Just Write, Pemikiran

Cara Baru Belajar Bahasa Asing

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, bahasa asing telah menjadi salah satu mata pelajaran. khususnya bahasa Inggris, bahasa yang dijadikan alat komunikasi antar bangsa di seluruh dunia. Pelajaran itu tetap ada di bangku sekolah menengah hingga bangku kuliah. Lamanya waktu yang telah dilewati seorang dalam mempelajari bahasa asing harusnya memberikan hasil yang baik ditandai dengan cakapnya seorang dalam memahami dan menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Kenyataannya tidak demikian, terbukti dengan banyaknya lembaga kursus bahasa asing, seolah-olah menyatakan bahwa pelajaran bahasa asing di sekolah umum telah gagal atau paling tidak belum mencukupi.

Baik sekolah dasar atau lembaga kursus bahasa asing sering kali hanya menyiapkan para murid untuk lulus dalam berbagai macam ujian. Kenyataannya, nilai yang bagus tidak menjamin kemampuan komunikasi yang baik. Mereka menggunakan pendekatan gramatika, padahal komunikasi sehari-hari terutama komunikasi lisan, tidak memberikan banyak waktu untuk memikirkan kaidah tata bahasa atau kosa kata yang tepat ketika berbicara. Semua keluar begitu saja melalu proses kreatif dan seketika (refleks). Beberapa penelitan terkait proses belajar bahasa asing melalui pendekatan gramatika menyatakan bahwa metode ini mendekati angka 95% telah gagal meningkatkan kemampuan berbahasa asing seorang.

Pada tahun 1997 pertama kali terbit buku tulisan Dr. James Asher berjudul Learning Another Language through Actions. Dr. James Asher membuat program pelatihan bahasa TPR (Total Physical Response). Program tersebut lahir dari hipotesa yang menyatakan bahwa otak dan sistem saraf manusia secara biologis diprogram untuk merespon bahasa, keduanya bekerja untuk menyinkronkan bahasa dengan tubuh manusia dalam urutan mendengar lalu berbicara.

Teknik yang digunakan dalam TPR menyerupai teknik belajar bahasa asli kita. Terdapat beberapa urutan dalam proses belajar bahasa, pertama mendengar lalu bicara, setelah keduanya dikuasai dilanjutkan dengan membaca dan menulis. Sebagai contoh seorang balita, sebelum dapat berbicara dia sudah dapat merespon perintah melalui ucapan. Ketika dikatakan “Ayo tepuk tangan!”, seorang balita meresponnya dengan menepukan kedua tangannya. Setelah berjalan sekian lama sekitar 12 sampai 18 bulan, tanpa diajari bagaimana menyusun kata sesuai kaidah, pembicaraan anak kecil sudah dapat difahami. Jika diasah terus menerus kemampuan membaca dan menulisnya akan berkembang secara alamiah. Fakta ini menjadi dasar cara baru dalam mempelajari bahasa asing, mendengar adalah fokus utama dan pertama.

Di pasaran, beberapa program belajar bahasa seperti TPRS, Focal Skills, ALG, The Natural Approach, dan The Effortless English pada intinya menggunakan dasar yang sama dan menghindari cara-cara lama yang sering kali membuat stres para murid. Cara ini seperti membalikan proses cara tradisional dalam mempelajari bahasa, yang biasanya dimulai dari mempelajari tata bahasa. Ilmu tata bahasa tidak terlalu dibutuhkan sampai seorang memang hidup untuk meneliti itu. Seiring berjalannya waktu, seorang pendengar yang baik akan mampu berbicara dengan baik, seorang pembaca yang baik juga akan melahirkan tulisan yang baik. Tanpa harus repot belajar dan mengerjakan soal ujian bahasa, kemampuan berbahasa akan datang secara alamiah.

Standar
Cerpen, Just Write, Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Kelor

Ternyata dunia tak selebar daun kelor- Kenapa pula istilah “lebar” dikaitakan dengan daun kelor yang dalam urusan lebar jauh lebih sempit dari daun jati misalnya. Itu adalah salah satu pepatah yang aku tak tau dari mana dan dari siapa pepatah itu berasal. Orang macam apa yang telah melontarkan pepatah itu pertama kali, aku ingin tanyakan mengapa daun kelor yang dipilih sebagai pembanding dunia, bahkan dianggap lebih lebar dari dunia. Apakah dia telah membaca fakta-fakta ilmiah tentang kelor sebelumnya, atau muncul begitu saja secara intuitif. Karena biasanya intuisi lebih dulu dari rasionalitas, intuisi bagaikan bisikan mistis yang memberikan pengetahuan sebelum panca indera kita berhasil mengecapnya. Begitulah pepatah, kadang mengandung kearifan yang jauh lebih besar dari pada makna harfiahnya.

