Catatan Pendakian

Catatan Pendakian Gn.Lawu 3265Mdpl

(Jangan dibaca!)
Puncak lawu ketika itu.

Puncak lawu ketika itu.

Pagi hari pukul 09.30 (15 Desember 2012) langit Yogyakarta terlihat cerah berawan, ini bulan Desember dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Memang terasa tidak tepat ketika keinginan mendaki gunung datang pada saat musim hujan. Namun keinginan mengalahkan logika resiko, mungkin sedikit keberanian dalam diri yang mendorongku untuk mendaki gunung Lawu hari ini.

Sebelum mandi, saya lakukan packing seadanya. Perlengkapan yang dibawa tidak banyak, carier saya hanya berisi sleeping bag, mie instan 3 bungkus dan pakaian. baru ketika berkumpul bersama kawan-kawan pendakian, carier saya diisi tenda, air minum, dan makanan ringan, kontan carier saya menjadi berat. Pagi itu Ahduy dan Ireh sempat datang ke tempat tinggal saya untuk bicara hal-hal teknis.

Dari Yogyakarta kami ber-9 Saya, Ahduy, Itsed, Alle, Iras, Iref, Okin, Ireh & Aiz berkendara motor menuju basecamp Cemoro Sewu Kab. Magetan Jawa Timur. Rencananya kami mendaki Gn.Lawu melewati Cemoro Sewu dan turun melalu Cemoro Kandang, satu pendakian dua jalur terlewati. Dipejalanan ketakutan kami dari awal tentang hujan memang terjadi, sampai di Klaten hujan turun. Ketika di Solo hujan turun dengan sangat deras, beberapa jalan yang kami lewati tergenang air, sepatu saya meski ber-fitur watter proof tetap saja air masuk melalui atas sepatu, hal ini malah membuat air bergenang dalam sepatu (Banjir Lokal). Diantara kami ber-9 pada dasarnya tidak ada yang tahu rute menuju basecamp dan rute pendakian, Ahduy dan saya yang merencanakan pendakian ini. Saya mengandalkan GPS untuk sampai basecamp, ketika pendakian walaupun jalan cukup jelas saya tetap menggunakan GPS untuk memastikan kami tidak tersesat.
Saya dan Ahduy

Saya dan Ahduy

Sekitar daerah Tawangmangu, saya berhenti sejenak untuk melihat GPS memastikan kami tidak tersesat. Hal ini diikuti oleh kawan-kawan lain, Ahduy dan Alle dengan satu motor berhenti tepat didepan saya, mungkin karena pijakan kaki Ahduy yang kurang pas motor terguling, kopling motor Ahduy patah. Aku melihat dia tetap santai saja, tak ada kepanikan. Beruntung kita berhenti tepat didepan bengkel motor, Lantas Ahduy langsung mengganti kopling motornya. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan, perjalanan dengan pakaian kuyup dan udara dingin menusuk.
Sekitar pukul 17.00 saya sampai di tempat parkir tidak jauh dari basecamp Cemoro Kandang, seluruh pakaian kami basah, saya menggigil ketika itu, saya mengerluarkan pakaian hangat cadangan saya dari carier, namun sial pakaian cadanganpun ikut basah terkena hujan. pakaian cadangan tetap saya gunakan setidaknya bisa kering di badan, lagi pula saat pendakian suhu badan akan panas karena terus bergerak.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perjalanan malam

Di basecamp tempat kami memarikir motor, Ahduy baru tersadar bajunya hilang, dugaan kami tertinggal di bengkel tadi. Setelah minum kopi hangat dan menyempatkan shalat Magrib, pukul 18.30 kami mulai pendakian dari Cemoro Kandang, jalanan didominasi bebatuan, cukup lebar dan jelas untuk ukuran track pendakian. Sekitar 300m dari pos 5 kami menemukan sebidang tanah landai, karena kondisi sudah sangat lelah kami berhenti ditempat itu. Saya dan Ahduy mendirikan tenda, Okin dan yang lainnya mencoba membuat api meski tidak berhasil karena kayu basah terkena hujan. Alle, Itsed dan Iras membuat makan dan minuman hangat, meksi kondisi sudah sangat melelahkan kami masih bisa saling bahu membahu menyelesaikan segala pekerjaan.

