Cerpen, Pemikiran

Tahu saja tidak cukup (Mengambil pelajaran dari dongeng Clever Hans karya Brothers Grimm)

Untuk beberapa kepentingan, saya mendengar dongen-dongen bahasa Inggris (fairy tales), tidak sering, kadang-kadang saja kalo sedang mod atau sedang tidak bisa tidur. Biasanya, setelah fokus memperhatikan kata-kata demi kata yang tertutur dari narator, kantuk tiba-tiba datang tanpa di undang. Karena mendengar, dan sedikit banyak dapat  memahami maksud dari si pendongeng, beberapa dongen  meninggalkan kesan bagi saya.

Satu diantaranya dongeng yang berjudul “Clever Hans” karya Brothers Grimm (Wilhelm Grimm & Jacob Grimm). Dongeng sederhana tersebut menceritakan seorang laki-laki bernama Hans yang mengunjungi tunangannya bernama Gretel setiap hari. Setiap dia mengunjungi Gretel, Hans tidak membawa apapun, sebaliknya Gretel memberikan sesuatu padanya untuk dibawa pulang. Dibawah ceritanya, disarikan dari tulisan aslinya.

**

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah jarum pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans memasukan jarum kedalam gerobak berisi jerami dan membawanya ke rumah. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah jarum.”, “Dimana jarum tersebut Hans?”, “Di gerobak jerami.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menyelipkan jarum di lengan bajumu hans.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah pisau pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans menyelipkan pisau di lengan bajunya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah pisau.”, “Dimana pisau tersebut Hans?”, “Di lengan bajuku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menyimpan pisau di sakumu.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan se-ekor  kambing pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans meletakan kambing tersebut di kantongnya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku Sebuah pisau.”, “Dimana pisau tersebut Hans?”, “Di kantongku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya membawa se-ekor kambing dengan tali yang terikat di lehernya.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sepotong daging pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans mengikat sepotong daging tersebut dengan tali dan menyeretnya, sehingga segerombol anjing datang dan memakannya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku sepotong daging.”, “Dimana sepotong daging tersebut Hans?”, “Aku ikat dengan tali, dan segerombol anjing memakannya.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya memanggul sepotong daging diatas kepalamu.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel memberikan sebuah se-ekor anak sapi pada Hans, Hans berkata: “Sampai jumpa Gretel.”, “Sampai jumpa Hans.”

Hans memanggul anak sapi tersebut di kepalanya, sehingga kaki anak sapi itu menendang-nendang kepalanya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun, dia memberikan sesuatu untuku.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia memberiku se-ekor anak sapi.”, “Dimana anak sapi tersebut Hans?”, “Aku panggul diatas kepalaku dan kakinya menendang-nendang kepalaku.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya menggiring anak sapi itu sampai kedalam kandang.”, “Baik bu, aku akan melakukannya lebih baik lain waktu.”

Esoknya.

Ibu Hans bertanya: “Mau kemana hans?”, Hans menjawab “Bertemu Gretel.”, “Jaga perilakumu Hans.”, “Baik bu, samapai jumpa bu.”, “Sampai jumpa Hans.” Hans tiba di tempat Gretel. “Selamat pagi Gretel.”, “Selamat pagi Hans.”, “Apa yang kamu bawa untuku Hans?”, “Aku tidak membawa apapun Gretel, aku ingin kamu memberikan sesuatu untuku.”, Gretel menjawab: “Bawa aku bersamamu Hans.”

Hans membawa Gretel, mengalungkan tali ke lehernya, menggiringnya sampai kandang, dan mengikatnya dengan cepat, dan pergi menemui ibunya. “Selamat sore bu.”, “Selamat sore Hans, dari mana kamu?”, “Bertemu Gretel.” “Apa yang kamu bawa ke tempat Gretel?”, “Aku tak membawa apapun.”, “Apa yang Gretel berikan untukmu Hans?”, “Dia tak memberikan apapun, dia datang bersamaku.”, “Dimana kamu tinggalkan Gretel?”, “Aku mengalungkan tali ke lehernya, menggirinya sampai kandang, mengikatnya disana, dan memberinya seikat rumput.”, “Itu salah Hans, kamu seharusnya bersahabat dengannya.”, “Aku akan lebih baik.”