Baik, tinggalkan dulu masalah asal-muasal pepatah itu. Menurut seorang peneliti Michael Lea dari sebuah institusi riset Clearing House-Kanada (aku asal catut) menyebut bahwa pohon kelor pantas dijuluki pohon yang paling berguna di dunia. Jika dilihat dari sejuta manfaatnya baik secara ilmiah maupun gaib, aku sepakat dengan julukan itu. Mitosnya kelor dapat mengusir mahluk halus, atau akan membuat kesakitan jika ditempelkan pada pengguna susuk, benar atau tidak aku belum pernah mencobanya. Kau bisa cari sendiri tentang fakta ilmiah kandungan dan manfaat dari akar, batang, kulit batang, daun, bunga hingga biji. Saat ini banyak lembaga dunia menyarankan penanaman kelor terutama di daerah-daerah yang rawan malnutrisi.

Aku mengenal sedikit lebih jauh tentang kelor ketika secara sepintas melihat tanyangan si Unyil di sebuah TV swasta. Dari sana aku tahu bahwa kelor telah ditanam di atas hektaran lahan, artinya kelor menyimpan potensi ekonomi yang lumayan sehingga pantas dibudidayakan. Mencari referensi lain melalui search engine aku menemukan data yang lebih lengkap tentang manfaat dan kandungan kelor. Karena banyaknya manfaat pada kelor aku tertarik untuk menanamnya.

Menanam kelor aku anggap sebagai salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga kelestarian se-isi bumi. Ketika sore, sepulang dari sungai tempat aku biasa melepas penat aku menemukan jajaran tanaman kelor yang dijadikan sebagai tanaman pagar. Beberapa tumbuh tinggi berdaun tidak cukup lebat, beberapa lagi kering-kerontang namun telah menghasilkan biji yang masih menggantung. Biji itu seperti pohonnya telah mengering mungkin akibat sudah tua dan kekurangan air. Cukup senang melihatnya, karena dengan bijinya aku dapat mendapatkan tanaman kelor dengan akar tunggang yang tertancap dalam di bawah tanah, akar-akar itu akan banyak menampung air dan tidak merebut unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dengan akar yang lebih pendek. Aku berdoa pada Allah SWT, karena hanya dengan kebesarannya sesuatu dapat hidup dan mati dan hanya dengan kemurahannya sesuatu dapat memberikan manfaat.

Aku rendam biji yang telah aku ambil, yang sebenarnya tanpa izin, walau orang desa tidak akan menjadikannya perkara besar. dan dalam keyakinanku, sebenarnya aku membantu menyelamatkan biji ini dari kematian. Semoga tumbuh dengan baik. amin. 🙂

Standar
Just Write, Pemikiran, Puisi

Saat keinginan begitu kuat, kita hanya bisa menggantungkannya menjadi mimpi. Perlahan tapi pasti, keseharian kita akan menyesuaikan dengan impian itu. Keyakinan bagaikan air yang menumbuhkan pohon secara perlahan. Perlahan namun pasti, sebuah pohon selalu tumbuh ke atas, seolah menantang badai yang lebih besar dari sebelumnya. Kau adalah apa yang kau pikirkan.

 

Mimpi

Kutipan
Just Write, Pemikiran

Teknologi Advertising Facebook (Analisa tanpa data)

Facebook sebagai sebuah perusahaan dengan sumber pendapatan utama dari iklan (advertising) tentu terus memperbaharui efektifitas dari layanan iklan yang disediakan. Tujuan dari hal tersebut adalah meningkatnya kepercayaan para pengiklan bahwa beriklan di facebook terbukti memiliki efek besar pada bisnis mereka misalkan meningkatkan keuntungan. Dengan kata lain, facebook terus berusaha membuat penggunanya semakin tertarik atau sedikitnya melirik pada iklan yang ditampilkan di setiap halamannya.

