Kisah tentang Hidup

Aku di Pare – Kediri

Terhitung sudah tiga kali saya mengunjungi kota ini mungkin lebih tepat disebut desa. Pare terletak di kabupaten Kediri, banyak orang tidak asing dengan tempat ini, dikenal juga dengan sebutan kampung Inggris.  Jika kita datang ke stasiun Kediri mengendong tas besar mungkin akan dapat pertanyaan “Mau ke kampung Inggris mas?” entah itu oleh tukang becak, ojek atau konektur bis kota. Hal itu menandakan Pare sering menjadi tujuan bagi pendatang kota Kediri.

Meski Pare dijuluki dengan kampung Inggris kali ini saya datang untuk belajar bahasa Arab. Kontras dengan banyakanya lembaga kursus bahasa inggris yaitu sekitar 150 lembaga, lembaga kursus bahasa Arab hanya beberapa saja, hanya 3 lembaga yang saya tahu. Mengapa belajar bahasa Arab? Dalam satu hadist yang pernah saya dengar berisi demikian: Rasulullah bersabda, “Cintai bahasa Arab karena 3 hal: pertama, karena aku (Rasulullah) dari Arab, Al-Quran berbasa arab, dan Bahasa Arab adalah bahasa penghuni surga”. Detail tentang hadist tersebut baik itu ke-sahihan-nya, sanadnya, perawinya silahkan anda cari sendiri. Riwayat itu saya dengar dihari pertama ketika masuk kelas bahasa Arab, jadi sebenarnya awalnya bukan itu motivasi saya. 😀

Tidak berbeda jauh dengan sebelumya ketika saya datang di tahun 2007 dan 2008, saya selalu merasa tempat ini memiliki atmosfer yang unik. Dihuni oleh banyaknya pendatang, yang kebanyakan kalangan muda yang datang dengan niat belajar, tempat ini terlihat selalu bersemangat.  Perubahan tentu saja ada, terutama jejeran toko, gerobak, ruko, yang semakin banyak dari sebelumnya. Tempat padat pendatang seperti ini tentu saja menggerekan perekonomian lokal, sedikit banyak memberikan kesejahteraan pada penduduk setempat. Suatu keadaan yang belum terjadi di desa kaliharinku. Butuh orang-orang visioner untuk melakukan hal itu!

Saat siang tadi saya bersama kawan-kawan peserta lainnya membaca do’a kafaratul majelis sebagai penutup pelajaran, ada pertanyaan dalam hati “Udah cuma segitu?”. Pelajarang terasa ringan bagaikan kacang goreng, meski kecil kandungan proteinnya tinggi. Selalu menyenangkan bertemu dengan wajah-wajah baru, yang mungkin beberapanya diantaranya akan menjadi kawan dimasa yang akan datang. Siapa yang tahu?

Iklan
Standar
Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Perjalanan ini akan aku kenang selalu (Editan)

