Buku Saya, Just Write, Pemikiran, Politik

Menjadi petani, kenapa tidak?

“When we think about threats to the environment, we tend to picture cars and smokestacks, not dinner. But the truth is, our need for food poses one of the biggest dangers to the planet.” -Jonathan Foley (National Geographic)

Majalah National Geographic, bulan Mei 2014, menulis tentang 5 langkah rencana untuk memberi makan penduduk bumi. Tulisan itu berangkat dari prediksi populasi manusia tahun 2050 meningkat menjadi 9 miliar orang. Artinya, akan ada lebih dari dua miliar mulut untuk diberi makan di pertengahan abad ini. Melihat kecenderungan masyarakat di negara berkembang yang mulai lebih menyukai makanan dari hasil peternakan, menjadikan prediksi kebutuhan akan hasil pertanian meningkat menjadi dua kali lipat. Kebutuhan akan makanan ini adalah salah satu ancaman terbesar umat manusia di muka bumi. Saya akan ringkas tentang 5 poin yang dituliskan di atas.

Langkah pertama, Hentikan perluasan lahan pertanian
Sejarah banyak menceritakan ketika kita membutuhkan lebih banyak makanan, dengan mudah kita membabat hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Tindakan ini menyebabkan rusaknya ekosistem namun tidak merubah fakta bahwa masih ada 850 juta orang kelaparan di muka bumi.

Langkah kedua, Dapatkan hasil pertanian yang lebih banyak dari lahan yang tersedia
Kita dapat fokus untuk mencari cara meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang sudah ada. Banyak terjadi “yield gaps” atau kesenjangan produktivitas antara produktivitas lahan saat ini dengan kemungkinan produktivitas lahan jika sistem pertanian diperbaiki. Yield-gaps banyak terjadi di Afrika, Amerika Latin dan eropa timur. Tidak menutup kemungkinan yield-gaps ini terjadi di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah perbedaan teknologi  yang dimiliki oleh petani. Dengan menggunakan teknologi pertanian terbaru dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Sebagai bayangan, lebih efektif menggali tanah dengan cangkul dari pada dengan tangan, lebih efektif membajak lahan dengan bajak dari pada dengan cangkul. Baik cangkul dan bajak merupakan teknologi, hanya saja saat ini sudah ada teknologi terbaru yang lebih efektif dan efisien. Di Scott City, Kansas, pertanian Vulgamore memanen lahan hingga 25 hektare setiap jamnya dengan menggunakan peralatan modern. Mampukah itu dilakukan oleh cangkul? Teknologi terbaru seperti teknologi pembibitan, mesin pertanian, pemupukan atau lainnya merupakan hal yang perlu diperhatikan. Untuk itu pendidikan adalah kunci dari semua ini, kita punya IPB untuk apa? (juga UII, almamater saya soalnya) 🙂

Langkah ketiga, gunakan sumber daya lebih efisien
Tahukah anda? Pertanian adalah penyumbang pemanasan global terbesar melebihi seluruh mobil, truk, kereta dan pesawat digabungkan sekaligus. Pertanian juga merupakan pengguna air terbesar dan tentunya penyebab pencemaran air misalnya dari pupuk yang tercecer. Pembabatan hutan untuk pertanian juga mengancam eksistensi hewan liar. Tentu saja pertanian membutuhkan berbagai macam resources untuk dapat berjalan dengan baik seperti tanah, minyak, bahan kimia, air dan lainnya. Tapi perlu dicermati akan ketersediaannya, perlu sebuah inovasi untuk mengefisienkan sumber daya ini.

Langkah keempat, Diet
Saat ini hanya 55% dari kalori nabati yang dihasilkan pertanian global langsung dikonsumsi oleh manusia. selebihnya sekitar 36% dikonsumsi oleh peternakan, dan 9% digunakan untuk produksi biofuel dan industri. Lantas apa masalahnya? Begini masalahnya, setiap 100 kalori nabati yang digunakan untuk memberi makan hewan ternak kita hanya menghasilkan 40 kalori baru dari susu, 22 kalori dari terlur, 12 kalori dari ayam dan 3 kalori dari daging. Sehingga, jika lebih banyak lagi kalori nabati yang langsung dikonsumsi manusia akan meminimalisir hilangnya kalori hasil pertanian. Hal ini sangat tergantung pada demand atau permintaan pasar. Jika orang-orang lebih suka tempe dari pada daging, ini akan sangat membantu. Di Indonesia tentu ini sudah berlaku, dimana lebih banyak orang makan tempe daripada daging, tapi seiiring semakin sejahteranya penduduk kita, permintaan daging terus bertambah. Terbukti belakangan ini negara kita banyak impor daging. Pola hidup diet seperti seorang vegetarian akan membantu menyelesaikan persoalan kebutuhan makanan kita dimasa depan.

Langkah kelima, kurangi sampah
Kira-kira sekitar 25% dari kalori makanan dunia dan sekitar 50% dari total berat makanan dunia menjadi sampah sebelum dapat dikonsumsi. Sampah ini disumbangkan oleh rumah, restoran, super market, atau dibeberapa negara miskin disebabkan oleh buruknya penyimpanan makanan dan jalur transportasi yang menghubungkan antara petani dan pasar. Teknologi pengawetan makanan dapat menjadi solusi.