Salah satu cara agar pengguna tertarik dengan iklan adalah dengan cara menampilkan iklan yang sesuai dengan profil setiap pengguna facebook seperti jenis kelamin, bahasa, asal dan lainnya. Sebagai contoh sederhana: setiap pengguna facebook yang berbahasa Indonesia, akan jarang sekali menemukan iklan berbahasa inggris. Karena iklan berbahasa inggris akan sangat tidak efektif ketika disuguhkan pada orang yang berbahasa Indonesia. Bagi facebook mengakses profil seorang menjadi perkara yang sangat mudah, karena penggunanya dengan sukarela memberikan informasi tentang identitas dirinya pada facebook.

Profil seperti jenis kelamin, bahasa dan agama bersifat statis atau tidak banyak perubahan pada jenis profil ini. Berbeda dengan misalnya pemikiran, kebutuhan atau pertanyaan seorang yang cenderung bersifat dinamis, atau selalu berubah-ubah seiring waktu berjalan. Pertanyaannya, bagaimana facebook menyesuaikan iklannya dengan profil pengguna yang bersifat dinamis ini? memungkinkan atau tidak?

Belakangan saya menemukan beberapa iklan yang ditampilkan di halaman facebook sesuai dengan apa yang saya cari. Contoh, pernah saya mencari informasi tentang semprotan air, kemudian setelah itu facebook menampilkan iklan beberapa model semprotan air. Saya juga pernah mencari informasi tentang wisata, kemudian cukup sering  facebook menampilkan iklan tentang penginapan, diskon tiket pesawat dan lainnya yang berkaitan dengan keyword ‘wisata’. Yang lebih jelas, ketika saya mengunjungi sebuah website tertentu dan kemudian mengunjungi facebook langsung tampil iklan pages facebook website yang sebelumnya saya kunjungi.

Saya pikir, facebook melakukan akses pada data browser seperti cache, cookies atau history yang tersimpan pada browser yang kita gunakan. Dengan mendapatkan data browser seorang, maka dapat ditebak perilaku seorang dalam berinternet. Misalnya situs mana yang paling banyak dikunjungi, kata apa yang paling banyak ditulis, macam artikel mana yang paling banyak dibaca, dan lain sebagainya. Setelah itu dapat disimpulkan mengenai macam/hal yang menjadi ketertarikan orang tersebut. Dengan menggunakan komputer, keputusan tentang iklan mana yang semestinya ditampilkan dapat diputuskan dengan sangat cepat. Cukup menggunakan algoritma tertentu, komputer akan memutuskan mana iklan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pengguna facebook tertentu.

Anda tentu dapat membayangkan betapa mudahnya website ‘adikuasa’ semacam facebook atau google menyimpan sebagian besar input data (berupa text, foto, suara dll) maupun merekam sebagian besar perilaku kita selama menggunakan internet. Tindakan itu dilakukan secara periodik atau terus menerus dan tersimpan dengan baik didalam server yang mereka miliki. Baik google dan facebook memiliki motif ekonomi ketika melakukan pembacaan, penyimpanan dan penganalisaan profil seorang. Namun dalam suatu kondisi bisa jadi motif itu berubah. Jadi tidak hanya selebritas yang kehidupannya dijadikan komoditas, aku pikir seluruh pertanyaan, tindak tanduk, keinginan kita diam-diam juga menjadi komoditas beberapa penyedia layanan iklan.

Teknologi memungkinkan seorang tidak lagi memiliki privasi, dimana kebaikan dan aib dapat tersebar dengan sangat cepat. Memang seperti itu teknologi, selalu seperti pisau bermata dua.

Standar
Buku Saya, Just Write, Pemikiran, Politik

Menjadi petani, kenapa tidak?

“When we think about threats to the environment, we tend to picture cars and smokestacks, not dinner. But the truth is, our need for food poses one of the biggest dangers to the planet.” -Jonathan Foley (National Geographic)

Majalah National Geographic, bulan Mei 2014, menulis tentang 5 langkah rencana untuk memberi makan penduduk bumi. Tulisan itu berangkat dari prediksi populasi manusia tahun 2050 meningkat menjadi 9 miliar orang. Artinya, akan ada lebih dari dua miliar mulut untuk diberi makan di pertengahan abad ini. Melihat kecenderungan masyarakat di negara berkembang yang mulai lebih menyukai makanan dari hasil peternakan, menjadikan prediksi kebutuhan akan hasil pertanian meningkat menjadi dua kali lipat. Kebutuhan akan makanan ini adalah salah satu ancaman terbesar umat manusia di muka bumi. Saya akan ringkas tentang 5 poin yang dituliskan di atas.