**05/01/2012**
Aku bangun tidur lebih pagi, semalam baru saja tiba di sebuah rumah kontrakan milik kawanku di daerah Depok, Jawa Barat. Aku langsung bersiap untuk segera berangkat menuju LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara) di Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Tujuanku adalah menyerahkan proposal permohonan Kerja Praktek atau dikenal juga dengan istilah magang. Kerja Praktek adalah salah satu tugas yang diberikan oleh fakultas sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana.
Sebelum berangkat, aku sempatkan sarapan agar mendapatkan energi selama perjalanan. Setelah itu aku masuk ke sebuah Warnet terdekat  untuk mendapatkan alamat LAPAN dan mengecek rekening dengan harapan Dani kawan satu kontrakan di Yogyakarta telah transfer uang. Sialnya Dani belum melunasi hutangnya, sementara uang di dompet tersisa Rp.26.000,-  Dalam perjalanan uang menjadi sangat penting.
Aku mencoba menghubungi Dani dan kawan satu kontrakan lainnya melalui Facebook dan Yahoo Messengger dengan maksud meminta nomer handphone Dani. Handphone yang biasa aku gunakan rusak, phonebook handphone baru terisi sedikit. Lama menunggu tidak ada balasan. Wajar saja, karena ketika itu masih pagi, mungkin kawan-kawanku masih tidur atau sudah melakukan aktivitas lainnya. Tak lama berselang, aku ingat, seluruh kontak di handphone lamaku tersimpan di dalam akun Gmail, karena handphone rusaku bersistem operasi Android dan secara otomatis dapat menyimpan kontak pada server Google. Aku dapatkan Kontak Dani namun tak bisa dihubungi. Kemudian aku hubungi Ari kawan sekontrakan lainnya dan langsung menyampikan maksudku.
Setelah aku cari, LAPAN berlokasi di Bogor, maka aku berkesimpulan untuk berangkat ke Bogor. Karena di sana cukup dekat dengan stasiun KRL, aku putuskan untuk menggunakan sarana transportasi tersebut.
Sekitar pukul 9.00 tiba di stasiun KRL UI, kemudian membeli tiket jurusan Bogor. Penjaga tiket menyodorkan tiket kereta ekonomi seharga Rp.2.000,- Aku merasa malas jika berdesakan di dalam kereta kelas ekonomi. Pikirku ini adalah waktu dimana orang-orang berangkat menuju kantor, biasanya KRL ekonomi padat sampai atap. Aku tukarkan dengan tiket kereta Commuter Line seharga Rp.6.000,-. Tidak lebih dari 3 menit, kereta ekonomi jurusan Bogor tiba dengan muatan kosong, tebakan meleset!
Setelah menunggu sekitar 15 menit KRL Commuter Line tiba. Selama perjalanan ke Bogor, aku sempatkan membaca buku biografi singkat Mohammad Hatta karangan Salman Alfarizi, mencoba mengisi waktu luang di dalam kereta sepi yang cukup nyaman itu.
Setibanya di stasiun Bogor, aku mencari tempat membeli minum karena merasa kehausan sekaligus mau bertanya tentang alamat yang akan dituju. Mampir di warung penjual mie rebus, lalu pesan es-teh dan bertanya tentang alamat pada orang-orang di sana. Orang pertama yang kutanya tidak bisa menjawab, tukang parkir yang juga sedang duduk di sana tak bisa menjawab juga. Barulah kemudian dari penjaga warung aku dapatkan keterangan bahwa tempat yang akan aku tuju sangatlah jauh.
“Masih satu kabupaten ini!” benakku. Anehnya seluruh orang yang aku tanya tidak mengerti persis letak LAPAN. Mereka hanya tahu  Rumpin, sebuah kecamatan di Bogor tempat LAPAN berada. Si penjaga warung itu menjelaskan tentang angkot-angkot yang harus aku naiki. Kira-kira begini: aku berjalan sampai di depan sebuah department store, lalu naik angkot dan turun di terminal Laladon, kemudian naik lagi angkot  jurusan Leuwih Liang, dari sana naik lagi angkot jurusan Rumpin. Aku bayar es-teh seharga Rp.2.500,- harga yang cukup mahal dibandingkan harga es-teh di Jogja dengan kisaran Rp.1.500,-
Perjalanan ke Laladon tidak terlalu lama, kemudian dari Laladon menuju Leuwih Liang menyita waktu lebih dari 1 jam dengan jalan macet dan penumpang yang saling berhimpitan, suasana menjadi panas. Aku  mulai bosan dengan perjalanan ini. Sesampainya di Leuwih Liang aku sempatkan ke masjid terdekat untuk sejenak istirahat dan berjamaah shalat dzuhur sekalian shalat jamak ashar. Ketika adzan berkumandang, kota Bogor di guyur hujan, tanpa sadar sepatuku basah terkena genangan air walau sudah aku pindahkan ketempat yang beratap.
Selesai shalat, hujan masih mengguyur dengan deras, setelah bosan menunggu hingga pukul 13.00, aku nekat lanjutkan perjalanan. Hujan tidak terlalu deras hanya kondisi jalan menjadi sangat becek. Sepatu hingga kaos kaki yang aku pakai dalam kondisi basah, sangat tidak nyaman.  Apa boleh buat, Perjuangan tetap harus dilanjutkan!
Berjalan tidak terlalu jauh untuk dapati angkot jurusan Rumpin. Angkot masih menunggu penumpang lainnya, setelah terisi setengah, angkot berangkat. Kondisi Bogor kembali diguyur hujan deras. Angkot berjalan menyusuri jalan kecil, menanjak dan menurun. Di sekitar sana aku melihat pemandangan pegunungan yang sangat indah, keindahannya bertambah karena suasana hujan.
 “kiri bang!” serorang Ibu ingin turun dari angkot, namun karena kondisi angkot menanjak, sang Sopir tidak menghentikan angkot karena ada resiko angkot mundur dan tergelincir.
“Sebentar bu lagi nanjak.” Sang sopir menangguhkan permintaan ibu tersebut.
“Ah inimah sama aja naik angkot dengan jalan kaki. Sama-sama kehujanan! kalau begini bayar 2 ribu aja lah!” Si ibu protes karena angkot mungkin terlalu jauh dari tempat seharusnya dia turun. Si-Ibu benar-benar hanya membayar Rp.2.000,- padahal dia beserta seorang anak perempuan yang sudah dewasa dan seorang anak perempuan yang masih kecil.
“Astagfirullah Hal Adzim, ketemu yah saya sama orang kayak gitu!” Seorang Ibu-ibu yang lebih muda berkomentar setalah Ibu yang tadi turun.
“Gak tau agama.” Cetus sang Sopir.
“Dia gak tahu kalau sopirnya Kiai.” Ibu yang duduk di depan juga ikut berkomentar, sang Sopir hanya tersenyum. Aku hanya terdiam tidak ikut komentar.
Penumpang satu persatu turun, ketika ibu yang duduk di kursi depan turun, aku diminta oleh sang Sopir pindah kedepan.
“Sini dek di depan!” Pintanya dengan ramah.
Aku berpindah kedepan, tak lama berselang di tengah gerungan suara angkot, seorang ibu  di belakang meminta nasihat pada sang Sopir.
“Ini mas saya sedang punya masalah, suami saya jarang pulang, apa kira-kira doa yang bisa saya baca mas.”
“Ehmm… baca saja Asmaul Husna” Sang Sopir menjawab.
“Yang mana mas?”
“… Ini aja, baca ya Razzaq sebanyak 121 kali setelah shalat setiap hari, Insya Allah nanti rezekinya lancer.” Sang sopir mengucapkan kata ‘lancar’ dengan ‘lancer’.
“Sayamah tidak ada masalah dengan rezeki, hidup saya sudah cukup.”
“Kan rezeki itu bukan hanya uang, tapi kekeluargaan, kesehatan, kedamaian itu juga merupakan rezeki.” sang Sopir buat penjelasan yang masuk akal.
“Oh iyah yah mas.”
Sang Sopir menambahkan doa pembuka (muqadimah) dalam bahasa arab sebelum amalan itu dikerjakan, aku dengar dengan seksama tanpa mampu menghafalnya. Aku mendengar sanjungan kepada Nabi Muhamad SAW pada muqadimah tersebut, lalu mendegar sanjungan pada Syakh Abdul Qadir Jaelani. Setelah ibu itu turun,  aku tanyakan pada sang Sopir mengapa kita perlu memuji Syakh Abdul Qadir Jaelani.
“Beliau itu orang suci dan alim, kita menjadikan dia sebagai perantara doa kita kepada Gusti Allah.” begitu kira-kira sang sopir menjelaskannya. Meskipun penjelasan itu masih mengganjal di benak, pertanyaan tidak aku lanjutkan demi menghindari perdebatan.
Perjalanan berlangsung sekitar 1 jam lebih, jalanan banyak berlubang tertutup genangan air. Sesekali angkot bergoyang karena sang Sopir dengan percaya diri melindas lubang-lubang itu. Sempat aku lihat hutan karet yang tertata dengan rapi menghadirkan pemandangan simetris. Dari kejauhan terlihat bukit-bukit berwarna kebiruan dengan awan mendung kehitaman di atasnya. Kabut tipis menyelimuti sebagian pemandangan yang aku saksikan. Aku menikmati perjalanan itu meski kondisi yang dingin dan sepatu basah yang tidak nyaman.
Sampai di Rumpin aku kembali dalam kebingungan, beberapa ojek menawari aku tapi aku tolak. Kemudian aku bertanya pada penjaga sebuah toko pulsa, dia tidak tahu menahu. Aku tanyakan pada seorang pemuda, juga tidak tahu tentang dimana LAPAN berada. Sempat terbesit dalam benaku bahwa aku tersesat!
Setelah aku tanyakan pada seorang Ibu penjaga toko kelontong, beliau menjelaskan bahwa tidak ada kendaraan dari sini selain ojek yang bisa sampai di LAPAN. Sang Ibu jelaskan bahwa perjalanan masih jauh, dengan jalanan terjal dan buruk. Mampus! Dalam benaku. Ongkos ojek akan sangat mahal pastinya, sedangkan uang di dalam dompet tersisa Rp.9.000,- karena belum sempat mengambil uang di ATM meski temanku telah kabari bahwa uang sudah terkirim. Aku lihat sekitar, disana tidak ada ATM. Tempat itu hanya sebuah desa dengan terminal angkot yang  kecil, sekitar setengah lapangan bola. Kemudian ibu itu beri saran agar aku menuju Parung dengan angkot. Aku tanyakan apakah ada ATM disana, ibu itu menjawabnya dengan ada. Syukurlah, dalam benaku. Aku sudah berada di kecamatan yang dituju, dan ketika itu juga mendapatkan saran untuk kembali memutar, untuk sampai ditempat yang sebenarnya dituju.
Supir Angkot dalam perjalanaku ke Parung berbedan dengan Sang Sopir dari Leuwing Liang menuju Rumpin yang terkesan Religius. Dia lebih terkesan jenaka dan lucu beberapa kali aku tertawa karena candaannya, sempat juga si Sopir ikut berjudi togel dengan temannya.
“pasang 5 rebu aja yah! Serebu-serebu tuh, jadinya 5 gua pasang!” Si sopir turut dalam judi kelas kampung yang murni bertumpu pada keberuntungan.
Parung ternyata daerah persinggahan yang cukup besar, maksudnya bukan luasnya yang besar, tapi banyak gedung besar jika dibandingkan dengan Rumpin. Aku sempatkan mengambil uang untuk mencukupi ongkos perjalananku, sempat aku tanyakan pada seorang polisi di dekat sebuah ATM. Dia jelaskan tentang kendaraan-kendaraan yang harus aku naiki. Aku nilai dari penjelasannya, bahwa perjalananku masihlah panjang! Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 mungkin orang-orang di  LAPAN sudah bersiap untuk pulang!
Dari parung aku menaiki bis kecil sebesar Kopaja Jakarta ke arah Serpong. Di dalam bis aku duduk paling belakang, pojok paling kiri persis disamping pintu bis yang terbuka. Andai bis ini bertabrakan atau tergelincir, aku pikir mudah bagiku untuk mati. Di tengah hidup yang sulit ini, mengingat mati cukup menenangkan.
Aku sedang dalam kondisi sulit, andaikan ketika itu kematian terjadi, maka kesulitan hilang begitu saja. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara aku mati. Ketika itu aku sedang dalam perjalanan yang  bersangkutan dengan urusan menimba ilmu. Aku pikir itu adalah salah satu pengabdianku atas perintah Allah SWT. Maka ada kesempatan besar untuk mendapatkan tempat yang baik disisinya kelak di akhirat.
Mengingat kematian adalah cara untuk menenangkan diri sendiri disaat tertimpa masalah. Aku merasa kasihan pada orang yang tertimpa masalah besar, dan akan merasa lebih kasihan lagi ketika dia jatuh pada perkara yang lebih merugikan misalnya jatuh pada ke-musryikan. Apakah dia tidak mengetahui, bahwa ada tempat yang baik di akhirat bagi orang-orang sabar. Dan hanya tersisa neraka bagi dia yang menyekutukan Allah SWT. Kesadaran itu akan memberikan kita kekuatan untuk berbuat yang terbaik disaat kondisi tersulit dalam hidup. Meskipun begitu, aku tidak merasa bahwa kisah ini adalah kondisi tersulit yang pernah aku lewati.
Sesampainya di Serpong aku turun dari bis yang sebenarnya berakhir di Tanggerang, kemudian naik angkot ke arah Cikokol. Benar saja angkot melewati Jl.Lapan. LAPAN berada di Jl.Lapan no.2, Rumpin.
Perjalanan cukup lama menguras kesabaran. Sesampainya di gerbang LAPAN, aku masih harus berjalan sekitar 400m menuju kantor LAPAN. Ketika itu hujan rintik-rintik masih turun mungkin terjadi hampir diseluruh Bogor. Sepatu dan kaos kaki sudah basah sejak tadi, baju yang aku kenakan sedikit demi sedikit menjadi kuyup.
Aku sampai tepat di depan Pos Satpam LAPAN. Kemudian aku jelaskan maksud kedatanganku. Satpam jelaskan bahwa kantor sudah tidak ada orang sebagaimana dugaanku. Ketika itu waktu menujukan pukul 17.00 wajar saja!