Hans pergi ke kandang, memenggal sapinya, mencongkel mata kambingnya, dan melemparkan semuanya pada Gretel. Gretel jadi marah, melepas ikatannya sendiri dan berlari untuk melarikan diri.

Begitulah Hans kehilangan tunangannya.

***

Begitulah ironi Hans yang pintar, meletakan jarum di tumpukan jerami, meletakan pisau di lengan baju, meletakan kambing di saku, mengikat daging dengan tali, memanggul anak sapi di kepala, dan membawa Gretel sebagaimana dia membawa barang sebelum-sebelumnya.

Hans yang pintar serta merta menuruti nasihat ibunya, tanpa menggunakan kebijaksanaannya sediri untuk melihat lebih dalam suatu masalah.

Bagi saya cerita itu adalah permisalan bagi seorang yang pintar tapi tidak cerdas. Menghafal segalanya, namun tidak menggunakan akalnya untuk melakukan tindakan kreatif yang lebih tepat dalam menghadapi masalah.

Hans adalah permisalan orang yang unggul dalam otak kiri, lemah di otak kanan. Hanya pintar mengingat namun tidak dapat berpikir abstrak.

Setidaknya cerita itu mengajarkan pada saya bahwa sesungguhnya ‘tahu’ saja tidak cukup. Mungkin perlu di tambah ‘tempe’. hehe

Iklan
Standar
Cerpen, Just Write, Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Kelor

Ternyata dunia tak selebar daun kelor- Kenapa pula istilah “lebar” dikaitakan dengan daun kelor yang dalam urusan lebar jauh lebih sempit dari daun jati misalnya. Itu adalah salah satu pepatah yang aku tak tau dari mana dan dari siapa pepatah itu berasal. Orang macam apa yang telah melontarkan pepatah itu pertama kali, aku ingin tanyakan mengapa daun kelor yang dipilih sebagai pembanding dunia, bahkan dianggap lebih lebar dari dunia. Apakah dia telah membaca fakta-fakta ilmiah tentang kelor sebelumnya, atau muncul begitu saja secara intuitif. Karena biasanya intuisi lebih dulu dari rasionalitas, intuisi bagaikan bisikan mistis yang memberikan pengetahuan sebelum panca indera kita berhasil mengecapnya. Begitulah pepatah, kadang mengandung kearifan yang jauh lebih besar dari pada makna harfiahnya.

Baik, tinggalkan dulu masalah asal-muasal pepatah itu. Menurut seorang peneliti Michael Lea dari sebuah institusi riset Clearing House-Kanada (aku asal catut) menyebut bahwa pohon kelor pantas dijuluki pohon yang paling berguna di dunia. Jika dilihat dari sejuta manfaatnya baik secara ilmiah maupun gaib, aku sepakat dengan julukan itu. Mitosnya kelor dapat mengusir mahluk halus, atau akan membuat kesakitan jika ditempelkan pada pengguna susuk, benar atau tidak aku belum pernah mencobanya. Kau bisa cari sendiri tentang fakta ilmiah kandungan dan manfaat dari akar, batang, kulit batang, daun, bunga hingga biji. Saat ini banyak lembaga dunia menyarankan penanaman kelor terutama di daerah-daerah yang rawan malnutrisi.

Aku mengenal sedikit lebih jauh tentang kelor ketika secara sepintas melihat tanyangan si Unyil di sebuah TV swasta. Dari sana aku tahu bahwa kelor telah ditanam di atas hektaran lahan, artinya kelor menyimpan potensi ekonomi yang lumayan sehingga pantas dibudidayakan. Mencari referensi lain melalui search engine aku menemukan data yang lebih lengkap tentang manfaat dan kandungan kelor. Karena banyaknya manfaat pada kelor aku tertarik untuk menanamnya.

Menanam kelor aku anggap sebagai salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga kelestarian se-isi bumi. Ketika sore, sepulang dari sungai tempat aku biasa melepas penat aku menemukan jajaran tanaman kelor yang dijadikan sebagai tanaman pagar. Beberapa tumbuh tinggi berdaun tidak cukup lebat, beberapa lagi kering-kerontang namun telah menghasilkan biji yang masih menggantung. Biji itu seperti pohonnya telah mengering mungkin akibat sudah tua dan kekurangan air. Cukup senang melihatnya, karena dengan bijinya aku dapat mendapatkan tanaman kelor dengan akar tunggang yang tertancap dalam di bawah tanah, akar-akar itu akan banyak menampung air dan tidak merebut unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dengan akar yang lebih pendek. Aku berdoa pada Allah SWT, karena hanya dengan kebesarannya sesuatu dapat hidup dan mati dan hanya dengan kemurahannya sesuatu dapat memberikan manfaat.