Seluruh data dari 5 poin di atas saya ambil dari majalah National Geographic, dan beberapa penjelasan berdasarkan interpretasi saya. Untuk lebih jelasnya silahkan baca sendiri majalah tersebut.

Poin-poin di atas bukan merupakan pekerjaan yang mudah, perlu andil pemerintah dan masyarakat seluruhnya, baik kalangan produsen maupun konsumen. Pemerintah harus punya andil memajukan pendidikan bangsa, menyerap teknologi dari negara maju sehingga dapat dikembangkan di dalam negeri. Kalangan produsen harus mulai berfikir untuk dapat bersaing dengan produsen global. Kalangan konsumen tentu harus mulai cerdas mempertimbangkan apa yang dia konsumsi, sehingga meskipun hanya mengkonsumsi, secara tidak langsung dia membantu kehidupan orang lain dan menjaga kelestarian lingkungan tempat kita hidup.

Menjadi Petani
Ketika disebutkan kata “petani” selalu melekat di benak kita sebuah kehidupan yang berat, seorang dengan kulit hitam dan berlumpur dengan tingkat pendidikan yang rendah. Banyak masyarakat perkotaan bahkan pedesaan yang menganggap menjadi petani adalah pekerjaan yang memalukan, sadar tidak sadar, di benak beberapa orang tertanam pendapat semacam itu. Padahal petani adalah orang yang berjasa untuk kita dapat beribadah, belajar, bekerja, bermain, meminum kopi (tentu saja) atau melakukan aktivitas menyenangkan lainnya. Apakah ada seorang yang bekerja sebagai manajer di perkantoran sekaligus dia juga membajak sawah untuk makannya sendiri?

Meskipun besar jasa petani, kita memang banyak menyaksikan tentang rendahnya tingkat pendidikan para petani. Hal ini disebabkan karena rendahnya kesadaran akan pendidikan pada masyarakat pedesaan yang notabene sebagai petani. Dan satu hal lagi, banyak kaum terpelajar di bidang pertanian justru tidak menjadi petani. Lantas apakah saya yang sarjana teknik harus menjadi petani? ataukah anda seorang ekonom, ahli hukum, psikolog, dokter, atau profesi lainnya yang harus menjadi petani? atau siapa?. yang jelas adalah, bahwa pekerjaan ini (bagi saya) masuk sebagai pekerjaan yang mulia. Apalagi punya peluang yang besar di masa depan. Jika sampai terjadi krisis pangan, maka petani adalah orang yang cukup berkuasa. Seperti saat ini, meskipun hanya desas desus bahwa ketersediaan minyak menipis, negara yang memiliki minyak cukup diperhitungkan. Seperti ketika, sulit menemukan orang yang dapat dipercaya, maka orang yang dapat dipercaya adalah berlian diantara batu hitam yang tak berharga.

Standar
Buku Saya, Kisah tentang Hidup

Buku Grammar Rusak

Akhir-akhir ini saya sedang bersemangat belajar grammar bahasa Inggris. Itu karena saya merasa ada tuntutan untuk dapat memahami dan menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Bosan rasanya jadi orang yang biasa saja dalam menggunakan bahasa satu ini, ada keinginan untuk menjadi The Great User of English Langguage (maksudya pintar dalam berhasa inggris) suatu keinginan yang cukup terlambat. Meskipun sebelumnya, kita pernah dituntut untuk dapat berbahasa inggris, entah di sekolah atau di kampus, namun rasanya belum tuntas, ada beberapa bacaan yang belum dapat saya pahami maksudnya, parameter paling jelas adalah ketika menonton filem Holywood, pastilah subtitle masih dibutuhkan. Itu artinya saya belum tuntas dengan urusan satu ini.

Satu hal yang cukup membantu dalam urusan ini adalah buku Essentials of English Grammar karangan Fuad Mas’ud. Karena merasa cukup terbantu saya doakan Bapak Fuad Mas’ud diberikan pahala berlimpah dan umur panjang oleh Allah SWT atas jasanya membuat buku ini. Orang berilmu macam Bapak Fuad Mas’ud harus dipanjangkan umurnya oleh Allah SWT sebagaimana orang-orang berilmu lainnya, apalagi orang yang berilmu dan dengan ilmunya membawa orang tersebut pada kebaikan dirinya sendiri. Apa jadinya umat manusia jika orang-orang berilmu umurnya pendek?