Kebingungan kembali datang! Proposal itu ditujukan kepada bagian Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) LAPAN. Mana aku tahu kalau ternyata bagian itu masih sekitar 5km dari LAPAN yang aku datangi ketika itu. Keterangan aku dapatkan dari Satpam tersebut.
Aku bersikeras untuk titipkan saja proposal kepada satpam tersebut, dan meminta agar dia menyampaikannya besok. Dia bingung, karena sejak tadi aku menahan buang air kecil, aku potong perdebatan kami. Aku meminta izin untuk menumpang kamar kecil di pos satpam tersebut. Sekembalinya dari kamar kecil, aku lihat ada komandan satpam datang.
“Mending kamu langsung ke LAPAN di sana saja, kalau dititipkan disini, nanti bingung. Takutnya malah gak ada hasil, barang kali di sana masih ada orang, biasanya ada yang kerja sampai malam.” Komandan satpam berikan saran padaku.
Sudahlah, tanpa berfikir panjang aku turuti saja sarannya. Aku tanyakan tentang bagaimana aku sampai kesana. Dia berikan saran agar aku mencari ojek di jalan besar sebelum aku masuk gerbang LAPAN. Ujungnya aku tetap naik ojek! Meskipun sekarang tidak masalah, karena dompet sudah cukup terisi uang.
Sampai di jalan besar, tidak terlihat satupun ojek mangkal, hanya ada hamparan tanah luas yang rata, mungkin akan dibangun suatu bangunan di atasnya. Aku bertanya pada seorang, dia katakan agar aku naik angkot jika mau ke pangkalan ojek. Terpaksa aku naik angkot yang berlawanan arah dengan sebelumnya. Naik angkot untuk naik ojek, terdengar sedikit aneh.
Sesampainya di pangkalan ojek, tawar menawar tejadi:
“Lapan berapa bang?” Aku bertanya.
“20 rebu deh.”
“ kalo 15 rebu saya naik deh.” Dengan nada menawar.
“20 rebu ajalah.”
“Ok tapi bolak balik sampai sini lagi yah bang”
“Lama gak disana?”
“Egak, cuma kasih proposal doang, paling ke Satpam disana.”
 “Ayo deh!”
Setelah naik, aku baru ingat kalimat diatas masih rancu.
“Bang, bukan LAPAN sana loh bang, tapi LAPAN Pustekroket yang sananya lagi!” Aku mencoba menjelaskan.
“Wah kalau itu 20 rebu sekali jalan.”
“Ah elah beda 4-5km doang juga bang.” aku mencoba menawar kembali meski si Abang sudah tancap gas.
“25 rebu, ini lagi hujan.”
“Yah sama saya juga kehujanan bang!” Agak meninggi nada suara saya.
Sejenak kami terdiam.
“Ya udah deh bang 25 rebu bolak-balik” aku mencoba berbaik hati.
“Ayo deh” Si abang menjawab tanda sepakat.
Jika aku ingat-ingat, rasanya aku berhutang budi pada bapak itu. Dengan medan perjalanan yang cukup sulit ongkos Rp.25.000,- terlalu murah. Tawar menawar itu terjadi karena selain disebabkan si Abang itu butuh uang, aku butuh hemat, juga karena ada gengsi untuk memenangkan negosiasi.
Perjalanan memang cukup panjang, bukan karena jauhnya tapi kondisi jalan yang banyak rusak, ditambah si-Abang ambil jalan pintas yang belum ter-aspal. Beberapa kali kami tergelincir meski tidak sampai jatuh. Hujan rintik-tintik masih menemaniku, tak banyak percakapan yang terjadi dalam perjalanan menuju LAPAN Pustekroket.
Sesampainya di sana, aku berjalan tegap menuju pos satpam. Aku berjalan  bak jenderal bintang 5 yang baru saja pulang dari medan perang dalam kondisi menang.
“Selamat sore pak!” Satpam menyapaku, sekali ini aku disapa dengan sapaan untuk orang yang sudah tua. Aku langsung sampaikan maksud kedatanganku. Satpam jelaskan baru saja tadi beberapa pegawai pulang dari kantor. Waktu saat itu sudah menunjukan pukul 18.00. Jadi, total 9 jam aku habiskan untuk sampai ke LAPAN, sama  dengan perjalanan dari stasiun  pasar Senen ke Yogyakarta menggunakan kereta kelas Bisnis!
Aku titipkan saja proposal itu ke Satpam. seakan tak mau rugi dengan kesulitan yang sudah aku lewati, aku meminta tanda terima. Tapi satpam katakan tidak ada. Kemudian aku meminta kontak bagian Tata Usaha (TU) LAPAN untuk menanyakan proposal saya keesokannya apakah sudah diterima atau belum. Sayang satpam tersebut tak memilikinya. Salah seorang kawannya katakan bahwa dia memilikinya. Tapi HP miliknya tertinggal di rumah. Aku minta saja nomer HP-nya, agar besok bisa aku mintai nomor bagian TU LAPAN. Benar saja, esoknya dia berikan aku kontak bagian TU LAPAN dan dia juga sampaikan bahwa proposalku sudah masuk di bagian TU.
Jadi begitu saja hasil dari perjalananku, bertemu satpam kemudian titipkan proposalku, lalu melakukan cross check apakah proposal sudah masuk ataukah belum. Setelah itu tinggal menunggu jawaban apakah aku diterima atau tidak untuk Kerja Praktek di lembaga milik negara tersebut. Aku berharap untuk diterima, akan pecuma perjuanganku sejauh ini jika ditolak.
Dalam perjalanan pulang menuju pangkalan ojek, aku cukup banyak berbincang dengan tukang ojek tersebut.
“Mau Kerja Praktek saya disini bang, jauh juga saya jalan hari ini, dari stasiun Bogor sampai sini, berangkat jam 9 sampai jam 6 sore, gila!” Aku menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya oleh bapak itu.
“wah jauh banget dari Bogor!”
“Ternyata LAPAN di pedalaman yah bang.”
“Haha,, iyah.”
“Dataran tinggi disini yah bang?” aku bertanya.
“Iyah dataran tinggi.”
“Wah biar deket ke satelit kali yah, kan LAPAN kerjanya ngendaliin satelit tuh dari Bumi.”
“Haha,, iyah kali yah.”
“Saya sudah terlajur susah sampai kesini, kalau pepatah teman saya, kalau sudah kehujanan mandi sekalian, udah jauh perjalanan saya, mau gak mau deh saya lanjutkan.”
“haha,, iyalah.” Si abang tertawa dan setuju.
Selama perjalanan itu saya mencoba mencari informasi bagaimana sebenarnya rute yang harus saya tempuh dari Depok sampai LAPAN.  Juga saya tanyakan pada tukang ojek itu. Sesuai dugaan saya sejak dari perjalanan Leuwih Liang-Rumpin, jalan pulang dari LAPAN ke Depok tidak sejauh ketika berangkat. Penjelasan cukup jelas saya dapatkan dari supir angkot Rumpin-Parung. Seharusnya dari Depok saya naik angkot nomor 03 langsung menuju Parung! Dari Parung langsung menuju Serpong, terakhir naik angkot ke arah Cikokol. Sial memang!
Perjalanan pulang tidak selama berangkat, aku sampai Depok kurang dari 2 jam!
***06/01/2012****
Kulihat burung gereja terbang kemudian hinggap di atas genteng stasiun kereta api pasar Senen. Hari belumlah siang masih menunjukan pukul 8.00 pagi. Kurang dari 15 menit lagi kereta Saung Galih yang aku naiki akan memulai perjalanan. Aku merasakan sejuknya angin yang menerpa wajahku. Matahari belum terlalu panas membakar kulit, udara masih terasa segar. Inilah salah satu sudut kota Jakarta, kota seribu umat yang berjuang berebut nafas kehidupan.
Aku resapi nikmat tuhan tiada tara pagi itu. Aku tidak dapat menyangkal kasih sayang tuhan yang memberikan aku kehidupan dan memberikan panca indera sehingga dapat merasakan pagi yang begitu tentram menenangkan jiwa. Sejenak segala cobaan yang aku terima terlupakan begitu saja, hatiku menjadi tenang ketika bersyukur.
Meskipun masalah kembali menimpaku pagi itu. Aku terlambat datang ke stasiun karena kebodohanku menaiki KRL dari stasiun UI langsung menuju stasiun Pasar Senen. Rupanya rute kereta itu memutar melewati stasiun Tanah Abang. Pada akhirnya kereta itu lebih lambat dari rute yang biasanya aku lalui. Biasanya aku menaiki KRL dari depok jurusan kota, turun di stasiun Gambir, lanjut naik Mikrolet hingga sampai di pasar Senen, biasanya aku tiba kurang dari satu jam. pagi itu aku membutuhkan waktu untuk sampai Stasiun Senin sekitar 1,5 Jam membuat tiket kereta yang sudah aku beli seminggu sebelumnya hangus tak terpakai. Kerugian secara materi menimpaku lagi. Terpaksa aku membeli kerta Saung Galih jurusan Kutuarjo. Kereta Saung Galih adalah kereta kelas Bisnis karena tiket kereta kelas Ekonomi sudah habis terjual.
Baiklah tuhan, aku mengerti sekarang! Kau ajarkan aku berhitung dengan cobaan yang kau berikan. Kau paksa aku agar aku berpengetahuan. Sungguh jika aku tahu tentang semuanya tak akan sampai aku sesulit ini. untunglah kesulitan ini aku bawa sendiri, tanpa kawan, kekasih, keluarga, atau bahkan anak-anaku kelak. Tak ada siapapun yang aku sulitkan karena kebodohanku, hanya aku sendiri! Terimakasih tuhan kau berikan cobaan demi cobaan saat aku semuda ini. Aku bersyukur padamu tuhan.
Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun, dihadapanku duduk seorang bapak paruh baya. Aku buka perbincangan dengan menayakan hendak kemana tempat yang bapak itu tuju.
“Pulang kampung pak ke Purwokerto?” aku bertanya kembali setelah tahu dia hendak ke Purwokerto.
“Egak, ini anter kakak berobat. Dia sakit maag akut, Alhamdulillah sekarang sudah baikan setelah di terapi herbal oleh Dr.M.”
“Ohh.. Alhamdulillah yah pak.”
“Kamu mau kemana?”
“Saya ke Jogja pak, ini turun di Kutuarjo nanti lanjut pake kereta Pramex jurusan Jogja atau Solo. Itu dokter apa memangnya pak?”
“Dia sebenarnya ahli saraf, selain belajar di dunia akademis dia juga belajar pengobatan tradisional dari Cina. Sudah keliling dunia untuk belajar, sekarang juga keliling dunia untuk mengobati. Sekarang praktek di Purwokerto, dulu kakak saya gak bisa ngapa-ngapain, kerjanya hanya tidur! tapi sekarang sedikit-sedikit sudah bisa masak dan melakukan pekerjaan sehari-hari.”
“Berapa habis biaya untuk pengobatannya pak?”
“Wah sudah habis puluhan juta! Dulu pernah dirawat di rumah sakit, pernah juga dioperasi, tapi hasilnya kurang memuaskan. Alhamdulillah setelah di terapi sama Dr.M membaik.”
“Sehat memang mahal yah pak.”
“Wah iyah!”
Aku tertegun, sepertinya tuhan hadirkan pembicaraan ini agar aku bisa tabah pada cobaan yang tidak seberapa dibanding dengan cobaan orang lain yang lebih berat.
Bapak itu bercerita dengan semangat, suaranya keras-kerasan dengan bisingnya suara kereta ekonomi. Aku tertarik pada pembicaraannya, dengan gaya khas Jakarta dia bercerita sana-sini dari mulai dokter itu hingga hal ikhwal pengalaman kerjanya dan pengalaman ketika dia duduk di bangku kuliah.
Selang agak lama, aku pindah tempat duduk mencari tempat yang kosong untuk aku membaca dengan tenang. Aku harus selesaikan buku biografi singkat Mohamad Hatta 1902-1980. Besok aku akan menjadi moderator  bedah buku yang sedang aku baca.
Setelah selesai membaca buku yang menurutku cukup menarik, perjalanan menjadi sangat membosankan. Gelisah datang dari perut karena lapar, wadah itu belum terisi makanan dari pagi. Uang tersisa Rp.13.000,- hanya cukup untuk membeli tiket kereta Pramex nanti. Kemudian aku bingung dengan apa aku membayar jasa penitipan motor di stasiun Lempuyangan-Yogyakarta. Aku meminta bantuan pada seorang kawanku yang dulu selama lebih dari setahun kami saling cinta (you know I mean). Aku meminjam uang padanya, untunglah dia mengiyahkan. Dia gadis cantik yang masih aku cintai hingga kini dengan cara berbeda tentunya.
Sesampainya di Kutuarjo untunglah aku menemukan Mesin ATM di dekat Stasiun. Kalau tahu begini dari tadi aku gunakan sisa uang itu untuk makan! segera aku ambil uang itu, kemudian aku bayar tuntas jeritan perut kosong selama perjalanan.
Sesampainya di Lempuyangan aku ambil motorku yang sudah 6 hari aku titipkan disebuah penitipan Motor dekat stasiun, ketika keluar kurasa ban kempes. Aku mencari tukang Pompa.
“Bocor mas?”
“Egak pak, mungkin kempes aja.”
“Bisa di pompa pak?”
“Iyah coba aja.”
Ternyata di pompa tak berhasil, artinya ban motor itu bocor. Ah, aku sudah selelah ini masih saja ada masalah datang.
Ban di tambal, aku menunggu dengan sabar. Setelah selesai kembali muncul masalah.
“Wah ini bocornya banyak mas, ada 3, ganti aja pake ban dalam bekas, cuma nambah 5 ribu, dari pada mas-nya tambal semua, habis 15 ribu kan?”
“Ya sudah ganti saja pak, gak ada yang baru sekalian pak?” Aku tak mau ambil sulit lagi.
“Gak ada di sini, yang penting mas-nya sampai rumah dulu, nanti setelah itu mau di ganti yang baru gak apa-apa.”
“Iyah-iyah pak.”
Aku sampai rumah kontrakan dan langsung terkapar. Tidurku malam itu NYEYAK sekali, mungkin karena lelah.
-Ada pelajaran dalam setiap perjalanan-
*Beberapa tokoh dalam cerita itu bukan nama sebenarnya. ‘Aku’ dalam cerita itu juga tidak sebenar-benarnya menggambarkan tentang sosok penulis.
Standar
Cerpen, Just Write, Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Kelor

