Pemikiran

Jama’ Salat bagi Pengantin, bolehkah?

Oleh: Erdania Ratna Ningrum (1303787)

Islam merupakan hukum yang berdasarkan dari wahyu Allah SWT. Sumber hukumnya yaitu Al-Qurán dan Sunah. Dalam menetapkan hukum-hukum Islam Allah selalu memperhatikan kemampuan manusia dan tidak pernah memberatkannya, Dia selalu memberikan kemudahan ketika seorang manusia mengahadapi kesulitan. Allah SWT tidak pernah memberikan beban bagi hambanya dalam beribadah, Dia selalu memberikan keringanan (rukhsah) kepada orang yang mempunyai halangan untuk melakukan salat dengan cara jama` dan qashar juga mengqadha salatnya.

Menjama’ salat hanya boleh dilakukan oleh seseorang yang memang memiliki udzur, tidak boleh dilakukan sembarangan atau terus menerus.

Para ulama berpendapat bahwa menjama’ salat diperbolehkan dalam beberapa kondisi berikut:

bahaya (takut), Safar (bepergian), sakit, hujan, haji, selebihnya, mereka berbeda pendapat. Inilah adalah syariat yang memudahkan, walau bukan berarti mempermudah semuanya tanpa ada petunjuk yang jelas.

Fenomena ini dapat kita lihat ketika berlangsungnya sebuah pesta pernikahan. Dimana sepasang pengantin menjadi raja dan ratu sehari, mereka sibuk menyambut tamu yang berdatangan dan berdandan dengan serba mahal. Hal ini membuat tidak sedikit diantara mereka yang meninggalkan salat.

Islam menganjurkan untuk mengadakan pesta pernikahan. Hal ini bertujuan untuk mengekspresikan kebahagiaan dari kedua mempelai. Juga agar khalayak ramai mengetahui pernikahan itu dan juga agar dapat membedakannya dengan zina, juga untuk menghindari adanya fitnah. Meskipun pada prinsipnya Islam melarang jika diadakan dengan berlebihan, yang akhirnya membuat sebagian hak dan kewajiban menjadi terlupakan. Padahal nikah prinsipnya adalah sebuah ibadah, sejatinya hanya mengharap pahala dan ridho-Nya, tetapi ternyata dihari itu banyak dosa. Sehingga bagaimana akan mendapatkan sakinah, mawadah, dan warahmah.

Syarat-syarat menjama’ Salat

Manhaj salaf berpendapat bahwa diperbolehkan untuk menjama’ salat hanya karena beberapa hal sebagai berikut:

  1. Sedang dalam perjalanan. Pendapat ulama berbeda-beda tentang batas jauh perjalanan diperbolehkannya menjama’ salat. Ada sebagian daripara ulama yang menyatakan bahwa apabila jarak yang ditempuh adalah selama tiga hari perjalanan, sebagian lain menyatakan bahwa apabila jaraknya ditempuh selama dua hari, sebagian lain juga menyatakan selama satu hari satu malam. Pendapat yang insya Allah mendekati pada kebenaran dalam masalah ini adalah tidak adanya batasan tertentu, yang penting adalah apabila seseorang yang melakukan suatu perjalanan itu membutuhkan perbekelan, maka baginya diperbolehkan untuk menjama’ Tetapi untuk kehati-hatian, tidak apa apabila seseorang menjama’ salatnya dengan batasan jarak yang telah dinyatakan oleh mayoritas dari para ulama, yaitu 85km.
  2. Ketika hujan deras. Imam sebaiknya menjama’ salat apabila turun hujan deras ketika sedang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut berdasarkan beberapa atsar para sahabat, salah satunya adalah sebagai berikut:

