau diperjuangkan. Saya sangat merasakan lambatnya kinerja kita sebagai pengurus DPM UII.

Mungkin minggu ini kita memiliki suatu rencana bersama tentang suatu hal, dan ketika rapat evaluasi minggu depan, atau dua minggu kemudian atau satu bulan kemudian bukan evaluasi dari kegiatan yang kita lakukan yang di bahas, tapi mengulang kembali pembahasan rencana kita tentang suatu agenda. Apakah ini tidak menjadi suatu pertanyaan? Siapa yang harus disalahkan? Peranan Sekjen kah? Atau karena mungkin Sekjen yang sudah merasa bosan dengan tingkah jajaran pengurus DPM yang kadang tidak memenuhi Kuorum dalam suatu agenda? Atau kita sudah bosan dengan tradisi rapat kita yang pasti molor dari waktu yang di tetapkan, sehingga seorang yang tadinya bisa tepat waktupun mengikuti kebiasaan yang lainnya untuk datang terlambat? Sehingga “Ngaretnya” waktu rapat sudah menjadi “Tradisi” diantara kita.

Sehingga rencana-rencana kita yang sempat diwacanakan bertransformasi menjadi rencana kembali? Janji-janji yang kita lontarkan bertransformasi menjadi janji kembali? Kapan sekiranya selesai semua agenda kita? Jika terus menerus kita pertahankan kebiasaan ini sampai akhir kepengurusan. Jika seperti ini lalu apa yang bisa kita tinggalkan untuk periodesasi selanjutnya? dan sejarah apa yang kita buat? Apa hanya nama-nama kita yang tercetak hitam diatas putih saja?

Tapi saya rasa kita masih memiliki waktu untuk mengejar agenda-agenda kita sebelum turun jabatan, masih ada waktu untuk membayar hutang dari janji-janji yang telah kita lontarkan. Hanya tentu kita perlu berfikir kreatif agar semua agenda kita terlaksana dengan baik, perlu ada ketegasan tentang kebijakan yang akan kita ambil, jangan lagi-lagi kita terjebak dalam diskusi, sudah saatnya kita mengambil keputusan yang cepat atas permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, dan sudah saatnya kita bekerja secara NYATA dan cepat atas agenda yang kita rencanakan. Tidak cukup kita hanya menjalankan tugas rutinitas sebagai seorang pengurus DPM (ini saja bisa dipertanyakan) tapi kita harus punya andil atas kemajuan Organisasi KM UII!

Standar
Korganisasian

Wacana dalam Organisasi Kemahasiswaan UII

Dunia kemahasiswaan UII saat ini sedang dalam gejolak yang tidak menentu, bisa dikatakan masa kejayaan Mahasiswa sudah hampir runtuh saat ini, bisa dilihat Visi di antara mahasiswa yang sudah menjadi sangat beragam dan semakin jauh akan tujuan jangka panjang yang mulia.

Bagaimana bisa kita yang sudah mendapatkan kebebasan bergerak seluas-luasya dalam berpendapat justru malah kehilangan apa yang harus di wacanakan. Maka kelemahan kita dalam berwacana bisa menjadi bomerang yang akan mengancam perpecahan di kalangan mahasiswa sendiri. Karena jika tidak ada wacana besar yang harus didukung oleh seluruh atau banyak mahasiswa maka akan bermunculan wacana-wacana kecil yang bisa kita artikan kepentingan-kepentingan suatu golongan kecil bahkan individu saja yang menyebabkan kita terjebak dan terus bergairah untuk bertarung sengit mempertahankan wacana kecil itu.

Kondisi inipun yang sering saya saksikan bagaimana orang yang hanya bisa berwacana kecil terus mempertahankan wacana kecilnya. Dan kadang berakhir lucu, seperti seorang yang ngotot dengan suatu argument yang tidak jelas dasar logikanya. Bahkan bisa kita saksikan betapa orang rela adu jotos untuk memepertahankan argumennya!

Apa pula dasar dari adu jotos tersebut, bukannya masalah kita bisa dibilang cukup kecil, kenapa kecil? karena masalah lahir dari wacana kecil, ini bukan masalah perbedaan Ideologi, atau bukan permasalah antara Pribumi dan Kolonial yang mengharuskan Pribumi berkelahi dengan yang Kolonial untuk mendapatkan kebebasan.

Dari wacana ini juga yang menyebabkan beberapa orang bertingkah tidak menentu arahnya, dengan adanya banyak wacana-wacana kecil akan menyebabkan kebingungan bagi beberapa orang yang sama sekali tidak memiliki wacana, kita bisa melihat seorang dapat dengan mudah terpengaruh akan suatu kepentingan, akhirnya sering merubah pendapatnya, dan pusing akhirnya. Orang-orang macam inilah yang berada dalam kedilematisan sehari-harinya.

Maka menurut saya solusi untuk menuntaskan ini adalah adanya wacana besar yang harus di pahami oleh semua pihak sehingga wacana-wacana kecil yang muncul tidak menyebabkan perkelahian tapi justru membangun kontruksi berpijak dari wacana besar.

Jadi memang dalam aplikasinya kita perlu untuk membuat wacana-wacana kecil untuk mensukseskan wacana besar yang kita bangun, namun seperti saya katakan sebelumnya hal ini menjadi lebih mudah karena wacana-wacana kecil tersebut bersumber atau bermuara pada Visi yang sama. Sehingga kita tidak akan terjebak lagi dalam pertarungan mempertahankan wacana kecil yang tidak jelas arahnya.

Setelah kita mampu keluar dari pertarungan kecil, maka akan beranjak kita pada pertarungan yang lebih besar. Dan semoga akan muncul pertanyaan “Sudah adilkah Negeri ini?”

Standar