Ternyata dunia tak selebar daun kelor- Kenapa pula istilah “lebar” dikaitakan dengan daun kelor yang dalam urusan lebar jauh lebih sempit dari daun jati misalnya. Itu adalah salah satu pepatah yang aku tak tau dari mana dan dari siapa pepatah itu berasal. Orang macam apa yang telah melontarkan pepatah itu pertama kali, aku ingin tanyakan mengapa daun kelor yang dipilih sebagai pembanding dunia, bahkan dianggap lebih lebar dari dunia. Apakah dia telah membaca fakta-fakta ilmiah tentang kelor sebelumnya, atau muncul begitu saja secara intuitif. Karena biasanya intuisi lebih dulu dari rasionalitas, intuisi bagaikan bisikan mistis yang memberikan pengetahuan sebelum panca indera kita berhasil mengecapnya. Begitulah pepatah, kadang mengandung kearifan yang jauh lebih besar dari pada makna harfiahnya.

Baik, tinggalkan dulu masalah asal-muasal pepatah itu. Menurut seorang peneliti Michael Lea dari sebuah institusi riset Clearing House-Kanada (aku asal catut) menyebut bahwa pohon kelor pantas dijuluki pohon yang paling berguna di dunia. Jika dilihat dari sejuta manfaatnya baik secara ilmiah maupun gaib, aku sepakat dengan julukan itu. Mitosnya kelor dapat mengusir mahluk halus, atau akan membuat kesakitan jika ditempelkan pada pengguna susuk, benar atau tidak aku belum pernah mencobanya. Kau bisa cari sendiri tentang fakta ilmiah kandungan dan manfaat dari akar, batang, kulit batang, daun, bunga hingga biji. Saat ini banyak lembaga dunia menyarankan penanaman kelor terutama di daerah-daerah yang rawan malnutrisi.

Aku mengenal sedikit lebih jauh tentang kelor ketika secara sepintas melihat tanyangan si Unyil di sebuah TV swasta. Dari sana aku tahu bahwa kelor telah ditanam di atas hektaran lahan, artinya kelor menyimpan potensi ekonomi yang lumayan sehingga pantas dibudidayakan. Mencari referensi lain melalui search engine aku menemukan data yang lebih lengkap tentang manfaat dan kandungan kelor. Karena banyaknya manfaat pada kelor aku tertarik untuk menanamnya.