Langkah pertama, Hentikan perluasan lahan pertanian
Sejarah banyak menceritakan ketika kita membutuhkan lebih banyak makanan, dengan mudah kita membabat hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Tindakan ini menyebabkan rusaknya ekosistem namun tidak merubah fakta bahwa masih ada 850 juta orang kelaparan di muka bumi.

Langkah kedua, Dapatkan hasil pertanian yang lebih banyak dari lahan yang tersedia
Kita dapat fokus untuk mencari cara meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang sudah ada. Banyak terjadi “yield gaps” atau kesenjangan produktivitas antara produktivitas lahan saat ini dengan kemungkinan produktivitas lahan jika sistem pertanian diperbaiki. Yield-gaps banyak terjadi di Afrika, Amerika Latin dan eropa timur. Tidak menutup kemungkinan yield-gaps ini terjadi di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah perbedaan teknologi  yang dimiliki oleh petani. Dengan menggunakan teknologi pertanian terbaru dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Sebagai bayangan, lebih efektif menggali tanah dengan cangkul dari pada dengan tangan, lebih efektif membajak lahan dengan bajak dari pada dengan cangkul. Baik cangkul dan bajak merupakan teknologi, hanya saja saat ini sudah ada teknologi terbaru yang lebih efektif dan efisien. Di Scott City, Kansas, pertanian Vulgamore memanen lahan hingga 25 hektare setiap jamnya dengan menggunakan peralatan modern. Mampukah itu dilakukan oleh cangkul? Teknologi terbaru seperti teknologi pembibitan, mesin pertanian, pemupukan atau lainnya merupakan hal yang perlu diperhatikan. Untuk itu pendidikan adalah kunci dari semua ini, kita punya IPB untuk apa? (juga UII, almamater saya soalnya) 🙂

Langkah ketiga, gunakan sumber daya lebih efisien
Tahukah anda? Pertanian adalah penyumbang pemanasan global terbesar melebihi seluruh mobil, truk, kereta dan pesawat digabungkan sekaligus. Pertanian juga merupakan pengguna air terbesar dan tentunya penyebab pencemaran air misalnya dari pupuk yang tercecer. Pembabatan hutan untuk pertanian juga mengancam eksistensi hewan liar. Tentu saja pertanian membutuhkan berbagai macam resources untuk dapat berjalan dengan baik seperti tanah, minyak, bahan kimia, air dan lainnya. Tapi perlu dicermati akan ketersediaannya, perlu sebuah inovasi untuk mengefisienkan sumber daya ini.

Langkah keempat, Diet
Saat ini hanya 55% dari kalori nabati yang dihasilkan pertanian global langsung dikonsumsi oleh manusia. selebihnya sekitar 36% dikonsumsi oleh peternakan, dan 9% digunakan untuk produksi biofuel dan industri. Lantas apa masalahnya? Begini masalahnya, setiap 100 kalori nabati yang digunakan untuk memberi makan hewan ternak kita hanya menghasilkan 40 kalori baru dari susu, 22 kalori dari terlur, 12 kalori dari ayam dan 3 kalori dari daging. Sehingga, jika lebih banyak lagi kalori nabati yang langsung dikonsumsi manusia akan meminimalisir hilangnya kalori hasil pertanian. Hal ini sangat tergantung pada demand atau permintaan pasar. Jika orang-orang lebih suka tempe dari pada daging, ini akan sangat membantu. Di Indonesia tentu ini sudah berlaku, dimana lebih banyak orang makan tempe daripada daging, tapi seiiring semakin sejahteranya penduduk kita, permintaan daging terus bertambah. Terbukti belakangan ini negara kita banyak impor daging. Pola hidup diet seperti seorang vegetarian akan membantu menyelesaikan persoalan kebutuhan makanan kita dimasa depan.

Langkah kelima, kurangi sampah
Kira-kira sekitar 25% dari kalori makanan dunia dan sekitar 50% dari total berat makanan dunia menjadi sampah sebelum dapat dikonsumsi. Sampah ini disumbangkan oleh rumah, restoran, super market, atau dibeberapa negara miskin disebabkan oleh buruknya penyimpanan makanan dan jalur transportasi yang menghubungkan antara petani dan pasar. Teknologi pengawetan makanan dapat menjadi solusi.