Dari Hisyam bin Urwah: “Ayahnya, Urwah, Sa’id bin Musyyab, dan Abu Bakar bin ‘Abdurrahman bin al-harits bin Hisyam bin Mughairah al-Makhzumi, mereka semua pernah menjama’ salat Magrib dan Isya pada suatu malam yang diguyur hujan. Mereka menjama’ kedua shalat dan tidak ada yag mengingkari hal tersebut.” (Hadis Sahih Riwayat Baihaqi )

  1. Orang yang sedang sakit diperbolehkan untuk menjama’ salatnya apabila ia sangat merasa kesulitan apabila tidak menjama’ salatnya, misalnya merasa lemah dan lelah. Hal ini bersarkan firman Allah SWT:

يرِيدُ اللهُ بكمُ اليسرَ وَلاَ يرِيدُ بكمُ العسرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(Q.S. Al-Baqarah: 185)

  1. Jemaah haji yang berada di Arafah dan Muzdalifah. Para ulama menyepakati bahwa apabila sedang berada di Arafah maka hendaklah untuk menjama’ salat Zuhur dan Asar, sedangkan apabila sedang berada di Muzdalifah maka hendaklah untuk menjama’ salat Magrib dan Isya. Ini merupakan Sunah Rasulullah SAW.
  2. Karena ada keperluan yang mendesak. Keperluan yang dimaksud disini adalah suatu keperluan yang apabila tidak dilaksanakan maka akan berdampak pada keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya.

Analisa

      Pernikahan adalah Sunah rasul dan hendaknya untuk diumumkan serta diberitahukan kepada masyarakat. Islam sangat menganjurkan untuk mengadakan persta pernikahan bahkan walaupun hanya dengan memotong seekor kambing. Hal ini bertujuan untuk mengekspresikan kebahagiaan dari kedua mempelai. Juga agar halayak ramai mengetahui pernikahan itu dan juga agar dapat membedakannya dengan zina, juga untuk menghindari adanya fitnah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:

Umumkan pernikahan! (Hasan: Sahih Ibnu Majah no:1537 dan Sahih Ibnu Hibban hal. 313 no:1285).

      Rasulullah SAW pernah mengadakan walimah untuk Shafiyah dengan hidangan yang sangat sederhana. Dengan mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimahnya. Tidak ada daging dan roti di dalam walimah itu. Yang ada hanya beliau membentangkan tikar kulit, yang kemudian diletakkan di atasnya buak kurma, susu kering, dan samin.”(Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari).

Rasulullah SAW juga menyuruh agar sebuah pernikahan diberitahukan secara terbuka. Diramaikan dan digembirakan dengan bermacam cara. Selain Rasulullah SAW menyuruh untuk mengadakan walimah, Rasul juga menganjurkan untuk kita menghadiri suatu pesta pernikahan. Ulama menyatakan bahwa mendatangi suatu walimah adalah fardu kifayah. Sebagian ulama mengatakan fardu ‘ain. Yang berarti setian individu yang mendapat undangan wajib untuk menghadirinya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

“Dari Ibnu Umar r.a dari Nabi SAW bersabda: “Apabila seseorang mengundang saudaranya, hendaklah saudaranya itu memperkenankannya, baik undangan itu untuk walimah al-`urs atau yang lainnya. (HR. Imam Muslim dan Abu Daud).

Sudah merupakan tradisi bagi masyarakat Indonesia bahwa acara pernikahannya sakral dan berkesan, hingga menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Hal ini menjadi tren bagi sebagian orang. Namun sayangnya banyak pengantin yang secara sadar meninggalkan salat fardu dengan alasan sibuk dalam melayani tamu dan juga terlalu repot karena dandanan mereka yang serba mahal. Alasan itulah yang dijadikan alasan untuk menjamak dan mengqadha shalat.