Setelah tenda berdiri, makan dan meminum minuman hangat sekitar pukul 03.00 pagi kami bergegas tidur. 3 perempuan tidur dalam satu tenda kapasitas 4 orang, kami ber-6 tidur dalam tenda kapasitas 6 orang, kami tidur berhimpitan meski terasa kurang nyaman tapi membuat suhu lebih hangat. Baru sekitar setengah jam saya tertidur mata saya kembali terbuka setelah mendengar suara berisik orang-orang, saya agak merasa khawatir karena barang-barang kami sebagian diluar. Saya sempat mengintip keluar, dan tak melihat siapapun didepan tenda kami.  Sekitar pukul setengah enam, seorang dari kami keluar, saya yang masih tersadar langsung mengikuti, yang lain rupanya ikut terbangun dan bargabung diluar untuk bersiap-siap melanjutkan pendakian. Setelah diluar baru saya mengerti ternyata suara bersisik yang membangunkan saya barusan berasal dari tenda sebelah tidak jauh dari tempat kami camp.
Kegiatan Pagi Hari

Kegiatan Pagi Hari

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pemandangan pagi itu.

Kami sempatkan membuat minuman hangat pagi itu, sengaja tidak membuat makanan karena kami berencana makan nasi pecel di Sendang Drajat (Lokasi capm dekat puncak), pukul 07.30 kami melanjutkan perjalanan. Sampai di Sendang Drajat kami memesan nasi pecel, nasi pecel yang sangat pedas untuk ukuran saya. Setelah menyelesaikan urusan perut, perjalanan menuju puncak dilanjutkan, perjalanan tidak terlalu jauh dari Sendang Drajat. Sampai dipuncak kurasa udara cukup hangat disini, pemandangan cukup nyaman, angin berhembus tidak terlalu kencang cukup untuk membuat kami menjadi (seolah-olah) model sampul majalah (Trubus). 😀
Foto bersama di Puncak

Foto bersama di Puncak

Tentu, Pastinya, kami melakukan ritual sakral pemuda saat kami dipuncak, yaitu “foto-foto”. Saya mengucapkan selamat kepada seluruh kawan-kawan pendakian saya, biasa kami beramah tamah dengan pendaki lain yang kebetulan bertemu dipuncak, manfaat langsungnya adalah kami bisa minta tolong untuk difotokan. Senyum lebar menghiasai wajah kami, inilah puncak yang selalu diidamkan oleh setiap pendaki, puncak yang menjadi tujuan perjalanan namun bagi saya bukan tujuan segala-galanya dari pendakian, seluruh proses pendakian dari perencanaan sampai evaluasi adalah bagian-bagian yang tidak bisa terpisahkan, semua bagiannya adalah pelajaran. puncak hanya pembuktian bahwa kita telah berhasil mengalahkan “keluh kesah” selama proses pendakian. Puncak gunung adalah kebanggan namun takan menjadi cerita menarik ketika kita pulang dengan membawa luka, atau bahkan binasa. Kami menyadari bahwa jalan masih panjang.
Sindang Drajat

Sindang Drajat

Jalanan

Jalanan

Puas dengan puncak, kami lanjutkan perjalanan menuju basecamp Cemoro Kandang, Meski peta track yang harus kami lewati sudah tersimpan didalam aplikasi Orux Map (aplikasi berbasis Android) namun kenyataanya jalur yang kami lalui ketika itu berbeda dengan peta track ber-GPS, kami tidak merasa risau, karena jalanan cukup jelas dan tidak ada tanda-tanda kami tersesat. Seletah berjalan sekitar 2 jam, jalanan agak sedikit membingungkan, kami terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mendahului kelompok belakang, saya dan Ahduy berada dikelompok depan, saya minta Ahduy berhenti sejenak menunggu kawan kami yang tertinggal, setelah ditunggu sejanak tak kunjung tiba kami berteriak memanggil, tidak ada jawaban, berteriak kembali, namun tak ada jawaban kembali, kesal juga rasanya lantas saya berteriak “kalo dengar panggilan tolong jawab!” tetap tak ada jawaban.
Khawatir juga rasanya, takut terjadi hal yang tidak kami inginkan. baru sekitar 20 menit kemudian terdengar jejak langkah, lantas kawan kami yang tertinggal muncul. lega rasanya, Ahduy bertanya kenapa mereka tidak menyahut panggilan kami, mereka bilang tidak mendengar teriakan kami, sempat terjadi debat antara Ahduy dan Itsed dengan masih terdengar nada canda,  Itsed katakan pada kami untuk tidak egois hingga tak memikirkan kami yang tertinggal, Ahduy bernada tidak terima dinilai egois. Aku hanya diam, sambil mencermati debat mereka. Tak lama berselang 2 orang pendaki lewat, kami saling sapa.
“Cemoro kandang ini yah mas jalannya?”
“Iyah mas, masnya sudah pernah lewat sini?”
“Belum mas”
“Wah kalo belum, mending lewat jalan yang besar aja mas.”
“wah ini bukan jalan yang besar yah mas?.”
“Bukan, sebelah sana jalan yang besarnya.” Salah satu pendaki tersebut menjawab sambil menunjukan arah.
“Kira-kira kami boleh gak mas ngekor dibelakang masnya?” Meski Ahduy cukup yakin dengan track kami, saya ambil cara aman dengan mengikuti orang yang sudah faham jalan.
“Oh boleh-boleh mas.”
Kami mengikuti langkah dua orang pendaki tersebut, diakhir saya menyadari banyak terbantu sekali oleh kedua orang baik ini. Kedua orang itu tinggal di Tawangmangu, satu orang terbiasa mendaki Lawu, satu orang lagi merupakan pendatang berasalah dari Jawa Timur yang bekerja di Tawangmangu, dia sama seperti kami, kali pertama mendaki Lawu. Saya dapat informasi dari Ahduy, setelah dia berbincang-bincang dengannya, mereka memiliki misi dalam pendakian ini, misi yang berbatu mistis.  Mistis saya artikan dalam hal ini merupakan sebuah Kearifan Lokal, yang kadang memang tak masuk diakal orang-orang perkotaan yang serba material (Materialistis). Saya suka dengan tradisi lokal yang mengajarkan kearifan hidup menghasilkan orang-orang berbudi pekerti, kearifan hidup mereka terlihat dari sikap tolong menolong tanpa mengharap pamrih, sikap yang sulit kita temui diperkotaan, diperkotaan hanya ada sikap “bayar dibayar”, Siapa mau ditolong diharus bayar, siapa mau menolong dia pasti mengharap untuk dibayar (ket: mengandung majas generalisasi). Kearifan mereka akan terlihat dalam cerita saya selanjutnya.
Pending saya buka! Tok,, tok,, tok,, trimaksih..
(Bersambung… )
(Tokoh-tokoh diatas menggunakan nama sedikit samar-samar)
Iklan
Standar
Catatan Pendakian