Menanam kelor aku anggap sebagai salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga kelestarian se-isi bumi. Ketika sore, sepulang dari sungai tempat aku biasa melepas penat aku menemukan jajaran tanaman kelor yang dijadikan sebagai tanaman pagar. Beberapa tumbuh tinggi berdaun tidak cukup lebat, beberapa lagi kering-kerontang namun telah menghasilkan biji yang masih menggantung. Biji itu seperti pohonnya telah mengering mungkin akibat sudah tua dan kekurangan air. Cukup senang melihatnya, karena dengan bijinya aku dapat mendapatkan tanaman kelor dengan akar tunggang yang tertancap dalam di bawah tanah, akar-akar itu akan banyak menampung air dan tidak merebut unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dengan akar yang lebih pendek. Aku berdoa pada Allah SWT, karena hanya dengan kebesarannya sesuatu dapat hidup dan mati dan hanya dengan kemurahannya sesuatu dapat memberikan manfaat.

Aku rendam biji yang telah aku ambil, yang sebenarnya tanpa izin, walau orang desa tidak akan menjadikannya perkara besar. dan dalam keyakinanku, sebenarnya aku membantu menyelamatkan biji ini dari kematian. Semoga tumbuh dengan baik. amin. 🙂

Standar
Buku Saya, Kisah tentang Hidup

Buku Grammar Rusak

Akhir-akhir ini saya sedang bersemangat belajar grammar bahasa Inggris. Itu karena saya merasa ada tuntutan untuk dapat memahami dan menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Bosan rasanya jadi orang yang biasa saja dalam menggunakan bahasa satu ini, ada keinginan untuk menjadi The Great User of English Langguage (maksudya pintar dalam berhasa inggris) suatu keinginan yang cukup terlambat. Meskipun sebelumnya, kita pernah dituntut untuk dapat berbahasa inggris, entah di sekolah atau di kampus, namun rasanya belum tuntas, ada beberapa bacaan yang belum dapat saya pahami maksudnya, parameter paling jelas adalah ketika menonton filem Holywood, pastilah subtitle masih dibutuhkan. Itu artinya saya belum tuntas dengan urusan satu ini.

Satu hal yang cukup membantu dalam urusan ini adalah buku Essentials of English Grammar karangan Fuad Mas’ud. Karena merasa cukup terbantu saya doakan Bapak Fuad Mas’ud diberikan pahala berlimpah dan umur panjang oleh Allah SWT atas jasanya membuat buku ini. Orang berilmu macam Bapak Fuad Mas’ud harus dipanjangkan umurnya oleh Allah SWT sebagaimana orang-orang berilmu lainnya, apalagi orang yang berilmu dan dengan ilmunya membawa orang tersebut pada kebaikan dirinya sendiri. Apa jadinya umat manusia jika orang-orang berilmu umurnya pendek?

Buku ini cukup menarik karena memiliki isi yang cukup lengkap tentang gramatika bahasa Inggris. Penjelasan cukup ringkas dan jelas, disertai contoh-contoh yang diperlukan tanpa disertai latihan-latihan tetek bengek seperti pada buku-buku grammar bahasa inggris disekolahan. Ada teknik khusus yang ingin saya bagi pada sidang pembaca tentang bagaimana saya membaca buku ini. Pertama, saya membaca secara keseluruhan isi buku dengan cepat, hanya untuk memahami tentang poin-poin dalam gramatika bahasa Inggris. Misalkan tentang The Part of Speech bagian Adjective, saya cukup fahami apa itu Adjective, digunakan untuk apa dan membaca sedikit contoh, setelah dapat poinnya lanjutkan ke bagian selanjutnya. Kedua, setelah membaca keseluruhan isi buku, saya melakukan uji coba pemahaman menggunakan software simulasi Toefl (NST Electronic Publishing) dan hasilnya jauh dari rasa puas. Dari ketidakpuasan saya kembali membuka dan membaca dengan cermat bagian-bagian tertentu yang berkaitan dengan soal yang disuguhkan oleh software tersebut. Karena semangatnya, buku itu sering saya bolak-balik, melompat dari bagian satu kebagian lainnya, sehingga ada bagian-bagian kertas yang sobek, kusut sudah pasti. Beberapa bagian saya corat-coret untuk menandai hal yang penting. Langkah kedua diatas membantu saya untuk memahami konteks dari teori-teori yang disuguhkan oleh buku karangan Bapak Fuad Mas’ud.

Satu ketika sedang enak belajar, ada pesan masuk melalui Facebook.

“Apa kabar bang?” seorang kawan mengirimkan pesan.

“Baik-baik.” saya jawab.

“Apa agenda selanjutnya bang?”

“Agenda siapa nih?” saya bertanya balik.

“Agenda abang lah.”

“Oh.. lagi belajar aja nih, belum ada pekerjaan yang berarti.” Ma’lum pengangguran.

“Wah, abang masih belajar juga.”

“Belajar sampai liang lahat.” Balasku.

“Wah kirain orang pintar gak perlu belajar,hehe.. “

Batinku bertanya-tanya tentang apa yang telah aku lakukan sampai dibilang pintar begitu.

Belajar memang enak, itu mengapa ketika seorang sedang belajar kemudian merasa terganggu, dia akan berkomentar: “Enak-enak belajar malah diganggu!”

Baiklah, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bernilai. Ini hanya karena saya sedang penat dengan aturan-aturan dalam Grammar bahasa Inggris, bolehlah saya membuat tulisan sekehendak hati saya saja.

Standar
Kisah tentang Hidup

Yogyakarta – Ponorogo

Rapat organisasi yang berkepanjangan, menyita waktu istirahat. Mungkin kita harus belajar efektifitas dan evesiensi dalam berbicara, supaya intensitas omongan tidak mengalahkan intensitas aksi. Karena waktu istirahat tersita, aku merasa kurang tidur hari ini. Padahal pagi hari aku harus bertolak dari Yogyakarta ke Ponorogo tepatnya Ponpes Gontor I, tempat saudaraku menuntut ilmu, sekedar untuk menjenguk dan menghadiri undangan dari adeku untuk menyaksikan Panggung Gembira salah satu pergelaran seni yang ditampilkan oleh santri kelas V Gontor.