Aku rendam biji yang telah aku ambil, yang sebenarnya tanpa izin, walau orang desa tidak akan menjadikannya perkara besar. dan dalam keyakinanku, sebenarnya aku membantu menyelamatkan biji ini dari kematian. Semoga tumbuh dengan baik. amin. 🙂

Standar
Cerpen, Filem

Bilal bin Rabah dalam filem Umar Ibnu Khattab RA (Bagaimana Allah SWT menjawab do’a Bilal)

Dalam filem serial berjudul Umar Ibnu Khattab RA episode 5 terdapat tayangan dimana Bilal menunaikan shalat kemudian memanjatkan do’a yang isinya:

“Ya tuhanku! Berkat engkau begitu besar, jangan jadikan aku bagian dari orang-orang yang lalim. Selamatkan aku dari apa yang orang-orang kafir lakukan. Tuhanku, aku lemah, jadi berikan aku kekuatan. Buatlah aku membutuhkan engkau saja, tidak pada makhluk engkau. Engkau menjadi tempat yang dicari oleh setiap orang lemah. Aku berpaling kepada engkau untuk mendapatkan iman yang kuat kepada engkau. Aku mencari perlindungan anda untuk setiap penguasa keras kepala. Aku percaya engkau Ya Allah Tuhanku dan Islam agamaku dan Muhammad adalah nabi dan utusan Allah.”

Baru saja Bilal selesai memanjatkan doa, majikannya masuk menerobos pintu tempat Bilal shalat.

“Engkau! Gagak hitam!” Majikan Bilal memaki. Kemudian dia mengancam Bilal dengan siksaan.

“Siksaan yang akan saya terima lebih mudah dibandingkan dengan siksaan tuhan yang akan diberikan pada Anda.” Jawab Bilal dengan tegas.

Majikannya murka dan menggampar Bilal disertai makian. Baca lebih lanjut

Standar
Cerpen, Kisah tentang Hidup

Pengalaman: Calo, Euggh!

Sepulang dari Kongres HMI XXIX di puncak Bogor daerah Cisarua, saya beserta pasukan diantarkan ke terminal Baranang Siang (siang-siang kok baranang) dengan angkot. Diisi oleh 11 orang termasuk supir, angkot cukup sesak ditambah jalanan berliku dan macet, menggambarkan potret kepayahan jalur puncak di Bogor.

Sampai diterminal, karna perut kosong langsung cari makan, saya dan Denni sempat cari tiket untuk pulang ke jogja. Ternyata diterminal tidak banyak pilihan bis, hanya tersisa Bis Ekonomi AC dengan harga Rp.135.000,- padahal di terminal Giawangan Jogja kami dapat harga Rp.90.000,- entah ini ulah agen atau calo yang menaikan tarif. Karena memang kami mencari bis yang cukup nyaman untuk pulang, supaya bisa lelap tertidur selama perjalanan, kami menolak tawaran tadi lalu betolak keterminal Rambutan di Jakarta Timur.

Sepertinya ini keputusan yang salah, terminal Rambutan lebih parah dalam urusan percaloan daripada Baranang Siang. Begitu turun dari bis jurusan Bogor-Rambutan langsung kami disambut oleh para calo yang menanyakan tujuan berikutnya. Jelas ini situasi yang tidak nyaman, tanpa diarahkanpun saya bisa cari tiket sendiri, karena pastinya terminal menyediakan tempat untuk agen perjalanan. Kami terus berjalan dan terus diikuti oleh para calo. Sampai dapat tempat duduk, saya tinggalkan kawan-kawan dan berpesan untuk menunggu sementara saya dan Denni tanya-tanya soal tiket.