Catatan Pendakian Gunung Rinjani (3726MDPL)

Hari I

Pagi hari buta pukul 4.00 kami sudah terbangun, packing sudah dilakukan dimalam hari, tenda sudah disewa di kota mataram tepatnya di dekat jembatan Ampenan, sehingga pagi ini tinggal mempersiapkan hal-hal kecil, ketika persiapan beres kami bergegas dari desa Karang Buaya brangkat menuju terminal Mandalika dengan Taxi, ongkos sekitar Rp.20.000,-. Dari terminal naik kendaraan yang disebut oleh orang lombok “Engkel” menuju pasar Aikmal, perjalanan sekitar 2 jam dari kota Mataram.

Di pasar Aikmal sempat sarapan, kerena kebetulan ada banyak warung nasi bungkus disana. Biasanya para pendaki Rinjani membeli logistik di pasar ini dari mulai mie instan, buah-buahan hingga sayuran. Dari pasar ini lanjut perjalanan dengan mobil Pickup L300 menuju bascame pendakian di Sembalun Lawang, kami duduk diatas tumpukan karung beras karena mobil ini digunakan sebagai alat angkut barang, perjalanan berlangsung sekitar 2 jam dengan jalan berkelok menanjak diwarnai pesona alam pegunungan yang mempesona.

Pukul 1o kami tiba di Sembalun, langsung melakukan registarsi di pos pendaftaran, beruntung sopir L300 mau mengantarkan kami sampai basecame, karena itu saya bayar dengan uang Rp.20.000/orang (Ongkos biasa Rp.10.000-15.000)  sampai di basecame tanpa basa-basi langsung melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Saya mengandalkan Smartphone ber-GPS untuk membantu navigasi pendakian. Smartphone Android saya instal aplikasi Orux Map satu-satunya aplikasi trecking yang berhasil saya masukan peta jalur pendakian berformat .GPX yang saya dapatkan di link: http://en.wikiloc.com/wikiloc/view.do?id=250481 kelengkapan alat ini yang memberanikan kami untuk tidak memakai Guide ataupun Porter.

Baru sekitar 1km berjalan hujan turun, saya langsung memakai jaket dan celana anti air, Rahmat kawan seperjalanan saya menggunakan jas hujan, Keril satu yang dipakai kawan saya tanpa rain cover kami tutupi dengan kantung kresek besar. Hujan menemani perjalanan kami sekitar satu jam, sebelum sampai pos I hujan sudah berhenti. Di perjalanan kami banyak bertemu pendaki lain yang didominasi turis asing, barkali-kali kami disusul mereka.

“Wajar mereka bawa porter, jadi barang bawaannya sedikit”  itu kata-kata yang membesarkan hati kami.

Baca lebih lanjut

Standar