Cerpen, Just Write, Kisah tentang Hidup, Pemikiran

Kelor

Ternyata dunia tak selebar daun kelor- Kenapa pula istilah “lebar” dikaitakan dengan daun kelor yang dalam urusan lebar jauh lebih sempit dari daun jati misalnya. Itu adalah salah satu pepatah yang aku tak tau dari mana dan dari siapa pepatah itu berasal. Orang macam apa yang telah melontarkan pepatah itu pertama kali, aku ingin tanyakan mengapa daun kelor yang dipilih sebagai pembanding dunia, bahkan dianggap lebih lebar dari dunia. Apakah dia telah membaca fakta-fakta ilmiah tentang kelor sebelumnya, atau muncul begitu saja secara intuitif. Karena biasanya intuisi lebih dulu dari rasionalitas, intuisi bagaikan bisikan mistis yang memberikan pengetahuan sebelum panca indera kita berhasil mengecapnya. Begitulah pepatah, kadang mengandung kearifan yang jauh lebih besar dari pada makna harfiahnya.

Baik, tinggalkan dulu masalah asal-muasal pepatah itu. Menurut seorang peneliti Michael Lea dari sebuah institusi riset Clearing House-Kanada (aku asal catut) menyebut bahwa pohon kelor pantas dijuluki pohon yang paling berguna di dunia. Jika dilihat dari sejuta manfaatnya baik secara ilmiah maupun gaib, aku sepakat dengan julukan itu. Mitosnya kelor dapat mengusir mahluk halus, atau akan membuat kesakitan jika ditempelkan pada pengguna susuk, benar atau tidak aku belum pernah mencobanya. Kau bisa cari sendiri tentang fakta ilmiah kandungan dan manfaat dari akar, batang, kulit batang, daun, bunga hingga biji. Saat ini banyak lembaga dunia menyarankan penanaman kelor terutama di daerah-daerah yang rawan malnutrisi.

Aku mengenal sedikit lebih jauh tentang kelor ketika secara sepintas melihat tanyangan si Unyil di sebuah TV swasta. Dari sana aku tahu bahwa kelor telah ditanam di atas hektaran lahan, artinya kelor menyimpan potensi ekonomi yang lumayan sehingga pantas dibudidayakan. Mencari referensi lain melalui search engine aku menemukan data yang lebih lengkap tentang manfaat dan kandungan kelor. Karena banyaknya manfaat pada kelor aku tertarik untuk menanamnya.

Menanam kelor aku anggap sebagai salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga kelestarian se-isi bumi. Ketika sore, sepulang dari sungai tempat aku biasa melepas penat aku menemukan jajaran tanaman kelor yang dijadikan sebagai tanaman pagar. Beberapa tumbuh tinggi berdaun tidak cukup lebat, beberapa lagi kering-kerontang namun telah menghasilkan biji yang masih menggantung. Biji itu seperti pohonnya telah mengering mungkin akibat sudah tua dan kekurangan air. Cukup senang melihatnya, karena dengan bijinya aku dapat mendapatkan tanaman kelor dengan akar tunggang yang tertancap dalam di bawah tanah, akar-akar itu akan banyak menampung air dan tidak merebut unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dengan akar yang lebih pendek. Aku berdoa pada Allah SWT, karena hanya dengan kebesarannya sesuatu dapat hidup dan mati dan hanya dengan kemurahannya sesuatu dapat memberikan manfaat.

Aku rendam biji yang telah aku ambil, yang sebenarnya tanpa izin, walau orang desa tidak akan menjadikannya perkara besar. dan dalam keyakinanku, sebenarnya aku membantu menyelamatkan biji ini dari kematian. Semoga tumbuh dengan baik. amin. 🙂

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s