Begitulah saya terus ditanya oleh para calo, akhirnya saya jawab tujuan kita adalah Yogyakarta. Langsung Saya dan Denni diantarkan pada agen penjualan. Begitu sampai, si Calo langsung meminta bukti kuintasi pembayaran, dan Mba penjaga sudah siap siaga menulis. saya langsung sampaikan:

“Nanti dulu mba, saya mau tanya-tanya dulu”

Begitulah kemudian saya bertanya-tanya dulu, bis yang tersedia adalah bis Ekonomi AC dengan harga Rp.145.000,- lebih mahal dari sebelumnya. Saya langsung menolak dan mecari alternatif, pindah ke Calo lain dan dapat tawaran Patas AC dengan harga Rp.175.000,- wah lebih mahal. Dengan kondisi keuangan yang terbatas tentu kami berfikir dan bernegosiasi. Biasa dalam mempengaruhi seorang, Calo melakukan praktek yang terasa mengitimidasi, dikatakan ini sedang liburan, tidak ada lagi Bis setelah ini, ini sudah harga normal untuk saat ini dan lain sebagainya. Saya tidak termakan intimidasi, saya menawar harga Rp.145.000,- karena itu harga normal setelah konfirmasi ke beberapa PO dengan telepon. Ancamanku: ada alternatif selain bis yaitu Kereta Bisnis dengan harga Rp.200.000,- atau kereta Kutojaya dengan harga Rp.90.000,- Calo tidak mau terima, sampai akhirnya dikatakan:

“Ya sudah terserah, kalo mau yah ambil kalo tidak yah gak usah”

Saya jengah juga, kemudian saya katakan:

“Baiklah, kami naik kereta”

Saya pergi, dengan kedongkolah karena gagal menawar. Inilah praktek calo, mengambil untung dari kebingunan seorang. Dalih yang digunakan kebanyakan bohong dan tertutup. Tidak digunakan asas kejujuran dan keterbukaan, misalkan sampaikan saja, “Saya calo mas, jasa saya harganya Rp.20.000,- silahkan mas menggunakan jasa saya supaya saya bisa menghidupi keluarga” Ah itu ungkapan yang utopis, tidak logis dalam paradigma muamalah yang penuh tipu muslihat dan hisap menghisap.

Pada akhirnya saya putuskan untuk naik kreta Kutojaya esok pagi, tidak masalah semalam terlantar di Stasiun.  Pertimbanganku, jika pada akhinya saya membeli tiket dari calo, maka meskipun saya tidak bersepakat dengan praktek ini, secara tidak sadar saya turut menyumbang untuk menumbuhkan bisnis ini. Begitulah idealisme mempengaruhi. Saya tidak  menyukai praktek pencaloan, meski tidak pula menanam kebencian pada person yang malakukannya. Mereka hanya orang-orang yang sudah menyerah berfikir karena keterbatasan kemampuan dan pendidikan, sempitnya lapangan pekerjaan yang baik mengharuskan mereka menggarap wilayah yang kurang produktif. Di dunia ini bahkan praktek hisap menghisap yang lebih besar dilakukan oleh orang-orang ber-Ilmu namun tidak ber-moral, ah lihat saja kekayaan alam kita, minyak misalkan, perusahaan anak negeri (Pertamina) hanya ambil porsi 13%, selebihnya diambil oleh mereka yang tidak memiliki hak tanah pada mulanya. Para Calo dan penjahat kecil bukan orang yang harus dibenci, mereka adalah orang-orang yang harus dididik dan diselamatkan dari dosa. Semoga mereka bisa menjadi manusia yang lebih mulia, yaitu orang-orang yang berguna bagi sesamanya. Amin.

Pada saat saya dan Denni hendak membeli tiket kereta di Indomaret terdekat, Kami melihat ada Bis jurusan Cilacap. Bis terlihat nyaman dimata kami, deretan kursi 2-2 dengan AC yang terlihat berkualitas. ada seorang yang sepertinya konektur sedang memasukan barang kebagasi Bis. Saya tanyakan:

“Brangkat jam berapa pak?”

“Sebentar lagi mas”

“Cilacap yah pak?”

“Iyah”

“Berapa tiketnya pak?”

“68 ribu mas.”

“Dimana beli tiketnya pak?”

“Ah Bis ini naik aja, beli tiketnya nanti diatas bis”

Nah! saya senang, dengan tanpa membeli tiket diluar, tidak perlu ada tawaran jasa Calo. Saya langsung berdiskusi dengan Denni, dia yang usulkan pertama kali untuk naik Bis ini. Dengan harga Rp.68.000,- kita sampai Cialacap, dari Cilacap kita bisa naik Bis Efesiensi yang nyaman itu dengan harga Rp.40.000,- sampai Jogja. Masalahnya cuma ada diwaktu tempuh yang lebih panjang, kami sepakat untuk tidak mempermasalahkan itu, karena pilihan lainnya adalah terlantar semalam di Stasiun.