Seluruh data dari 5 poin di atas saya ambil dari majalah National Geographic, dan beberapa penjelasan berdasarkan interpretasi saya. Untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri majalah tersebut.

Poin-poin di atas bukan merupakan pekerjaan yang mudah, perlu andil pemerintah dan masyarakat seluruhnya, baik kalangan produsen maupun konsumen. Pemerintah harus punya andil memajukan pendidikan bangsa, menyerap teknologi dari negara maju sehingga dapat dikembangkan di dalam negeri. Kalangan produsen harus mulai berfikir untuk dapat bersaing dengan produsen global. Kalangan konsumen tentu harus mulai cerdas mempertimbangkan apa yang dia konsumsi, sehingga meskipun hanya mengkonsumsi, secara tidak langsung dia membantu kehidupan orang lain dan menjaga kelestarian lingkungan tempat kita hidup.

Menjadi Petani
Ketika disebutkan kata “petani” selalu melekat di benak kita sebuah kehidupan yang berat, seorang dengan kulit hitam dan berlumpur dengan tingkat pendidikan yang rendah. Banyak masyarakat perkotaan bahkan pedesaan yang menganggap menjadi petani adalah pekerjaan yang memalukan, sadar tidak sadar, di benak beberapa orang tertanam pendapat semacam itu. Padahal petani adalah orang yang berjasa untuk kita dapat beribadah, belajar, bekerja, bermain, meminum kopi (tentu saja) atau melakukan aktivitas menyenangkan lainnya. Apakah ada seorang yang bekerja sebagai manajer di perkantoran sekaligus dia juga membajak sawah untuk makannya sendiri?

Meskipun besar jasa petani, kita memang banyak menyaksikan tentang rendahnya tingkat pendidikan para petani. Hal ini disebabkan karena rendahnya kesadaran akan pendidikan pada masyarakat pedesaan yang notabene sebagai petani. Dan satu hal lagi, banyak kaum terpelajar di bidang pertanian justru tidak menjadi petani. Lantas apakah saya yang sarjana teknik harus menjadi petani? ataukah anda seorang ekonom, ahli hukum, psikolog, dokter, atau profesi lainnya yang harus menjadi petani? atau siapa?. yang jelas adalah, bahwa pekerjaan ini (bagi saya) masuk sebagai pekerjaan yang mulia. Apalagi punya peluang yang besar di masa depan. Jika sampai terjadi krisis pangan, maka petani adalah orang yang cukup berkuasa. Seperti saat ini, meskipun hanya desas desus bahwa ketersediaan minyak menipis, negara yang memiliki minyak cukup diperhitungkan. Seperti ketika, sulit menemukan orang yang dapat dipercaya, maka orang yang dapat dipercaya adalah berlian diantara batu hitam yang tak berharga.

Standar
Filem, Just Write

Break the rules: Ulasan filem Moneyball

Semalam saya nonton filem Moneyball, filem yang menceritakan tentang permainan Baseball yang sebenarnya tidak begitu saya pahami. Apalah itu homerun, base, strike, dan kosa kata lainnya yang masih asing. Tapi tetap saja setiap permainan olah raga punya nilai-nilai universal, seperti misalnya gambaran dari persaingan yang sehat, kekompakan tim, kepemimpinan pelatih, kreatifitas seorang manajer dan lainnya. Ada banyak pelajaran sehingga permainan ini layak untuk di-filem-kan. Entah mengapa dengan cara kebetulan saya menonton filem yang dirasa tepat karena filem ini berhasil memotivasi saya. Telepas dari mana filem berasal dan punya muatan apa, filem dapat dijadikan sebuah referensi dan bukan patokan kebenaran. Lucu jika serta merata mengambil kebenaran secara langsung dari sebuah filem tanpa diverifikasi dengan nilai-nilai yang lebih luhur, misalkan agama. So, just enjoy the show! 🙂