Buku ini cukup menarik karena memiliki isi yang cukup lengkap tentang gramatika bahasa Inggris. Penjelasan cukup ringkas dan jelas, disertai contoh-contoh yang diperlukan tanpa disertai latihan-latihan tetek bengek seperti pada buku-buku grammar bahasa inggris disekolahan. Ada teknik khusus yang ingin saya bagi pada sidang pembaca tentang bagaimana saya membaca buku ini. Pertama, saya membaca secara keseluruhan isi buku dengan cepat, hanya untuk memahami tentang poin-poin dalam gramatika bahasa Inggris. Misalkan tentang The Part of Speech bagian Adjective, saya cukup fahami apa itu Adjective, digunakan untuk apa dan membaca sedikit contoh, setelah dapat poinnya lanjutkan ke bagian selanjutnya. Kedua, setelah membaca keseluruhan isi buku, saya melakukan uji coba pemahaman menggunakan software simulasi Toefl (NST Electronic Publishing) dan hasilnya jauh dari rasa puas. Dari ketidakpuasan saya kembali membuka dan membaca dengan cermat bagian-bagian tertentu yang berkaitan dengan soal yang disuguhkan oleh software tersebut. Karena semangatnya, buku itu sering saya bolak-balik, melompat dari bagian satu kebagian lainnya, sehingga ada bagian-bagian kertas yang sobek, kusut sudah pasti. Beberapa bagian saya corat-coret untuk menandai hal yang penting. Langkah kedua diatas membantu saya untuk memahami konteks dari teori-teori yang disuguhkan oleh buku karangan Bapak Fuad Mas’ud.

Satu ketika sedang enak belajar, ada pesan masuk melalui Facebook.

“Apa kabar bang?” seorang kawan mengirimkan pesan.

“Baik-baik.” saya jawab.

“Apa agenda selanjutnya bang?”

“Agenda siapa nih?” saya bertanya balik.

“Agenda abang lah.”

“Oh.. lagi belajar aja nih, belum ada pekerjaan yang berarti.” Ma’lum pengangguran.

“Wah, abang masih belajar juga.”

“Belajar sampai liang lahat.” Balasku.

“Wah kirain orang pintar gak perlu belajar,hehe.. “

Batinku bertanya-tanya tentang apa yang telah aku lakukan sampai dibilang pintar begitu.

Belajar memang enak, itu mengapa ketika seorang sedang belajar kemudian merasa terganggu, dia akan berkomentar: “Enak-enak belajar malah diganggu!”

Baiklah, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bernilai. Ini hanya karena saya sedang penat dengan aturan-aturan dalam Grammar bahasa Inggris, bolehlah saya membuat tulisan sekehendak hati saya saja.

Standar
Buku Saya

Sebuah Novel Roman karya Pramoedya Ananta Toer berjudul “Larasati”

Judul Buku                         : Larasati

Pengarang                          : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                              : Lentera Dipantara

Tahun Terbit                     : 2000

ISBN                                     : 9799731295

Kata-kata dingin menusuk sanubari, membangkitkan semangat  untuk membangun bangsa Indonesia. Mungkin itu yang kita dapat dari membaca novel-novel karangan Pram. Novel Larasati karangan Pram ini mengambil setingan masa Revolusi perjuangan bersenjata 1945-1950 memberikan banyak gambaran pada kita tentang betapa beratnya perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan.

Tidak seperti dalam buku-buku sejarah yang mengulas perjuangan pasca kemerdekaan, yang kebanyakan dilihat dari sudut pandang para sejarawan, Pram menceritakan masa-masa itu dari sudut pandang seorang bintang Film terkenal.

“Ara” pangilan “Larasati” tokoh utama dalam novel ini melakukan perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta untuk menemui Ibunya yang selama bertahun-tahun tidak bertemu, dalam perjalanannya banyak bertemu dengan orang-orang dimulai dari kake-kake Invalid, Pemuda yang mencurigakan, Opsir Belanda hingga para pejuang Republik yang mengagumi kecantikan Ara, hingga Ara memberikan selendangnya untuk memberikan dukungan pada Pejuang tersebut.  Setibanya di Jakarta keadaan menjadi sangat sulit. Ara yang dulu seorang bintang Film Propaganda Belanda sekarang ikut berjuang dalam Revolusi Indonesia.

Dalam novel ini kita dapat membedakan mana Pejuang yang mana Penjilat. Kita dapat mengetahui bukan saja para Tentara yang berada di garis terdepan peperangan, tapi banyak pihak yang membantu Revolusi, para petani  dan pemasak yang menyediakan makanan, para perawat hingga Ara pemain sandiwara yang melakukan perjuangan dengan caranya sendiri.

Dengan mengambil sudut pandang seorang Artis, saya pikir justru kita akan hanyut pada suatu objektivitas atau keluguan pandangan akan suatu hal, Pram dengan bebas menggambarkan bahwa belum tentu para pemimpin tertinggi Revolusi itu adalah Pahlawan sejati untuk bangsa ini, karna bisa jadi bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang menginginkan kekuasaan dengan mengorbankan rakyak untuk berjuang hingga mati dengan darah tercecer. Setelah kursi empuk kekuasaan dan kekayaan didapat, maka lupa sudah pada perjuangan rakyat.

Mungkin hal ini bisa menjadi gambaran untuk kita saat ini, betapa orang-orang tua yang duduk berkuasa masih mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dari jerih payah Rakyat. Padahal Tan Malaka menulis dalam bukunya “Madilog” bahwa rakyat itu adalah tulang punggung bagi bangsa, walau bangsa ini punya otak yang jenius dan otot yang kuat, tanpa tulang punggung takan bisa berdiri, walau bisapun takan lama jatuh lagi.

Standar