Dengan tidur kurang dari 4 jam, pukul 1 siang baru aku dapat melaju kencang dengan motor Honda Tiger. Sesuai arahan dari seorang kawan, belok kanan di daerah prambanan mengambil jalan alternatif arah Wonogiri. Jalanan tidak selebar jalan utama walau cukup sepi. Aku rasa badanku kurang begitu bugar hari ini. Mungkin ini menyebabkan konsentrasiku sedikit buyar, Karena tiba-tiba saja sebuah motor bebek dari arah kiri berbalik arah tanpa sebelumnya memberikan aba-aba dengan lampu sigh. Aku kaget, untung saja refleku masih berjalan, kemudi motor mengarah ketengah jalan. Ban depan dari motor bebek tersebut terkena bagian samping dari motorku, untung tidak ada yang jatuh diantara kami. Aku berhenti tepat di bahu kanan jalan, mencoba menurunkan gigi tapi tidak bisa, ternyata persneling motor bengkok sehingga macet ketika diinjak. Aku mengeber gas dengan setengah kopling agar motor dapat berjalan kearah motor yang hampir tertabrak tadi.
Motor bebek tersebut dikendarai oleh seorang bapak tua, aku memang tidak marah, dan tidak akan sampai hati memarahi orang tua.
“Bapak tidak apa-apa?” tanyaku pada si bapak.
“Tidak apa-apa mas, tidak apa-apa”
“Motornya baik-baik aja pak?”
“gak apa-apa mas” Meski begitu, muka si Bapak terlihat panik, mungkin karena kaget. Aku sedikit gemetaran, membayangkan kejadian yang lebih parah.
Terlihat beberapa orang keluar dari tempatnya dan seorang satpam keluar dari posnya.
“Bengkel sebelah mana yah bu? gigi motor saya bengkok” Tanyaku pada seorang ibu-ibu.
“Itu mas, disebelah” Untung saja bengkel sama sekali tidak jauh dari lokasi kejadian. Tepat disebelah warung si Ibu yang menjawab.
Aku lantas meminta mekanik membenarkan kerusakan ringan tersebut, aku sempat meneguk minuman untuk menenangkan diri, kadang kejadian kecil seperti ini jatuhkan mental. kadang orang-orang berfikir ini suatu tanda akan kejadian yang lebih besar. Aku buyarkan bayangan yang tidak enak itu, dengan meminta perlindungan pada Allah, dan serahkan segala keputusan tentang urusan masa depan yang tak terkira padanya. Ketika aku akan membayar jasa perbaikan, Sang Mekanik menolak. Sedikit membujuk, sang Mekanik tetap menolak. Pada akhirnya aku ucapkan terimakasih dengan mendalam. Manusia yang menolong orang yang sedang kesulitan akan mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah, begitu doaku pada akhirnya.
Aku permisi pada bapak dan ibu yang berada ditempat itu, si ibu nasihati aku untuk berhati-hati dan jangan kebut-kebutan, aku indahkan nasihat tersebut. Lebih baik terlambat dari pada terlalu cepat masuk alam baka, karena masih banyak yang harus aku lakukan dalam hidup ini.
Perjalanan tetap aku lanjutkan. Karena ini jalan baru yang aku lewati, aku banyak bertanya sepanjang perjalanan. Ketika aku lihat birunya air dari danau yang luas, aku bertanya-tanya danau apakah ini. Kawan pernah bercerita tentang sebuah danau di Wonogiri, hanya saja aku lupa namanya. Dari plang nama akhirnya aku tahu itu danau Gajah Mungkur. Aku nikmati dengan seksama, pada akhirnya aku tergerak untuk berhenti dan menikmati danau lebih dekat. Danau seluas 8800ha ini mengairi sawah seluas 23.600 ha sawah di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan Sragen. Selain itu memasok air minum kota Wonogiri dan menghasilan listrik dari PLTA sebesar 12,4 MegaWatt!! Sebelum danau ini ada pada tahun 1978 (beroperasi) ditempati oleh penduduk dari 7 kecamatan, pak Harto memindahkan mereka kedaerah Sumatera Barat. Terdengan kejam, namun dilihat dari manfaatnya, luar biasa. Sebagian orang harus dikorbankan untuk menopang kehidupan anak cucu generasi setelahnya. Pak Harto memang bertangan besi untuk urusan ini. Dibalik layar pembangunan danau ini tentu ada cerita-cerita yang memilukan, siapa yang rela meninggalkan tanah nenek moyang? Pak Harto memang punya banyak jasa, sekaligus punya banyak dosa begitu kata Gusdur yang pernah aku dengar. Setidaknya Ia bekerja untuk bangsa.
Sekitar pukul 17.00 aku sampai di kota Wonogiri dan berhenti disebuah masjid untuk tunaikan Shalat Ashar. Aku lihat ada seorang bapak tua duduk di serambi mesjid, aku berikan senyuman ramah sambil sedikit menundukan kepala tanda hormat. Si bapak balas dengan senyuman yang lebih hangat. Inilah kehangatan Indonesia, Banyak orang yang murah senyum. Si Bapak itu terlihat sederhana dan ramah dimataku.
Setelah aku tunaikan shalat, sambil beristirahat aku hampiri si Bapak tadi yang masih duduk di serambi mesjid. Aku buka pembicaraan dengan tanyakan jarak yang tersisa untuk sampai di Ponorogo. Pembicaraanpun berlanjut, Si bapak bercerita bahwa dia berasal dari Delanggu-Klaten, punya anak 5 yang sudah dewasa dan sudah punya beberapa cucu. Ditugaskan menjadi penjaga mesjid oleh camat setempat, mesjid tesebut dibangun oleh Yayasan Pak Harto tahun 1991. 22 tahun si Bapak bertugas menjaga mesjid. Sibapak juga bercerita tentang Istrinya yang meninggal di Januari 2012.
“Hidup jadi nikmat kalo kita bersyukur mas.” Ucapan si Bapak yang terekam di benaku.
“Betul pak, Bapak punya banyak pahala karena sudah menjaga masjid.” Aku membenarkan dan mencoba menyenangkan hati si Bapak.
Aku bercerita tentang asalku dari Subang-Jawa Barat. Si Bapak bercerita pernah ke Subang suatu ketika, mengikuti Bung Karno (Soekarno) mengontrol daerah-daerah. Dia katakan bahwa dia cukup dekat dengan Bung Karno sewaktu dulu dia pernah tinggal didaerah Kemayoran-Jakarta. Bung Karno memang pemimpin besar, banyak orang yang akan merasa dekat dengannya benaku bicara. Bahkan tidak sedikit orang yang rela mengucurkan darah bahkan nyawa untuk melindungi Bung Karno sang komandan tertinggi Revolusi Indonesia. 2 presiden itu kini ada dalam kepalaku, kita generasi yang lebih muda akan menjadi penerus mereka. Khayalku melayang, membayangkan sedang berbicara pada 2 presiden itu, aku minta, mampuhkanlah agar kami mampu berbuat lebih baik dari yang kalian lakukan.
Tibalah aku di Ponpes Gontor I, rupayanya saudaraku sudah menunggu sehingga tidak perlu repot mencari lagi. Berbincang sebentar, setelah itu aku belikan dia makan. Selesai makan dia kembali menjalankan aktifitas seperti biasanya. Aku pergi kewarung untuk membeli minuman hangat. Di dalam warung ada beberapa orang, aku duduk disalah satu meja, di hadapanku duduk seorang bapak-bapak. Seperti biasanya, tidak sulit untuk memulai suatu obrolan dengan seseorang di negara ini, apa lagi sudah ada 2 gelas minuman hangat di hadapan, tinggal pancing dengan satu pertanyaan cerita akan melebar dengan ratusan pernyataan.
Begitulah si Bapak juga bercerita, sambil menunjuk padaku dia katakan:
“Hidup saya keras, mungkin tidak sekeras mas-nya, kamu harus bersyukur”
“iyah betul pak” Aku membenarkan.
“Waktu SMP orang tua saya terkena strok, begitu lulus SMP saya langsung jadi kuli bangunan, bekerja untuk menghidupi diri saya, sekolah saya, keluarga dan saudara-saudara saya”
Aku serius mendengarkan.
“Karena alasan Ekonomi, akhirnya saya putuskan untuk pergi dari kampung halaman dengan membawa uang Rp.5.000,-, ketika itu saya hitung dengan uang segitu, saya bisa sampai mana? saya tanyakan pada konektur-konektur bis, rupanya hanya sampai Yogyakarta. Maka pergilah saya kesana, ongkos dari Semarang ke Yogya ketika itu Rp.2.500,-. Sampailah saya di daerah Babarsari tidak tau harus kemana, akhirnya saya hampiri sebuah warung penyetan, saya tawarkan diri saya untuk bekerja, disitulah tempat saya tinggal sementara”
Aku lihat mata si Bapak memerah, mungkin berat mengingat kisah lama ini.
“Saya selalu punya keinginan, disetiap tempat saya bekerja saya harus menjadi Bos, dan itu selalu terbukti, pertama ketika saya jadi kuli bangunan pada akhirnya saya menjadi Bos untuk membangun rumah saya sendiri. Lalu di warung penyetan tersebut, Bos penyetan tersebut bermasalah dengan keluarga, saya diberikan tanggung jawab besar ditempat itu, dengan keseriusan saya pada akhirnya saya mendapatkan omzet Rp.300.000/hari, untung bersih Rp.50.000, padahal ketika itu gajih PNS Rp.50.000/bulan. Saya mengantongi Rp.50.000/hari. Apa tidak kaya saya mas? Saya selalu bersyukur, dan setiap perkerjaan yang saya lakukan saya selalu bersungguh-sungguh, tidak mau setengah-setengah.”
wah.. wah..
“Tapi gara-gara itu saya rusak” bapak itu menambahi
“Gara-gara itu saya main perempuan, minum-minuman, judi, merokok, wah rusak lah pokoknya, untung saja sempat insyaf.”
“Jadi gara-gara banyak uang justru malah rusak yah mas.
“iyah mas”
Bapak itu masih terus bercerita, pada akhirnya dia ikuti seleksi masuk PNS dan lulus dengan Izajah SMA, diterima di Departement Sosial, sampai sekarang masih bekerja disana sekaligus punya beberapa bisnis. Selain bekerja, ia ambil kuliah di UNDIP jurusan Kesehatan Masyarkat tahun 2010, teman-teman sekelasnya rata-rata kelahiran tahun 1991-1992 dia sendiri kelahiran 1978. wah terpaut jauh sekali. Aku sempatkan berkenalan dan meminta nomer HP, barang kali suatu saat saya memerlukan kerjasama bisnis dengannya. Dia membuka tangan lebar-lebar untuk itu.
“kalo masnya mau belajar, datang saja mas!”
“Siap pak” tidak berselang lama dari situ, si Bapak Izin pamit. Sayapun ikut pergi.
Malam hari, ketika tidak ada yang bisa aku kerjakan, aku menuliskan cerita sederhana ini.. mungkin saja bisa berarti..
Standar
Kisah tentang Hidup

Dulu Sekali,

Dulu sekali, sekitar enam tahun kebelakang, sakitar satu mingu dari pertama kali masuk kelas perkuliahan, ketika aku masih menyandang sebagai mahasiswa baru. Aku duduk di kursi mobil bis kecil menuju terminal Jombor, ini perjalanan pulang dari aktifitas perkuliahaan di Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km.14,5. Kosanku berada di Jl.Kaliurang Km.10 tidak seberapa jauh sebenarnya, namun karena memang kendaraan umum ini berjalan dengan pelan, pernah suatu ketika memakan waktu sampai satu jam. Sang Sopir sepertinya tidak menginjak pedal gas, karena jalanan menurun sang sopir hanya memainkan rem dan kopling, mungkin maksudnya menghemat BBM.