Billy Beane tokoh utama dalam filem ini yang diperankan oleh Brad Pitt menjabat sebagai manajer umum di Oakland Atletics yang digambarkan sebagai tim kecil. Beane bersama Peter Brand merancang tim berdasarkan teori statistik Baseball yang ditulis oleh Bill James seorang yang tidak pernah menjadi pemain atau pelatih Baseball profesional, dia hanyalah seorang satpam diperusahaan pork-and-beans company (persuhaan daging babi dan biji-bijian).
Ketika Beane bertemu dengan Brand dan kemudian mendapatkan inspirasi dari pendapat Brand tentang pemain Baseball, Beane merombak timnya, dan memasukan nama-nama pemain yang tidak diperhitungkan oleh dunia Baseball namun memiliki nilai statistik yang baik menurut analisa Brand. Sontak para staff manajer tidak terima dengan keputusan sepihak Beane, mereka tidak terima hasil kerjanya menyusun susunan pemain selama berminggu-minggu ditolah mentah-mentah, Beane memasukan nama-nama yang jauh dari kriteria staff manajer, bahkan menjadi cemoohan di ruang rapat manajer. Dia memiliki keyakinan yang kuat tentang cara barunya menyusun tim dan bergeming dengan keputusan sepihaknya. Staff manajer tampak emosi Namun Beane adalah manajer tim, staffnya hanya memberikan pendapat dan dia memutuskan.
Persoalan muncul pada pelatih. Meskipun Beane punya kewenangan untuk menyusun susunan pemain, namun susunan pemain di lapangan dikendalikan oleh pelatih. Pelatih yang memang kontra dengan Beane memasukan pemain sesuai dengan keinginan dan keyakinannya dan sama sekali tidak ingin di intervensi oleh Beane. Tim kalah berturut-turut dan Beane dianggap sebagai biang kekalahan oleh media. Beane tampak frustasi dengan keadaan. Lantas dia menggunakan kewenangannya untuk mempengaruhi formasi tim dilapangan. Dia memecat semua pemain utama pelatihnya kemudian turun langsung untuk memotivasi pemainnya tanpa melanggar kewenangan pelatih.
Tanpa disangka oleh banyak orang, Oakland Atletics menang secara beruntun, bahkan memecahkan rekor kemenangan 20 kali berturut-turut, pertama kali dalam 103 tahun sejarah bisbol Amerika. Media menyebutnya sebagai keberhasilan pelatih Oakland dan bukan keberhasilan Beane.
Meskipun bangga dengan keberhasilannya memecahkan rekor, Beane menganggapnya tidak berarti apapun ketika timnya kalah pada pertandingan akhir (Kajuaraan Dunia), orang akan cepat melupakannya pada akhirnya, dia menginkan kememangan di kejuaraan dunia, meskipun pada akhirnya timnya tetap saja kalah oleh tim besar seperti Yankees. Kemudian media menyebut Oakland tetap saja sebuah tim kecil.
Ternyata keberhasilan Beane tidak begitu saja dilupakan oleh semua orang, pemilik Red Sox melihatnya sebagai manajer yang dapat diandalkan bagi timnya. Dalam obrolannya dengan beane di stadion Red Sox dengan ditemani secangkir kopi, pemilik Red Sox mengatakan ini:

“For 41 million you built a play-off team. You lost Damon, Giambi, Isringhausen, Pena. And you won more games without them than you did with them. You won the exact same number of games that the Yankees won, but the Yankees spent 1.4 million per win, and you paid 260,000. I know you taking it in the theet, but the first guy through the wall, he always gets bloody. Always. This is threatening not just a way of doing business, but in their minds, it’s threatening the game. Really, what it’s threatening is their livelihood, their jobs. It’s threatening the way that they do things. Every time that happens, whether it’s a government, a way of doing business, whatever, the people who are holding the reins, they have their hands on the switch. They go batshit crazy.”
( Red Sox offer $12,500,000 to Billy Beane)
Paragraf diatas adalah kunci dari filem ini, bahwa seorang yang pertama kali melawan keadaan akan selalu mendapatkan rintangan! Dalam permainan Baseball tindakan Beane tidak hanya mengancam cara tim besar melakukan bisnis, tapi juga akan mengancam permainan Baseball itu sendiri. Bagi sebuah tim dengan modal yang besar, ketika seorang pemain, pelatih, atau manajer tidak mendatangkan kemenangan, mereka akan memecatnya dan bersedia membayar penggantinya yang dianggap lebih pantas dengan uang yang banyak. Tindakan Beane yang kreatif yang menggunakan modal minim dan pendekatan statistik untuk memenangkan permainan tentu akan mengancam penghasilan dan pekerjaan mereka. Maka orang-orang yang berkuasa dengan uangnya akan berusaha untuk mengubahnya dan membuat seolah tindakan Beane itu salah. Hal ini berlaku dalam kehidupan nyata, entah pemerintah, pembisnis atau siapapun yang memiliki kendali, yang memiliki kemampuan untuk mengubah, mereka menjadi pemukul gila (baca: batshit crazy, entah apa maksudnya idiom ini).
Ini adalah salah satu cerita tentang seorang revolusioner, jangan lupa bahwa setiap filem punya unsur dramatisasi (lebaisasi) bertujuan untuk menarik perhatian penontonnya. Dari sini kita mendapatkan referensi tentang seorang yang melawan keadaan dengan keberanian dan keyakinan. Menjadi pilihan kita sendiri, apakah kita akan menjadi orang kebanyakan, atau menjadi sedikit berbeda dengan melakukan perubahan pada suatu yang tidak adil di mata kita. hehe..
Standar
Just Write, Pemikiran