“Kita naik ini yah pak?” pertanyaan bodoh dariku pada bapak konektur Bis.

“Yoh… naik aja mas, sini bawa barang-barangnya” Dengan nada medok yang khas.

“Ok, tak panggil dulu kawan-kawan pak”

Saya sampaikan keputusan ini, kawan-kawan bersepakat. Kami langsung masukan barang-barang yang bejibun itu kebagasi Bis, kami semua mendapatakan tempat duduk yang layak malam itu. Perjalanan kebanyakan dihabiskan dengan tidur, kecuali Kawan saya Kamal, rupanya dia malah tidak terbiasa dengan AC, hingga pusing-pusing menjalar dan sempat sekali muntah. Hidup Proletar! 😀

Sampai di Terminal Cilacap pagi hari pukul 8.00, badan lelah perut keroncongan karena tidak diisi semalaman. Terminal tidak besar, namun dimataku terasa lebih ramah. Kami cari toilet untuk cuci muka dan buang air. Ada ajakan menghampiri untuk manaiki bis, Bapak gendut dengan seragam Dishub tawarkan bis jurusan Yogyakarta.

“Kemana mas?”

“Jogja pak”

“Ini naik bis ini aja, sebentar lagi brangkat”

Bapak itu sama berambisinya seperti ketika calo mengajak calon penumpang, namun jelas dia tidak melebih-lebihkan harga, karena harga bis sudah tertera dijendela sebesar Rp.40.000,- Bis terlihat sangat bagus dan nyaman. Namun karena kami memilih untuk istirahat sejenak kami menolak tawaran itu. Dijendela tertera jadwal keberangkatan Bis pukul 08.15, artinya sebentar lagi bis memang berangkat. Saya cukup kaget dan terheran-heran, pukul 08.15 tepat! Bis dengan segelintir penumpang menggerum “brruumm..” berangkat ke kota tujuan.

“Transportasi ini kota sudah Moderen!” benaku.

Cilacap-Jogja bagiku masih jarak dekat, dari pantauan kebiasaanku menikmati transportasi umum jarak dekat, seperti Cirebon-Subang, Jakarta-Subang, Solo-Yogyakarta atau sebaliknya, Bis menunggu hingga penumpang cukup penuh baru pak sopir tancap gas, itupun dijalanan tetap menganggkut penumpang, hingga Bis sesakpun penumpang masih diangkut! Kali ini berbeda, seperti pada PO Efesiensi (PO singkatan dari Perusahaan Otobis), setiap penumpang mendapatkan nomor kursi, dan diharuskan penempati nomor yang sudah diambil. Kondisi Bis-pun sangat baik dengan fasilitas yang sangat memadai seperti TV LCD, AC, Kursi Nyaman, gorden, alunan musik (tsah) hingga pramugari. Pak Sopir tidak ugal-ugalan, Bis ini hanya mengangkut penumpang di Pul/Shalter/Agen resmi. Satu hal yang paling keren, bis ini berangkat pada jadwal yang sudah ditetapkan! rupayan dikota ini orang-orang lebih menghargai waktu! orang yang sudah bisa menghargai waktu, artinya telah mampu menggunakan waktu dengan baik, sehingga merasa sayang jika waktu harus dibuang. Hanya orang-orang ber-ilmu yang bisa mengunakan waktu dengan baik, karena orang tidak berilmu bingung untuk apa sebenarnya dia hidup.

Coba banyangkan, subsidi pemerintah untuk energi (BBM) sekitar 300 triliun rupiah. Saat ini kita sama-sama tau, pemerintah mengurangi subsidi BBM. Andaikan pemerintah memangkas 100 Triliun subsidi BBM dan melimpahkannya pada sarana transportasi berkualitas yang terjangkau, tentu ini menguntungkan! andai harga satu Bis 1 miliar, maka 100 Triliun bisa membeli 100.000 Bis Baru. Lalu bis itu digunakan untuk sarana transportasi publik yang murah, menghubungkan kota-kota kecil dengan kota-kota besar seperti Medan, Pekan Baru, Palembang, Lampung, Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Balik Papan, Makasar, Palu dan lain-lain. Pemerintah bisa dengan leluasa mengatur waktu keberangkatan Bis, supaya orang Indonesia bisa belajar menghargai waktu. Pemerintah melakukan edukasi, pemerintah mencerdaskan rakyatnya. Begitulah Imajinasi liar mengalir!