Berdasarkan penjelasan tentang syarat-syarat jamak sebelumnya, tidak ada ulama yang mengatakan bahwa kesibukan pengantin pada resepsi pernikahan dapat dijadikan sebagai illat (alasan) untuk menjama shalat. Diseutkan pada kaidah fiqh:

“Hukum itu berputar bersama ilatnya”

Berdasarkan dari kaidah tersebut, apabila terdapat ‘ilat maka terdapat hukum, dan sebaliknya apabila tidak ada ‘ilat maka tidak ada hukum. Maka dari itu, pasangan pengantin yang sibuk dalam resepsi pernikahan untuk menyambut tamu dan juga mengikuti acara tersebut sampai sore hari, serta karena dandanan mereka yang mahal, tidak dapat untuk dijadikan ‘ilat untuk menjamak shalat dengan qadha, apalagi qashar.

Kesibukan yang dialami pada sepasang pengantin dalam resepsi pernikahan tidak masuk ke dalam kategori masyaqqah, jadi tidak bisa untuk dihilangkan dengan rukhshah. Ulama ushlu fiqh berpendapat bahwa pada prisndipnya terdapat dua solusi yang diberikan agama dalam menghadapi masyaqqah: pertama, rukhshah yang seperti shalat fardu yang asalnya empat raka’at dijadikan dua raka’at (qashar) apabila sedang dalam perjalanan (safar), kedua, menghentikan taklif, seperti wanita yang bebas tidak melaksanakan shalat wajib bagi mereka yang sedang haidh dan nifas.

Sesungguhnya sudah menjadi kewajiban mutlak bagi manusia unttk mengerjakan shalat fardhu. Apabila tidak mampu berdiri maka lakukanlah dengan cara duduk, apabia tidak mampu duduk maka lakukanlah dengan cara berbaring. Lalu apabila telah merasakan aman, kemudian dirikanlah shalat itu (semampunya). Sebagaimana hadits nabi SAW:

“Dari Imran bin Hashin bahwa ia terkena penyakit bawasir (embeyen), maka ia bertanya kepada rasulullah SAW perihal shalatnya. Rasulullah SAW menjawab: “shalatlah dalam keadaan berdiri, jika engkau tidak mampu maka shalatlah dengan cara duduk, dan jika engkau tidak bisa maka shalatlah dengan berbaring” (HR. Jama`ah kecuali Muslim)

Berdasarkan analisis di atas dapat kita simpulkan bahwa:

Islam memperbolehkan bahkan menganjurkan untuk diadakannya sebuah resepsi pernikahan dengan ketentuan harus sesuai dengan syariát Islam. Dan nabi mengisyaratkan bahwa perlu untuk mengumumkan pernikahan kepada khalayak ramai agar dapat membedakannya dengan zina, juga untuk menghindari adanya fitnah.

Sepasang pengantin yang menjadi raja dan ratu sehari, walaupun sedang diliputi oleh kebahagiaan tetapi jangan sampai mereka melalaikan tujuan utama dari sebuah pernikahan yaitu menggapai rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah. Langkah awal untuk mencapai hal tersebut adalah dengan tidak melalaikan apalagi meninggalkan kewajiban shalat fardhu. Karena kewajiban melaksanakan shalat fardhu merupakan mutlak.

Sepasang pengantin yang tengah sibuk melayani tamu dan berdandan dengan peralatan yang serba mahal, tidak dapat untuk dijadikan alasan (‘ilat) baginya untuk menjamak, qasar, dan mengqadha shalat, karena alasan kondisi tersebut tidak masuk ke dalam kategori masyaqqah untuk mendapatkan rukhshah.

Solusi yang bisa digunakan dalam masalah ini adalah dengan menahan air wudu agar tidal batal, karena pada hakikatnya shalat akan tetap sah dilaksanakan walaupun dengan menggunakan riasan asalkan mempunyai wudu dan suci dari hadats. Salah satu cara untuk menahan wudu adalah dengan tidak bersentuhan dengan tamu lawan jenis, cukup dengan bersalaman tanpa harus menyentuh tangan. Tayamum? Tayamum boleh dilakukan apabila memang sudah tidak ada air di tempat walimah itu, apabila masih ada maka tidak diperbolehkan untuk melakukan tayamum.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s