Insya Allah, ya atau tidak?

A: “Besok bisa datang egak?”

B: “Insya Allah yah”

Model penggunaan katan Insya Allah seperti ini tentu lumrah kita dengar, karena memang bagi yang beragama islam kata itu menjadi penting sebagai pernyataan bahwa Allah-lah yang pada akhirnya memiliki kuasa atas segalanya. Namun jika kita berada pada posisi ‘A’ diatas, mendengar jawaban ‘B’ seperti itu seolah memiliki tafsir keraguan hati dari si ‘B’. Mungkin ungkapan yang lebih jelas berbunyi: “Lihat nanti saja yah, kalo malas yah saya egak datang”.  Menurut saya jawaban seperti itu lebih mudah diterima, karena memiliki tingkat kejujuran yang lebih baik. Mengapa saya menulis tentang masalah ini? karena saya malu sebagai seorang muslim terlihat sebagai orang yang tidak profesional.

Jika dicermati arti dari kata Insya Allah (Jika Allah mengizinkan) terdapat muatan kepasrahan kepada Allah sekaligus keteguhan hati sebagai manusia. Hasil dari ungkapan Insya Allah harusnya berbuah pada kesungguhan kita untuk melaksanakan suatu perbuatan dimasa yang akan datang. Ungkapan itu akan memberikan suatu komitmen yang dapat dipercaya kepada si penanya, bukan kegundahan hati.

Adam: “Besok bisa datang ke acara diskusi filsafat jam 3 sore?”

Sholeh: “Insya Allah saya datang.”

Besok hari ternyata hujan turun lebat pukul 2 sore, karena Sholeh punya mantel hujan dia teguhkan hati untuk tetap berangkat, keteguhan hatinya mengalahkan hawa dingin yang membuai dia untuk berselimutkan diri di atas tempat tidur. Sholeh tiba tepat pukul 3 sore sesuai janjinya. Adam melihat kawan lainnya yang diajak tidak ada yang datang, mungkin karena hujan sehingga malas. Melihat Sholeh yang datang dengan mantel hujan, timbul pendapat bahwa Sholeh merupakan orang yang punya komitmen atas apa yang diucapkannya.

Cerita itu munkin hanya fiksi, tapi mungkin kita sama-sama sepakat tentang kesan yang akan didapatkan oleh Adam atas apa yang dilakukan Sholeh. Bahwa Sholeh memang punya komitmen dan kepasrahan diri.

Sadar tidak sadar, sayapun sering kali mengatakan Insya Allah meskipun masih ada keraguan pada diri sendiri tentang ucapan yang disampaikan. Keraguan diri bukan keraguan Allah, keraguan diri masih seputar pada diri sendiri tanpa menyentuh aspek tuhan. Berbagai perkara keraguan misalnya rasa malas, ketidak pastian agenda, petanyaan apakah menarik atau tidaknya suatu undangan, ketidak tahuan dengan pasti atas kemampuan diri sendiri dan lain sebagainya. Karena tidak ada istilah keraguan pada sisi Allah Swt. Jika Allah mengizinkan segala upaya yang kita buat akan menghasilkan suatu kenyataan. Jika tidak, maka segala daya upaya akan menjadi percuma.
Begitulah manusia, mahluk terbatas yang harus bergantung pada suatu yang tidak terbatas. Hanya yang memiliki kesungguhan yang bisa mewujudkan rencananya dimasa yang akan datang.
Standar