Niat baik menghasilkan suatu yang baik, niat buruk menghasilkan suatu yang buruk. Aku masih bertanya pada para penguasa, apa sebenarnya niatmu?

Standar
Cerpen

14 tahun

Aku biasa membeli beberapa keperluan di sebuah warung kelontong kecil, biasa aku dilayani oleh seorang Ibu berumur 30-an namun sudah terlihat agak tua, ada kerut-kerut kesedihan dimukanya, mungkin itu yang menjadi sebab. Kadang sekali-kali dilayani oleh anaknya. Pernah dia terlihat sedang asik bermain Playstasion, aku bilang “permisi” mungkin karena si anak sedang asik bermain dia panggil ibunya:
“Maah!”
Ibunya tak menyahut panggilannya, lantas dia bangkit dari keasyikannya sambil menghembuskan napas terlihat tidak rela tinggalkan mainnya. Anak itu terlihat riang, kadang terlihat sedang bermain bola plastik bersama kawan-kawannya yang lebih muda, dia menjelma seperti orang paling dewasa diantara kawannya. Dari parasnya dia terlihat masih menginjak sekolah SD kelas akhir. Ah aku tak begitu mengerti keluarga itu, jarang ada komunikasi selain komunikasi transaksi jual beli. Harusnya kedekatan bisa terbangun dari kebiasaanku membeli banyak hal dipagi hari, entah itu sabun, sampo, makanan ringan dan lainnya.
Langit terlihat mendung, gerimis turun menandakan akan turun hujan. Aku sempatkan mampir ke warung itu membeli beberapa keperluan. Aku datang dengan bermotor ketika itu, dengan jaket agak basas terguyur gerimis diperjalanan hendak akan pulang.
“Dari mana mas, pulang kerja atau kuliah?”
“Habis antarkan adeku bu, dia sedang bimbingan di Neutron”
“Oh.. masnya kuliah atau kerja?”
“masih kuliah bu” yah aku masih kuliah hampir 6 tahun ini, masa yang diluar batas dimasa kini.
“Dari mana asalnya mas?”
“Saya dari sebuah desa di Jawa Barat”
“kalo saya dari Sumatera”
“oh.. Sudah berapa lama tinggal di sini bu?”
“14 tahun Ibu tinggal disini, suami Ibu meninggal ditahun ke-13, kini tinggalah ibu dengan 2 anak, Ibu harus kuat”
Sejenak aku terdiam, itulah mengapa aku tak pernah melihat sosok seorang bapak dirumah itu. Itulah mengapa si Anak tak pernah panggil “paaak!” itulah mengapa aku lihat ada guratan kesedihan yang masih kentara, baru saja setahun rumah itu ditinggal sosok seorang bapak. Sosok yang menjadi tulang punggun sebuah keluarga. Ibu itu belum terlalu tua, hidup yang harus dilewati masih panjang. Lantas apa doamu ketika melihat hal ini? apakah mendoakan ibunya agar lantas menyusul suaminya, karena kematian adalah salah satu cara selesaikan segala problematika kehidupan. Atau doakan si Ibu agar berumur panjang dan mampu melewati segala cobaan ini. Sungguh kadang terlintas dibenaku, lebih mudah untuk mati dari pada ditinggal mati orang yang kita cintai. Pernah aku dengar, jauh lebih sulit ditinggal suami bagi seorang isteri dari pada ditinggal ayah ibunya. Si Ibu berasal dari pulau seberang, punyakah dia keluarga sedarah ditanah ini?
Langit terlihat mendung, gerimis turun menandakan akan turun hujan. Lantas turunlah hujan, basahi apapun yang berani menghadapinya. Aku tuliskan cerita yang mungkin tak berarti, aku tahu ini tak berarti bagi siapapun. Tapi aku ingin menulisnya, sebagian dari satu kisah pilu, yang menggambarkan pada kita. Hidup tak harus indah.
Standar