Ketika aku duduk itu, aku larut dalam perenungan, Kampus FTI UII bertempat diposisi paling belakang dari areal kampus UII pusat di Kaliurang, aku jalan kaki dari kampus hingga jalan besar sekitar 1Km. Sementara motor lalu lalang dijalan, aku tetap berjalan sendiri tanpa ada teman yang menawarkan tumpangan.

“Begini rasanya tidak punya kawan” batinku bicara, kau hanya sendiri ditengah lingkungan yang dingin, tidak ada yang hiraukan, tidak ada kawan yang temanimu berjalan. Mahasiswa jurusan Teknik Elektro FTI UII hanya berjumlah 42 orang. Jumlah itu bukan jumlah yang banyak untuk ukuran teman. Sebagian punya motor, sebagian tinggal di kosan sekitar kampus. Hanya aku yang perlu jalan ke Bulovard UII untuk naik angkutan umum seingatku. Itulah yang menjadi awal perenunganku yang berakhir pada ambisi.

Yah rasa kesepian itu melahirkan sebuah renungan, kemudian renungan menjadi sebuah ambisi. Inginku suatu saat nanti, aku menjadi orang yang disegani, memilki banyak kawan, dihormati dan punya pengaruh. Kira-kira ambisi semacam itu. Karena memang didukung suasana, ambisi itu masuk kedalam lubuk hati, meski seiring waktu berjalan ambisi itu tidak lagi terlalu dipikirkan, paling tidak pikiran alam sadar.

Renungan itu yang pada akhirnya mendorong aku untuk mendaftarkan diri di LEM UII (Lembaga Eksekutif Mahasiswa UII) sebuah lembaga kemahasiswaan tingkat Universitas. Tujuannya sederhana, aku ingin punya kawan lebih dari 42 orang!  Tanpa disangka ditunjuk untuk menjadi wakil bendahar umum, meski selama menjabat peranku tidak begitu signifikan. Darisanalah semua bermula, semua pengalaman setelahnya, pengalaman yang tidak akan pernah terlupa. Selanjutnya aku pernah ditunjuk menjadi ketua SC Poseudon (Expo Seni Budaya Indonesia) pada tahun 2009, Menjadi ketua SC PETA (Pekan Ta’aruf Mahasiswa) FTI UII atau lebih dikenal sebagai ospek FTI UII (meski aku tidak pernah mengikuti ospek mahasiswa). Diamanahi dalam forum RAK HMI FTI UII menjadi ketua Komisariat FTI periode 2010-2011. Diamanahi menjadi staff Komisi IV DPM UII. Terakhir diamanahi dalam forum Konferca menjadi Ketua HMI Cabang Yogyakarta periode 2013-2014. Pada akhirnya justru aku tidak terlalu banyak bergaul dengan kawan 42 orang diatas, lebih banyak bergaul dengan kawan dari berbagai jurusan, di HMI bahkan bergaul dengan kawan berbagai macam Universitas yang tergabung diberbagai organisasi pergerakan Mahasiswa. Satu tujuan tercapai, aku punya banyak kawan!

Apakah aku cukup disegani dan dihormati? Tentu saja! Tapi bukan sepenuhnya karena jabatan yang melekat yang aku beberkan dengan sedikit sombong diatas. Bayangkan saja, studi S1 yang aku tempuh hingga saat ini hampir 6 tahun, rata-rata masa studi S1 4 tahun, tentu aku menjadi orang yang terlambat lulus. Praktis ketika di kampus sulit bagiku menemui kawan satu angkatan, lebih banyak bertemu dengan “junior”. Sudah menjadi kesopanan umum, yang muda harus menghormati yang lebih tua. Begitulah aku mendapat hormat. begitu juga pergaulanku diorganisasi kemahasiswaan, aku menjadi orang yang cukup berpengalaman sehingga punya pengaruh. Pengalaman dari tempaan waktu.

Apakah ambisiku tercapai? Yah tentu saja! Meski pikiran alam sadarku sebenarnya tidak terlalu memikirkan ambisi itu, tapi alam bawah sadar seolah menyusun rencananya sendiri. Pada akhirnya kita sepenuhnya sadar, impian telah tercapai, meski dengan cara yang tidak pernah kita rencanakan. Mungkin begitulah mimpi bekerja! Begitulah pada akhirnya, pikiran akan menjadikan siapa dirimu.

Pada akhirnya aku sudah benar-benar bosan dengan dunia perkuliahan, tidak punya lagi alasan untuk menunda kelulusan. Aku puas menjadi mahasiswa, puas dengan segalanya, puas dengan segala hasilnya, puas dengan segala pelajaran yang didapatkan, pelajaran yang justru tidak didapatkan dari kursi kuliah, justru didapatkan karena aku menjadi Mahasiswa.

Aku siap menghadapi dunia yang lebih menantang, dunia aplikasi dan objetifikasi diri! Tapi……

Semoga TA cepat berlalu!  😀

Standar
Cerpen, Kisah tentang Hidup

Pengalaman: Calo, Euggh!

Sepulang dari Kongres HMI XXIX di puncak Bogor daerah Cisarua, saya beserta pasukan diantarkan ke terminal Baranang Siang (siang-siang kok baranang) dengan angkot. Diisi oleh 11 orang termasuk supir, angkot cukup sesak ditambah jalanan berliku dan macet, menggambarkan potret kepayahan jalur puncak di Bogor.

Sampai diterminal, karna perut kosong langsung cari makan, saya dan Denni sempat cari tiket untuk pulang ke jogja. Ternyata diterminal tidak banyak pilihan bis, hanya tersisa Bis Ekonomi AC dengan harga Rp.135.000,- padahal di terminal Giawangan Jogja kami dapat harga Rp.90.000,- entah ini ulah agen atau calo yang menaikan tarif. Karena memang kami mencari bis yang cukup nyaman untuk pulang, supaya bisa lelap tertidur selama perjalanan, kami menolak tawaran tadi lalu betolak keterminal Rambutan di Jakarta Timur.

Sepertinya ini keputusan yang salah, terminal Rambutan lebih parah dalam urusan percaloan daripada Baranang Siang. Begitu turun dari bis jurusan Bogor-Rambutan langsung kami disambut oleh para calo yang menanyakan tujuan berikutnya. Jelas ini situasi yang tidak nyaman, tanpa diarahkanpun saya bisa cari tiket sendiri, karena pastinya terminal menyediakan tempat untuk agen perjalanan. Kami terus berjalan dan terus diikuti oleh para calo. Sampai dapat tempat duduk, saya tinggalkan kawan-kawan dan berpesan untuk menunggu sementara saya dan Denni tanya-tanya soal tiket.

Begitulah saya terus ditanya oleh para calo, akhirnya saya jawab tujuan kita adalah Yogyakarta. Langsung Saya dan Denni diantarkan pada agen penjualan. Begitu sampai, si Calo langsung meminta bukti kuintasi pembayaran, dan Mba penjaga sudah siap siaga menulis. saya langsung sampaikan:

“Nanti dulu mba, saya mau tanya-tanya dulu”

Begitulah kemudian saya bertanya-tanya dulu, bis yang tersedia adalah bis Ekonomi AC dengan harga Rp.145.000,- lebih mahal dari sebelumnya. Saya langsung menolak dan mecari alternatif, pindah ke Calo lain dan dapat tawaran Patas AC dengan harga Rp.175.000,- wah lebih mahal. Dengan kondisi keuangan yang terbatas tentu kami berfikir dan bernegosiasi. Biasa dalam mempengaruhi seorang, Calo melakukan praktek yang terasa mengitimidasi, dikatakan ini sedang liburan, tidak ada lagi Bis setelah ini, ini sudah harga normal untuk saat ini dan lain sebagainya. Saya tidak termakan intimidasi, saya menawar harga Rp.145.000,- karena itu harga normal setelah konfirmasi ke beberapa PO dengan telepon. Ancamanku: ada alternatif selain bis yaitu Kereta Bisnis dengan harga Rp.200.000,- atau kereta Kutojaya dengan harga Rp.90.000,- Calo tidak mau terima, sampai akhirnya dikatakan:

“Ya sudah terserah, kalo mau yah ambil kalo tidak yah gak usah”

Saya jengah juga, kemudian saya katakan:

“Baiklah, kami naik kereta”

Saya pergi, dengan kedongkolah karena gagal menawar. Inilah praktek calo, mengambil untung dari kebingunan seorang. Dalih yang digunakan kebanyakan bohong dan tertutup. Tidak digunakan asas kejujuran dan keterbukaan, misalkan sampaikan saja, “Saya calo mas, jasa saya harganya Rp.20.000,- silahkan mas menggunakan jasa saya supaya saya bisa menghidupi keluarga” Ah itu ungkapan yang utopis, tidak logis dalam paradigma muamalah yang penuh tipu muslihat dan hisap menghisap.

Pada akhirnya saya putuskan untuk naik kreta Kutojaya esok pagi, tidak masalah semalam terlantar di Stasiun.  Pertimbanganku, jika pada akhinya saya membeli tiket dari calo, maka meskipun saya tidak bersepakat dengan praktek ini, secara tidak sadar saya turut menyumbang untuk menumbuhkan bisnis ini. Begitulah idealisme mempengaruhi. Saya tidak  menyukai praktek pencaloan, meski tidak pula menanam kebencian pada person yang malakukannya. Mereka hanya orang-orang yang sudah menyerah berfikir karena keterbatasan kemampuan dan pendidikan, sempitnya lapangan pekerjaan yang baik mengharuskan mereka menggarap wilayah yang kurang produktif. Di dunia ini bahkan praktek hisap menghisap yang lebih besar dilakukan oleh orang-orang ber-Ilmu namun tidak ber-moral, ah lihat saja kekayaan alam kita, minyak misalkan, perusahaan anak negeri (Pertamina) hanya ambil porsi 13%, selebihnya diambil oleh mereka yang tidak memiliki hak tanah pada mulanya. Para Calo dan penjahat kecil bukan orang yang harus dibenci, mereka adalah orang-orang yang harus dididik dan diselamatkan dari dosa. Semoga mereka bisa menjadi manusia yang lebih mulia, yaitu orang-orang yang berguna bagi sesamanya. Amin.

Pada saat saya dan Denni hendak membeli tiket kereta di Indomaret terdekat, Kami melihat ada Bis jurusan Cilacap. Bis terlihat nyaman dimata kami, deretan kursi 2-2 dengan AC yang terlihat berkualitas. ada seorang yang sepertinya konektur sedang memasukan barang kebagasi Bis. Saya tanyakan:

“Brangkat jam berapa pak?”

“Sebentar lagi mas”

“Cilacap yah pak?”

“Iyah”

“Berapa tiketnya pak?”

“68 ribu mas.”

“Dimana beli tiketnya pak?”

“Ah Bis ini naik aja, beli tiketnya nanti diatas bis”

Nah! saya senang, dengan tanpa membeli tiket diluar, tidak perlu ada tawaran jasa Calo. Saya langsung berdiskusi dengan Denni, dia yang usulkan pertama kali untuk naik Bis ini. Dengan harga Rp.68.000,- kita sampai Cialacap, dari Cilacap kita bisa naik Bis Efesiensi yang nyaman itu dengan harga Rp.40.000,- sampai Jogja. Masalahnya cuma ada diwaktu tempuh yang lebih panjang, kami sepakat untuk tidak mempermasalahkan itu, karena pilihan lainnya adalah terlantar semalam di Stasiun.

“Kita naik ini yah pak?” pertanyaan bodoh dariku pada bapak konektur Bis.

“Yoh… naik aja mas, sini bawa barang-barangnya” Dengan nada medok yang khas.

“Ok, tak panggil dulu kawan-kawan pak”

Saya sampaikan keputusan ini, kawan-kawan bersepakat. Kami langsung masukan barang-barang yang bejibun itu kebagasi Bis, kami semua mendapatakan tempat duduk yang layak malam itu. Perjalanan kebanyakan dihabiskan dengan tidur, kecuali Kawan saya Kamal, rupanya dia malah tidak terbiasa dengan AC, hingga pusing-pusing menjalar dan sempat sekali muntah. Hidup Proletar! 😀

Sampai di Terminal Cilacap pagi hari pukul 8.00, badan lelah perut keroncongan karena tidak diisi semalaman. Terminal tidak besar, namun dimataku terasa lebih ramah. Kami cari toilet untuk cuci muka dan buang air. Ada ajakan menghampiri untuk manaiki bis, Bapak gendut dengan seragam Dishub tawarkan bis jurusan Yogyakarta.

“Kemana mas?”

“Jogja pak”

“Ini naik bis ini aja, sebentar lagi brangkat”

Bapak itu sama berambisinya seperti ketika calo mengajak calon penumpang, namun jelas dia tidak melebih-lebihkan harga, karena harga bis sudah tertera dijendela sebesar Rp.40.000,- Bis terlihat sangat bagus dan nyaman. Namun karena kami memilih untuk istirahat sejenak kami menolak tawaran itu. Dijendela tertera jadwal keberangkatan Bis pukul 08.15, artinya sebentar lagi bis memang berangkat. Saya cukup kaget dan terheran-heran, pukul 08.15 tepat! Bis dengan segelintir penumpang menggerum “brruumm..” berangkat ke kota tujuan.

“Transportasi ini kota sudah Moderen!” benaku.

Cilacap-Jogja bagiku masih jarak dekat, dari pantauan kebiasaanku menikmati transportasi umum jarak dekat, seperti Cirebon-Subang, Jakarta-Subang, Solo-Yogyakarta atau sebaliknya, Bis menunggu hingga penumpang cukup penuh baru pak sopir tancap gas, itupun dijalanan tetap menganggkut penumpang, hingga Bis sesakpun penumpang masih diangkut! Kali ini berbeda, seperti pada PO Efesiensi (PO singkatan dari Perusahaan Otobis), setiap penumpang mendapatkan nomor kursi, dan diharuskan penempati nomor yang sudah diambil. Kondisi Bis-pun sangat baik dengan fasilitas yang sangat memadai seperti TV LCD, AC, Kursi Nyaman, gorden, alunan musik (tsah) hingga pramugari. Pak Sopir tidak ugal-ugalan, Bis ini hanya mengangkut penumpang di Pul/Shalter/Agen resmi. Satu hal yang paling keren, bis ini berangkat pada jadwal yang sudah ditetapkan! rupayan dikota ini orang-orang lebih menghargai waktu! orang yang sudah bisa menghargai waktu, artinya telah mampu menggunakan waktu dengan baik, sehingga merasa sayang jika waktu harus dibuang. Hanya orang-orang ber-ilmu yang bisa mengunakan waktu dengan baik, karena orang tidak berilmu bingung untuk apa sebenarnya dia hidup.

Coba banyangkan, subsidi pemerintah untuk energi (BBM) sekitar 300 triliun rupiah. Saat ini kita sama-sama tau, pemerintah mengurangi subsidi BBM. Andaikan pemerintah memangkas 100 Triliun subsidi BBM dan melimpahkannya pada sarana transportasi berkualitas yang terjangkau, tentu ini menguntungkan! andai harga satu Bis 1 miliar, maka 100 Triliun bisa membeli 100.000 Bis Baru. Lalu bis itu digunakan untuk sarana transportasi publik yang murah, menghubungkan kota-kota kecil dengan kota-kota besar seperti Medan, Pekan Baru, Palembang, Lampung, Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Balik Papan, Makasar, Palu dan lain-lain. Pemerintah bisa dengan leluasa mengatur waktu keberangkatan Bis, supaya orang Indonesia bisa belajar menghargai waktu. Pemerintah melakukan edukasi, pemerintah mencerdaskan rakyatnya. Begitulah Imajinasi liar mengalir!

Niat baik menghasilkan suatu yang baik, niat buruk menghasilkan suatu yang buruk. Aku masih bertanya pada para penguasa, apa sebenarnya niatmu?

Standar